Berita Cilacap
Wajah Kampung KB GADIS Cilacap Dipercantik, Kini Jadi Percontohan Tingkat Nasional
Menyandang predikat kampung kumuh tidak membuat warga di Kelurahan Tegalreja Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap, terpuruk.
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: moh anhar
"Dulunya hampir setiap malam, sering sekali anak muda mabuk-mabukan, pacaran, duduk-duduk di rel kereta yang gelap.
Sebenarnya mereka bukan warga asli sini, kebanyakan dari luar wilayah Tegalreja.
Tetapi karena nongkrongnya disini sepanjang rel kereta jadi banyak yang menganggap itu warga kita, sehingga pandangan warga lain sudah buruk," ujarnya kepada Tribunjateng.com, Kamis (7/10/2021).
Perlahan kehidupan warga Tegalreja berubah, seiring dengan usaha memanfaatkan potensi yang dimiliki.
Sejumlah bantuan peralatan diberikan CSR Pertamina seperti, lima alat bertanam ala hidroponik, lima gerobak untuk berjualan, mesin jamu, hingga mesin pencacah sampah.
Baca juga: Hasil Tinju Tyson Fury Vs Deontay Wilder, The Gypsy King Tumbangkan The Bronze Bomber
Baca juga: Suguhkan Pemandangan Air Terjun Cantik, Curug Serwiti Jadi Tujuan Pengunjung Guci Tegal.
Bukan hanya alat-alat berupa mesin, pembekalan dan berbagai pelatihan hampir setiap dua bulan sekali diberikan.
Bantuan dari CSR Pertamina itu bukannya tanpa alasan, warga diberikan pelatihan agar sedikit demi sedikit terlepas dari berbagai persoalan sosial.
Contohnya bagaimana mengelola sampah rumah tangga dengan baik supaya lingkungan tidak kumuh.
"Dengan didukung alat-alat kami menjadi lebih bersemangat.
Sekarang tempat sampah bahkan bisa untuk hajatan, karena begitu bersihnya.
Setelah dipilah-pilah setiap paginya kondisi TPA langsung bersih, dan bisa untuk berlatih karawitan anak-anak," terangnya.
Rumput ilalang sepanjang pinggiran rel kereta itu kini diubah menjadi instalasi hidroponik dan ditanami tanaman seperti pokcoy, cabai, selada dan lain sebagainya.
Bahkan ada pula warga yang memilih berternak unggas seperti burung dara.
Sekretaris Tim Penggerak - PKK Kampung KB GADIS, Kasiatun (55) mengatakan tanaman organik hasil dari instalasi hidroponik dikonsumsi warga sendiri.
"Tanaman seperti pokcoy dipanen 2 bulan sekali, biasanya dijual kepada warga kita, kalau berlebihan baru kita jual keluar desa," katanya.