Berita Semarang
Kenang Pertempuran Lima Hari di Semarang, Kampoeng Djadoel Rejomulyo Gelar Tradisi Titiran
Warga Kampoeng Djadoel mempunyai tradisi untuk memperingati Pertempuran 5 hari di Kota Semarang.
Penulis: rahdyan trijoko pamungkas | Editor: moh anhar
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Warga Kampoeng Djadoel mempunyai tradisi untuk memperingati Pertempuran 5 hari di Kota Semarang.
Tradisi yang dilakukan warga adalah melaksanakan Titiran.
Tradisi tersebut diambil dari kata titir berasal dari suara kentongan untuk menandai kebakaran yang saat itu kampung tersebut dibakar oleh Jepang.
Tradisi titiran diisi dengan rangkaian kegiatan teatrikal dan kirab di kampung tersebut.
Koordinator kegiatan Chandra Adi Nugroho menuturkan, warga yang mendengar titir dari kentongan langsung bergegas ke sumber suara tersebut bergotong royong untuk memadamkan.
Baca juga: Tahun Ini Total Hadiah Lomba Mancing di Karimunjawa Rp 25 Juta, Bupati Andi: Tahun Depan Naik 100%
Baca juga: Hari Ulos Nasional, Tobatenun Gelorakan Semangat Bangga Bertenun Bangga Berbudaya
Baca juga: Percepat Vaksinasi, Polres Pemalang Gelar Vaksin pada Malam Hari
"Kejadian pembakaran Kampung Batik Semarang oleh tentara saat hari keempat Pertempuran 5 Hari yang jatuh pada Rabu 17 Oktober 1945. Saat itu 200 sekian rumah yang terbakar," ujarnya, Minggu (17/10/2021).
Menurutnya, adanya tradisi itu untuk mengingat sejarah, dan bangkitnya warga Kampung Batik setelah tragedi kebakaran. Tradisi itu sudah lama dilakukan oleh warga setempat.
"Peringatan itu biasanya hanya syukuran gelar kloso (tikar) lalu duduk bersama, makan bersama. Namun setelah adanya kampoeng djadul atau komunitas seni sejak dua tahun ini kami peringati dengan melakukan teatrikal," jelasnya.
Dikatakannya, diadakanya tetrikal titiran ini bertujuan sebab Kampoeng Djadoel telah menjadi destinasi wisata. Dimana Kampoeng tersebut mempunyai produk batik dan kesenian.
"Oleh sebab itu kami kreasikan dengan ada unsur seninya agar bisa menjadi daya tarik dan menjadi bahan edukasi," ujar dia.
Menurut dia, selain tradisi, warga juga menunjukkan koleksi sejarah yakni pintu rumah yang terkena tembakan Jepang saat terjadinya kebakaran. Pintu itu saat ini masih disimpan oleh warga.
"Waktu itu saya temukan tahun 1998 untuk pintu kamar mandi. Kemudian warga kami meminta dan pintu itu menjadi koleksi," jelasnya.
Ia mengatakan tradisi titir ke depannya akan dikemas oleh warga Kampoeng Djadoel untuk kegiatan seni budaya.
Kegiatan itu akan diadakan rutin setiap tahunnya.
Sementara itu, Wakil Walikota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, mengaku tradisi titiran merupakan budaya sejarah yang baru diketahuinya.