Kamis, 7 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Fokus

Fokus : Mangrove dan Penyelamatan Bumi

Beberapa waktu lalu, Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengatakan bila Jakarta akan tenggelam karena dampak perubahan iklim.

Tayang:
Bram Kusuma
Galih Pujo 

Oleh Galih Pujo Asmoro

Wartawan Tribun Jateng

Beberapa waktu lalu, Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengatakan bila Jakarta akan tenggelam karena dampak perubahan iklim. Dampak dari apa yang dikatakan Biden pada 27 Juli lalu itu masih bergema hingga saat ini.

Apa yang dikatakan Biden itu seolah menghentak semua dan menyadarkan kita akan bahayanya perubahan iklim yang sedang terjadi.

Peneliti Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan riset skenario pada kawasan Pantai Utara Jawa yang potensial tenggelam pada 2031.

Profesor Riset bidang Meteorologi pada Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN Eddy Hermawan mengatakan, berdasarkan laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tentang perubahan iklim, kenaikan muka air laut (rob) secara global sekitar 3 milimeter per tahun.

Angka 3 milimeter per tahun sepertinya tidak terlalu besar. Namun, bila dikombinasikan dengan penurunan muka tanah, hal itu jadi perkara serius.

Menurut Edi, berdasarkan hasil analisis data satelit terkini menunjukkan kawasan pesisir Pantura Jawa mengalami penurunan muka tanah paling tajam. Ia mengatakan, kondisi geologi daerah pesisir dengan tanah yang lembut secara alamiah membuat tanah terus turun.

Kondisi itu terkonfirmasi data Badan Geologi Kementerian ESDM 2019, sebagian besar Pantura Jawa memiliki kondisi geologi tanah lunak. Berbeda dengan kawasan Pantai Selatan Jawa dengan struktur geologi cenderung keras dan padat sehingga jauh lebih aman.

Dari sejumlah kota tersebut, yang mengalami penurunan muka tanah paling tinggi yakni Pekalongan, Semarang, dan Jakarta. Berdasarkan perhitungan laju land subsidence secara vertikal selama periode 2015-2020, Pekalongan dan sekitarnya alami penurunan bervariasi antara 2,1-11 cm per tahun. Kemudian, Semarang dan sekitarnya bervariasi antara 0,9-6,0 cm per tahun. Serta, DKI Jakarta dan sekitarnya bervariasi antara 0,1-8 cm per tahun.

Bila kondisi seperti itu terus berlanjut, kenaikan muka air laut dan penurunan muka tanah terjadi secara konstan, maka 10 tahun mendatang penurunan muka tanah di Pekalongan dan sekitarnya sekitar 21-110 cm.

Bila itu terjadi, tentu akan makin banyak lokasi di wilayah tersebut yang bakal terendam air. Demikian juga dengan Jakarta, Semarang, dan tentunya wilayah pantura lainnya.

Namun pemerintah tentu tidak tinggal diam membiarkan ada wilayah NKRI terancam tenggelam. Satu di antara upaya yang dilakukan adalah penanaman mangrove. Presiden Joko Widodo mengatakan, tahun 2021 ini akan ada rehabilitasi mangrove di seluruh Indonesia seluas 34 ribu hektare.

Terkait pencegahan perubahan iklim maupun abrasi, mangrove atau bakau bisa jadi pilihan utama. Mangrove berperan penting sebagai penyerap emisi karbondioksida. Dalam urusan menyerap emisi karbon, mangrove disebut lima kali lebih efektif dibandingkan hutan hujan ataupun lahan gambut.

Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia. Luasan hutan mangrove di Indonesia mencapai 3,36 juta hektare atau sekitar 20 persen dari total hutan mangrove di dunia.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved