Selasa, 9 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

PON Papua 2021

Ada Insiden Kericuhan PON Papua 2021, Disesalkan Legenda Tinju Indonesia Chris John

Terjadinya insiden kericuhan yang terjadi di venue tinju, beberapa hari lalu, menjadi catatan merah dalam pelaksanaan PON XX Papua 2021.

Tayang:
Editor: moh anhar
facebook
Petinju Indonesia, Chris John. 

TRIBUNJATENG.COM, JAYAPURA - Terjadinya insiden kericuhan yang terjadi di venue tinju, beberapa hari lalu, menjadi catatan merah dalam pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021.

Kericuhan pecah di arena tinju di GOR Cenderawasih, Kota Jayapura, pada Jumat (8/10/2021) malam WIT.

Saat itu, petinju dari kontingen DKI Jakarta, Jil Mandagi dilaporkan menjadi sasaran pemukulan di luar ring tinju.

Pemukulan dikabarkan dilakukan oleh relawan panitia pelaksana pertandingan tinju PON Papua.

Baca juga: Loker Lowongan Kerja Karir Terbaru di Semarang Minggu 10 Oktober 2021

Baca juga: Kembali Dilatih Pelatih Asing, Bek Kanan PSIS Ini Akui Terbantu Pengalaman Menimba Ilmu di Inggris

Baca juga: Rumah Dijual Baru - Bekas dan Tanah Murah Semarang Minggu 10 Oktober 2021

Hal itu terpicu sikap Jil Mandagi yang membanting pintu dan memukul spanduk pembatas lantaran protes terhadap wasit.

Legenda tinju Indonesia, Chris John akhirnya buka suara menanggapi

Chris John menilai seharusnya insiden kericuhan tidak terjadi dalam gelaran PON Papua 2021.

Semua pihak, terutama para atlet dan pelatih harus bisa menahan diri dan mengendalikan emosi ketika berlaga disebuah kejuaraan.

Pria berjuluk The Dragon itu meminta kepada para atlet yang bertanding harus mengontrol emosi dan bersikap sportif saat menang atau kalah.

Ini perlu dilakukan demi nenjaga keharmonisan atau persaudaraan antar atlet yang bertanding.

"Saya berharap petinju bisa lebih menahan rasa emosinya, mereka harus selalu berpikir positif," kata Chris John kepada Tribun Network di arena tinju GOR Cenderawasih, Minggu (10/10/2021).

Menurut Chris John, petinju di Indonesia harus mulai bisa mengendalikan emosinya sendiri.

Saat meraih kemenangan, petinju tidak harus jemawa dan merayakan secara berlebihan.

"Kadang kita saat menang kita berpikir harus bisa mempertahankan sebaik-baiknya. Bisa juga berlatih lebih baik lagi," tambahnya.

Sementara, pada saat menderita kekalahan tidak harus terpuruk dan meluapkan kekecewaan secara berlebihan.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved