Breaking News:

Berita Pendidikan

Perguruan Tinggi NU Strategis Merawat Moderasi Islam Aswaja

Dalam bingkai akademik, kajian tentang moderasi beragama tetap relevan sebagai tema yang aktual

Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: muslimah
TribunJateng.com/Mamdukh Adi Priyanto
Guru besar Unwahas yang juga Direktur Program Pascasarjana Unwahas, Prof Mahmutarom (kanan) memberikan penjelasan terkait nilai-nilai profetik Alquran dalam mengembangkan konsep tawasuth Aswaja 

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi yang sampai saat ini konsisten menyebarkan dan mengamalkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Di dalam Aswaja terdapat nilai-nilai luhur seperti tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i'tidal (adil).

Ajaran moderasi Islam Aswaja tersebut juga diharapkan dirawat dan ditransmisikan oleh Lembaga Perguruan Tinggi NU atau LPTNU seperti halnya Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang.

"Perguruan tinggi NU mengemban misi inkubator dan transmitter paham Islam Aswaja, produsen SDM terdidik berpaham Aswaja, produsen dalam bidang kajian keislaman yang moderat, dan benteng pertahanan NKRI," kata guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Abdul Munip saat kuliah umum Program Pascasarjana Unwahas, baru-baru ini.

Menurutnya, saat ini selain tantangan internal semisal penjaminan mutu, pengembangan SDM, LPTNU juga menghadapi sejumlah tantangan eksternal berkaitan dengan dinamika wacana keislaman di Indonesia.

Wacana keislaman yang dimaksud yakni menguatnya pemahaman keagamaan skripturalis tekstualis. Misalnya paham salafisme dan wahabisme yang semakin menguasai wacana keislaman melalui berbagai saluran media informasi dan teknologi.

"Lihat saja di Youtube, tokoh agama yang menganut aliran itu subscriber-nya berapa, banyak. Indonesia merupakan melting pot, jadi semua aliran berkumpul," jelasnya.

Sasaran mereka, lanjutnya, juga menjangkau semua kalangan termasuk dunia anak usia dini melalui film animasi atau kartun. Lembaga pendidikan mereka juga mulai meniru model pesantren.

Jumlah produksi literatur yang dibuat juga membanjiri pasaran baik dalam bentuk printed book, e-book, terjemahan, dan lain-lain.

"Sebagian besar wacana yang dikembangkan selalu menyinggung perasaan warga Nahdliyin dan kearifan budaya lokal. Arabisme menjadi tren dalam ranah kehidupan mereka," ucap guru besar yang ahli dalam bidang terjemahan teks berbahasa Arab dan dinamika studi Islam ini.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved