Senin, 13 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

OPINI

OPINI Dodik Tugasworo Pramukars : Minutes Can Save Lives Peringatan Hari Stroke Dunia

PENYAKIT stroke masih menjadi masalah utama tingginya angka morbiditas dan mortalitas baik di tingkat nasional maupun di tingkat global. 

tribun jateng/bakti buwono budiasto
RSUP Kariadi memeringati Hari Stroke Sedunia di area Car Frree Day (CFD) Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Minggu (29/10/2017) 

Oleh : DR. dr. Dodik Tugasworo Pramukarso, Sp.S(K)

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia

PENYAKIT stroke masih menjadi masalah utama tingginya angka morbiditas dan mortalitas baik di tingkat nasional maupun di tingkat global. World Stroke Organization menunjukkan data bahwa setiap tahunnya terdapat 13,7 juta kasus baru stroke dan sekitar 5,5 juta kematian yang terjadi akibat penyakit stroke. Setiap harinya 15 orang meninggal diakibatkan oleh penyakit stroke.

Secara nasional, prevalensi stroke di Indonesia tahun 2018 pada penduduk umur lebih dari 15 tahun sebesar 10.9 %. Provinsi Kalimantan Timur dan DI Yogyakarta menjadi dua provinsi dengan prevalensi stroke tertinggi se Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan bahwa Penyakit stroke menunjukkan tren yang makin meningkat dari tahun ke tahun.

Hari stroke sedunia, World Stroke Days yang diperingati pada tanggal 29 Oktober setiap tahunnya, menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran akan stroke serta tingginya angka kematian dan kesakitan yang disebabkan oleh penyakit stroke. Tema peringatan stroke pada tahun ini adalah “Minutes Can Save Lives” yang menekankan pentingnya waktu dalam tatalaksana stroke.

Pertanyaan yang timbul, kenapa insiden stroke masih tingi dan angka kematiannya di negara kita dari tahun ke tahun masih menduduki rangking pertama?. Berdasarkan rekomendasi National Institute for Health and Care Excellence (NICE) suatu lembaga yang menyusun pedoman penatalaksanaan penyakit, seseorang dengan gejala stroke harus mendapatkan akses menuju ruang perawatan akut dengan kualitas tinggi, maksimal dalam 48 jam pertama sejak gejala stroke muncul. Makin cepat seorang pasien menerima tatalaksana awal serta penegakkan diagnosa melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik yang tepat serta pemeriksaan pencitraan kepala (CT scan) sejak tiba di rumah sakit menjadi kunci keberhasilan dalam melakukan tatalaksana dengan tepat. Sebuah studi menunjukkan, setiap menit waktu mulai pengobatan yang diberikan, bisa memberikan 1,8 hari ekstra kehidupan yang sehat.

Tatalaksana awal

Akan tetapi pada kenyataannya ada banyak variabel yang menyebabkan seorang yang mengalami kondisi stroke fase akut terlambat mendapatkan penanganan dan tatalaksana awal. Terkait sarana dan prasarana, tidak semua fasilitas pelayanan kesehatan dapat memberikan terapi trombolisis, yang menjadi terapi utama pada kasus stroke sumbatan (stroke non hemoragik) yang harus diberikan dalam jangka 4,5 jam sejak timbulnya stroke, atau tindakan trombektomi, tindakan-tindakan neurointervensi seperti coiling dan clipping pada kasus stroke perdarahan sesuai pedoman klinis juga belum tersedia merata di semua rumah sakit. Tidak tersedianya obat-obatan untuk stroke (trombolisis), dan ruang pengawasan khusus stroke (unit stroke) merupakan problema di tengah-tengah begitu lebarnya kesenjangan antar berbagai fasilitas pelayanan kesehatan ditambah lagi dengan tarif INA-CBG beberapa kasus dan tindakan serta prosedur di bidang neurologi masih jauh di bawah tarif/real cost Rumah sakit.

Dari sisi penyelenggara kesehatan sendiri, dalam memberikan penanganan kasus kasus stroke pun menemukan banyak kendala, termasuk ketersediaan SDM spesialis neurologi. Sampai saat ini, jumlah dokter spesialis neurologi se Indonesia sudah mencapai 1974 orang, namun lebih dari seperlimanya terpusat di kota kota besar di Indonesia seperti Jakarta dan Surabaya, sehingga persebaran di daerah daerah perifer masih sangat minim. Pertumbuhan jumlah neurolog baru sangat lambat apabila dibandingkan pertumbuhan jumlah penduduk indonesia. Saat ini 1 Spesialis Neurologi apabila dirataratakan melayani sebanyak 125 ribu penduduk Indonesia.

Disamping itu, mengingat luasnya wilayah Indonesia dan sangat beragamnya kondisi di Indonesia baik kondisi alam, budaya, kontur geografis, infrastruktur yang dimiliki setiap daerah, di beberapa tempat untuk mencapai fasilitas kesehatan dalam waktu kurang dari 4,5 jam adalah hal yang sangat mustahil. Di kota besar seperti jakarta dan semarang, mungkin dengan hanya berkendara selama 20 menit kita sudah dapat menemukan RS yang cukup besar walupun kemacetan lalu-lintas bisa juga menjadi masalah. Akan tetapi di beberapa daerah tertentu, untuk mencapai puskesmas terdekat saja bisa memakan waktu seharian.

Stroke sebagai bagian dari penyakit kardioserebrovaskular digolongkan kedalam penyakit katastropik, karena mempunyai dampak luas secara ekonomi dan sosial. Penyakit stroke dapat menyebabkan kecacatan permanen yang dapat mempengaruhi produktivitas hidup penderitanya.

Beban pembiayaan

Selain berdampak terhadap ekonomi dan sosial masyarakat, penyakit stroke juga menambah beban pembiayaan kesehatan. Menurut Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, terjadi kenaikan total pembiayaan pelayanan penyakit katastropik dalam Jaminan kesehatan Nasional (JKN) pada tahun 2016 hingga 2018 sekitar 4 triliun rupiah. Stroke termasuk penyakit dengan biaya tertinggi, menghabiskan biaya pelayanan kesehatan sebesar 2,56 triliun rupiah pada tahun 2018 dan akan makin meningkat dengan bertambahnya insiden. Dalam pelaksanaan program JKN menggunakan sistem INA-CBGs yaitu layanan kesehatan melalui kapitasi dan base payment (casemix) berdasarkan pengelompokkan diagnosis dan prosedur dengan mengacu pada ciri klinis. Dengan diberlakukannya sistem INA-CBGs untuk penyakit tertentu seperti stroke sering terjadi ketidaksesuian antara tarif rill rumah sakit dengan INA-CBGs, berdasarkan penelitian oleh Feledita, dkk (2014) dan Muslimah, dkk 2017) menyebutkan perkiraan jumlah biaya stroke rawat inap selama 1 tahun untuk biaya rill stroke hemoragik diperkirakan Rp 572.969.865 sedangkan untuk stroke iskemik Rp 952.266.639 yang mana total biaya tersebut termasuk biaya pelayanan medik, biaya penunjang medik, biaya tindakan medik dan administrasi sedangkan tarif INA CBGs masih dibawah angka tersebut. Jumlah pasien stroke yang semakin meningkat setiap tahunnya menimbulkan peningkatan pada penambahan biaya pelayanan kesehatan juga. Dibutuhkan atensi lebih dari berbagai macam pihak untuk dapat menyelesaikan sekelumit masalah dari penyakit stroke ini.

Perlu edukasi

Untuk mengentaskan permasalahan stroke di Indonesia, dibutuhkan kerja sama dari hulu ke hilir, mulai dari para pemangku kepentingan (stake holder), dokter spesialis neurologi, jajaran fasilitas kesehatan primer, dan masyarakat, agar mampu menurunkan angka kematian dan kesakitan yang ditimbulkan akibat stroke. Masyarakat melalui perkumpulan warga di tingkat RT/RW, PKK dan karang taruna dapat bekerja sama dengan puskesmas dalam memberikan edukasi terkait penyakit stroke. Faktor resiko apa saja yang mengintai, bentuk tanda dan gejala awal dari penyakit stroke, apa yang harus dilakukan apabila ada orang terdekat mengalami gejala stroke. Harapannya, dengan tingginya tingkat pengetahuan masyarakat mengenai penyakit stroke, masyarakat dapat mengambil langkah langkah preventif untuk mencegah timbulnya penyakit stroke.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved