Breaking News:

OPINI

OPINI Dodik Tugasworo Pramukars : Minutes Can Save Lives Peringatan Hari Stroke Dunia

PENYAKIT stroke masih menjadi masalah utama tingginya angka morbiditas dan mortalitas baik di tingkat nasional maupun di tingkat global. 

tribun jateng/bakti buwono budiasto
RSUP Kariadi memeringati Hari Stroke Sedunia di area Car Frree Day (CFD) Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Minggu (29/10/2017) 

Oleh : DR. dr. Dodik Tugasworo Pramukarso, Sp.S(K)

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia

PENYAKIT stroke masih menjadi masalah utama tingginya angka morbiditas dan mortalitas baik di tingkat nasional maupun di tingkat global. World Stroke Organization menunjukkan data bahwa setiap tahunnya terdapat 13,7 juta kasus baru stroke dan sekitar 5,5 juta kematian yang terjadi akibat penyakit stroke. Setiap harinya 15 orang meninggal diakibatkan oleh penyakit stroke.

Secara nasional, prevalensi stroke di Indonesia tahun 2018 pada penduduk umur lebih dari 15 tahun sebesar 10.9 %. Provinsi Kalimantan Timur dan DI Yogyakarta menjadi dua provinsi dengan prevalensi stroke tertinggi se Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan bahwa Penyakit stroke menunjukkan tren yang makin meningkat dari tahun ke tahun.

Hari stroke sedunia, World Stroke Days yang diperingati pada tanggal 29 Oktober setiap tahunnya, menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran akan stroke serta tingginya angka kematian dan kesakitan yang disebabkan oleh penyakit stroke. Tema peringatan stroke pada tahun ini adalah “Minutes Can Save Lives” yang menekankan pentingnya waktu dalam tatalaksana stroke.

Pertanyaan yang timbul, kenapa insiden stroke masih tingi dan angka kematiannya di negara kita dari tahun ke tahun masih menduduki rangking pertama?. Berdasarkan rekomendasi National Institute for Health and Care Excellence (NICE) suatu lembaga yang menyusun pedoman penatalaksanaan penyakit, seseorang dengan gejala stroke harus mendapatkan akses menuju ruang perawatan akut dengan kualitas tinggi, maksimal dalam 48 jam pertama sejak gejala stroke muncul. Makin cepat seorang pasien menerima tatalaksana awal serta penegakkan diagnosa melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik yang tepat serta pemeriksaan pencitraan kepala (CT scan) sejak tiba di rumah sakit menjadi kunci keberhasilan dalam melakukan tatalaksana dengan tepat. Sebuah studi menunjukkan, setiap menit waktu mulai pengobatan yang diberikan, bisa memberikan 1,8 hari ekstra kehidupan yang sehat.

Tatalaksana awal

Akan tetapi pada kenyataannya ada banyak variabel yang menyebabkan seorang yang mengalami kondisi stroke fase akut terlambat mendapatkan penanganan dan tatalaksana awal. Terkait sarana dan prasarana, tidak semua fasilitas pelayanan kesehatan dapat memberikan terapi trombolisis, yang menjadi terapi utama pada kasus stroke sumbatan (stroke non hemoragik) yang harus diberikan dalam jangka 4,5 jam sejak timbulnya stroke, atau tindakan trombektomi, tindakan-tindakan neurointervensi seperti coiling dan clipping pada kasus stroke perdarahan sesuai pedoman klinis juga belum tersedia merata di semua rumah sakit. Tidak tersedianya obat-obatan untuk stroke (trombolisis), dan ruang pengawasan khusus stroke (unit stroke) merupakan problema di tengah-tengah begitu lebarnya kesenjangan antar berbagai fasilitas pelayanan kesehatan ditambah lagi dengan tarif INA-CBG beberapa kasus dan tindakan serta prosedur di bidang neurologi masih jauh di bawah tarif/real cost Rumah sakit.

Dari sisi penyelenggara kesehatan sendiri, dalam memberikan penanganan kasus kasus stroke pun menemukan banyak kendala, termasuk ketersediaan SDM spesialis neurologi. Sampai saat ini, jumlah dokter spesialis neurologi se Indonesia sudah mencapai 1974 orang, namun lebih dari seperlimanya terpusat di kota kota besar di Indonesia seperti Jakarta dan Surabaya, sehingga persebaran di daerah daerah perifer masih sangat minim. Pertumbuhan jumlah neurolog baru sangat lambat apabila dibandingkan pertumbuhan jumlah penduduk indonesia. Saat ini 1 Spesialis Neurologi apabila dirataratakan melayani sebanyak 125 ribu penduduk Indonesia.

Disamping itu, mengingat luasnya wilayah Indonesia dan sangat beragamnya kondisi di Indonesia baik kondisi alam, budaya, kontur geografis, infrastruktur yang dimiliki setiap daerah, di beberapa tempat untuk mencapai fasilitas kesehatan dalam waktu kurang dari 4,5 jam adalah hal yang sangat mustahil. Di kota besar seperti jakarta dan semarang, mungkin dengan hanya berkendara selama 20 menit kita sudah dapat menemukan RS yang cukup besar walupun kemacetan lalu-lintas bisa juga menjadi masalah. Akan tetapi di beberapa daerah tertentu, untuk mencapai puskesmas terdekat saja bisa memakan waktu seharian.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved