Jumat, 8 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kendal

Peternak Ayam Petelur di Kendal Berjibaku untuk Pertahankan Usahanya hingga Pasrah

Harga dan serapan telur tak membaik picu memburuknya perekonomian peternak ayam petelur.

Tayang:
Penulis: Saiful Ma sum | Editor: sujarwo
TRIBUN JATENG/SAIFUL MA'SUM
Peternak ayam petelur di Kecamatan Patean Kendal sedang mengambil telur dari kandang, Minggu (17/10/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Harga dan serapan telur yang tak kunjung membaik menjadi pemicu memburuknya perekonomian para peternak ayam petelur di Jawa Tengah.

Terutama peternak di Kabupaten Kendal kini menjadi pelaku usaha yang menyumbang jumlah populasi ayam oetelur terbesar di Indonesia setelah Kota Blitar Jawa Timur.

Sebagian peternak menyerah dengan menjual semua ternak beserta kandanganya karena kehabisan modal.

Sebagian peternak lain masih berjibaku mempertahankan usahanya agar tidak gulung tikar.

Beberapa upaya sudah ditempuh peternak dengan mengadu kepada bupati, MPR RI, dan juga Badan Urusan Logistik (Bulog). 

Karena kesusahan para peternak ayam petelur semakin memburuk ketika suplai pakan ternak langka. 

Seorang peternak asal Kecamatan Patean Kendal, Rila Hermawati (36) bercerita, apa yang dialami peternak ayam petelur saat ini hanya menunggu antara hidup dan matinya usaha.

Siapa yang kuat dalam permodalan, dia lah yang kemungkinan bisa bertahan jika tak ada solusi secepat mungkin.

Bahkan, beberapa pelaku usaha di bidang produksi telur ayam ini sudah bangkrut kehabisan modal.

Seperti yang dialami Bibi Rila telah menjual 20.000 ekor ayam petelur berserta kandangnya karena tak sanggup lagi bertahan.

"Saya punya populasi ayam 10.000 masih coba saya pertahankan, meskipun sudah kehabisan modal. Bibi saya punya 20.000 ekor habis sudah dijual," terangnya di Kendal, Minggu (17/10/2021).

Menurut Rila, kondisi sulit yang dihadapi peternak saat ini benar-benar kompleks. 

Pendapatan turun drastis selama 4 bulan terakhir karena harga telur anjlog jauh di bawah harga ideal.

Hal itu dipicu serapan telur yang minim akibat adanya kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) selama pandemi Covid-19.

Kondisi ini diperburuk karena peternak mulai kesulitan mencari pakan ternak dari bahan pokok jagung.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved