Sabtu, 25 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Olimpiade

KISAH NYATA : Juara 3 Kali Olimpiade Ini Dinyatakan Jadi Pemenang Justru Setelah Mati

Kisah tragis juara olimpiade tiga kali yang dinyatakan menjadi juara setelah dirinya tewas dalam pertandingan.

wikipedia
Arrichion 

TRIBUNJATENG.COM -- Kisah tragis juara olimpiade tiga kali yang dinyatakan menjadi juara setelah dirinya tewas dalam pertandingan.

Pankration merupakan sebuah pertandingan olahraga yang diperkenalkan di Yunani kuno dalam Olimpiade pada tahun 648 SM.

Pertandingan ini merupakan kombinasi tinju dan gulat brutal yang hampir tidak memiliki aturan.

Tujuannya adalah untuk mengalahkan lawan dengan cara apapun yang diperlukan, dan ini termasuk memukul, menendang, memutar anggota badan, dan bahkan mencekik.

Satu-satunya hal yang tidak boleh dilakukan oleh pesaing adalah menggigit atau mencongkel matanya.

Kontes berakhir ketika salah satu petarung mengaku kalah atau tidak sadarkan diri. Banyak pejuang kehilangan nyawa mereka setelah bermain Pankration.

Melansir Amusing Planet, Arrhichion adalah salah satu petarung pankration yang paling terkenal.

Dia adalah juara tiga kali di Olimpiade, setelah memenangkan acara pada 572 SM, 568 SM dan 564 SM.

Kemenangan terakhirnya juga merupakan pertandingan terakhirnya, karena dia mati di atas ring.

Tapi bagaimana mungkin menjadi pemenang dan mati pada saat yang sama, ketika aturan permainan menyatakan bahwa siapa pun yang ditundukkan dalam pertandingan Pankration otomatis dikalahkan?

Menurut cerita yang telah diceritakan kembali selama ribuan tahun, lawan Arrhichion yang tidak disebutkan namanya membuatnya dalam cengkeraman maut secara harfiah di leher, dan terus memberikan tekanan dalam upaya untuk menundukkan Arrhichion.

Namun, Arrhichion tidak mau menyerah, dan terus melawan saat lawannya mencekiknya.

Pada saat itu, pelatih Arrhichion berteriak kepadanya: “Betapa mulianya batu nisan yang akan kamu terima jika kamu tidak tunduk—'Dia tidak pernah dikalahkan di Olympia.'”

Kata-kata ini memberi kekuatan pada Arrhichion, dan saat dia hampir pingsan, Arrhichion menyerang kaki lawannya, mematahkan pergelangan kakinya.

Rasa sakit dari pergelangan kakinya begitu parah sehingga lawan Arrhichion terpaksa melepaskan pegangannya.

Sumber: Intisari
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved