Smart Women
Tekad Besar Keluar dari Kemiskinan, Chusnul Chotimah Terpacu untuk Mengubah Nasib lewat Pendidikan,
Hidup dalam keterbatasan secara ekonomi telah dialami Chusnul Chotimah (25) sejak kecil. Meski demikian, hal itu tidak menjadi penghalang baginya.
Penulis: M Nafiul Haris | Editor: moh anhar
TRIBUNJATENG.COM - Hidup dalam keterbatasan secara ekonomi telah dialami Chusnul Chotimah (25) sejak kecil.
Meski demikian, hal itu tidak menjadi penghalang baginya untuk melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi.
Buktinya, Chusnul lulus sebagai sarjana dari Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Semarang (Unnes), pada tahun 2019.
Sebagai lulusan terbaik pula.
Chusnul bercerita, kondisi serupa juga dialami tiga saudaranya.
Mereka rata-rata bersekolah maksimal hanya sampai jenjang SMP.
Baca juga: Foto-foto Seni Lukis Artpaintour 2 Gedung Creative Hub Kota Lama Semarang
Baca juga: Pernikahan Islam Anak Bos Microsoft Bill Gates: Jennifer Gates dan Nayel Nassar
Bayangan untuk dapat bersekolah hingga SMA, apalagi pada tingkatan perguruan tinggi, tidak pernah mereka miliki.
“Saya dilahirkan di keluarga yang ditakdirkan memang ekonominya tidak mampu. Ditambah, jauh dari yang namanya pendidikan. Bahkan dulu saya tidak disekolahkan mulai TK. Jadinya, ketika masuk SD saya pernah tidak naik kelas karena sama sekali tidak bisa membaca dan menulis,” katanya.
Selain hidup dengan penuh keterbatasan ekonomi, kata Chusnul, keluarganya juga kurang memberikan dukungan penuh terhadap keinginannya untuk bersekolah sampai jenjang sarjana.
Kondisi itu karena memang budaya belajar serta semangat bersekolah kurang tertanam kuat pada orang tuanya.
Ia menambahkan, lantaran tidak naik kelas sewaktu SD itu membuatnya terpacu untuk terus belajar dan mengejar ketertinggalan dari teman seangkatan.
Alhasil, perlahan prestasi akademiknya mulai membaik.
Bahkan dia seringkali menjadi juara kelas.
“Bahkan, dulu sepulang sekolah saya masih ingat sampai rumah menangis. Ya karena tadi, ini teman-teman saya sudah bisa membaca dan menulis, kok saya belum ya. Tapi, sejak peristiwa itu saya rajin belajar bagaimana caranya bisa, dan alhamdulillah menjadi sering juara kelas. Sampai kemudian ketika lulus mendapat predikat lulusan terbaik,” ungkapnya.
Lulusan terbaik SDN 1 Tambi, Kabupaten Wonosobo, tahun 2008 tersebut menyampaikan, Chusnul tumbuh dari keluarga kurang mampu.
Bapaknya, lanjutnya, hanya bekerja sebagai staf di kelurahan dengan gaji yang pas-pasan untuk menghidupi empat bersaudara.
Adapun sang ibu sebatas ibu rumah tangga, yang memanfaatkan waktu luangnya untuk berjualan aneka macam gorengan dan camilan.
Baca juga: Misteri Temuan Mayat Wanita dalam Karung, Rusak hingga Sulit Dikenali, Tubuh Terikat
Baca juga: Pemerintah Geser Hari Libur Maulid Nabi, Pencari Kesempatan Harpitnas Gigit Jari
Selulus SD, Chusnul melanjutkan pendidikan ke SMP 1 Kejajar, Wonosobo. Kesempatan itu didapatnya tidaklah mudah.
Untuk menutup kekurangan biaya sekolah, dia sekolah sembari berjualan aneka jajanan, seperti cilok dan bakso-baksoan, kemudian kaus, dan beragam aksesoris.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, selama duduk di bangku SMP Chusnul terus memacu diri.
Selain mempertahankan prestasi akademik, dia juga aktif berorganisasi hingga kemudian terpilih menjadi ketua OSIS.
“Saya juga ikut lomba-lomba. Kebetulan saya memiliki hobi menyanyi dan bermusik. Lalu, setelah mengikuti berbagai macam perlombaan pada tahun 2010 mendapat juara 1 lomba macapat tingkat Kabupaten Wonosobo. Pokoknya, saat itu saya mulai sadar, jika kemiskinan itu takdir, satu-satunya jalan keluar adalah ilmu pengetahuan. Ya, bagaimana caranya bisa ini dan itu, banyak mencoba hal-hal baru,” paparnya.
Selama kuliah, kata dia, seiring kesadaran bahwa dengan memiliki ilmu pengetahuan dapat mengatasi keterbatasan dia juga mengikuti beragam perlombaan untuk mengasah kemampuan di luar bidang akademik.
Dia antara lain pernah menjadi juara 1 Penulisan Cerpen tingkat Kabupaten Wonosobo (2018), juara 2 Konten Blogger Kabupaten Wonosobo (2018), dan juara 3 Cipta Jingle Semangat Membaca dari Arpusda Wonosobo pada tahun yang sama.
“Masih di tahun 2018 saya juga mendapat juara 1 Solo Singer Tingkat Nasional di Kediri, Jawa Timur. Kebetulan semenjak SMK saya suka bermusik, juga suka menulis, tahun kemarin 2020 saya menerbitkan buku berjudul Kala Mimpiku Menembus Langit-Mu,” paparnya.
Chusnul menjelaskan, beberapa kelebihan yang dimilikinya di luar bidang akademik itu dilatihnya secara autodidak.
Dia sama sekali tidak pernah bergabung pada komunitas tertentu, yang concern pada musik atau dunia kepenulisan.
Meskipun sibuk dengan berbagai aktivitas tuntutan mempertahankan nilai akademik sebagai penerima beasiswa Bidikmisi tetap terpenuhi.
Nilainya pada bidang akademik relatif stabil dan selalu Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)-nya melebihi angka tiga.
Dia menegaskan, masalah yang dihadapinya semenjak kecil sampai dewasa berkutat pada ekonomi keuangan, sedangkan perihal nilai akademik disebutnya selalu baik.
“Mungkin Tuhan memberi saya kesulitan di sini, tapi tidak pada soal lain. Dan alhamdulillah nilai saya selalu cumlaude. Sebenarnya studi saya selesai dalam 3 tahun 3 bulan. Akan tetapi, aturan kampus tidak membolehkan. Akhirnya, saya dihitung lulus 3 tahun 4 bulan lebih tiga hari,” katanya.
Meski sekarang dia telah bisa hidup mandiri dan mendapat pekerjaan yang sesuai minatnya pencapaian itu dinilai masih jauh dari target.
Apabila kelak ada kesempatan, dia mengaku, ingin kembali melanjutkan studi strata dua (S2).
Jadi Pengemudi Ojek Online saat Kuliah
Cita-cita Chusnul Chotimah (25) untuk melanjutkan studi sampai jenjang perguruan tinggi akhirnya terwujud.
Dia merasa, perjuangannya dari SD sampai SMK untuk terus mempertahankan prestasi terbayar lunas.
Tidak lama setelah lulus dari SMKN 1 Wonosobo, dia mendapat Beasiswa Bidikmisi melalui jalur undangan untuk kuliah di Universitas Negeri Semarang (Unnes) pada Jurusan Teknologi Pendidikan.
Namun, meski biaya studi sampai lulus telah dijamin pemerintah melalui beasiswa, termasuk kebutuhan hidupnya mulai dari indekos dan untuk makan sehari-hari, ternyata masa-masa kuliah tidak semudah prediksinya.
Mau tidak mau, dia harus memutar otak supaya kebutuhannya selama di Kota Semarang tercukupi.
Chusnul enggan merepotkan orang tua.
“Akhirnya setelah berjalan kurang lebih dua tahun, saya memutuskan jadi driver ojek online. Kenapa saya pilih profesi itu, ya karena yang paling memungkinkan dilakukan karena waktunya lebih fleksibel. Dan, uang dari beasiswa itu cairnya kerap tidak tentu, terkadang sebulan atau bisa sampai tiga bulan,” kenangnya.
Menjadi pengemudi ojek online itu, kata Chusnul, dilakoninya selama kurang lebih dua tahun sejak menjadi mahasiswa semester empat sampai skripsi.
Dari hasil menarik ojek itu, diakuinya, dapat menutup seluruh kebutuhannya, baik biaya hidup sehari-hari maupun untuk keperluan kuliah seperti ongkos cetak materi, tugas kuliah, membeli buku, dan bayar kos bulanan.
Perempuan asal Wonosobo tersebut mengaku tidak malu, memiliki kerja sampingan sebagai pengemudi ojek online.
Baginya, yang terpenting adalah tidak membebani keluarga dan mampu bertanggungjawab atas pilihan yang diambil.
“Kebetulan keluarga saya juga membebaskan, dan saya bisa atur waktu saja antara kuliah dan kerja. Di sela-sela waktu yang lain sebelum jadi pengemudi ojek online saya menjadi guru les dengan bayaran Rp 40 ribu-Rp 50 ribu sekali pertemuan cukup untuk makan. Semua saya lakukan untuk bisa survive,” imbuhnya.
Chusnul menerangkan, bahkan dari ngojek selama hampir dua tahun itu dia memiliki tabungan.
Sebagian, akhirnya dipakai untuk biaya membeli sepeda motor, kemudian sisanya dipakai untuk keperluan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di Kinabalu, Sabah, Malaysia.
PPL ke luar negeri sebagai pengajar di sekolah perbatasan, lanjutnya, bukan program kampus tetapi inisiatif pribadi sehingga pembiayaan mesti dipersiapkan sendiri.
Baca juga: Keluarga Tersangka Kasus Penganiayan di Tempat Karaoke di Banyumas Lapor Balik: Suami Saya Dipukul
Baca juga: Petugas Pasang Garis Polisi di Kandang Kambing: Ada Orang Meninggal
Pernah Terpikir untuk Jadi Buruh Migran
BERBEDA dari teman sebayanya, yang memilih melanjutkan ke SMA, setelah lulus SMP Chusnul Chotimah (25) lebih memilih melanjutkan pendidikan ke SMK. Keputusan itu diambilnya atas pertimbangan biaya.
Namun, dirinya kekeuh ingin melanjutkan sekolah bahkan apabila mendapat kesempatan ingin sampai pada perguruan tinggi tidak peduli kampus swasta maupun negeri.
"Karena saya ingin mengangkat derajat kedua orang tua saya, keluarga saya dari pandangan orang-orang. Waktu itu kenapa saya memilih SMK, sesuai jargonnya ‘SMK Bisa’, pikiran saya waktu itu apabila lulus bisa langsung bekerja,” kata Chusnul.
Bahkan, kata Chusnul, dia sempat terpikir untuk menjadi buruh migran.
Chusnul menjelaskan, alasan menjadi TKW tidak lain dan tidak bukan karena beranggapan menjadi pekerja migran rata-rata di kampungnya sukses serta memiliki kekayaan yang dapat dibanggakan.
Lebih dari itu, semasa ia lulus dari SMP ajakan untuk sekolah di SMK sedang ramai-ramainya digaungkan pemerintah.
Kemudian, secara khusus Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak membebankan biaya sama sekali alias gratis.
"Tentu saya tertarik dong. Tapi jujur saja, saya ingin kaya. Cita-cita saya saat itu hanya itu. Tidak dibuat-dibuat ini, mohon maaf, hidup dalam serbakekurangan, ya siapa tidak capek. Jadi terus terang bayangan saya menjadi TKW kerja bayaran gede, tidak mungkin dapat gaji besar lulusan SMK saya dapatkan di Indonesia," imbuhnya.
Alhasil, pada 2011 Chusnul diterima di SMKN 1 Wonosobo.
Selama duduk di bangku SMK itu tidak jarang dia menerima berbagai macam omongan yang sifatnya merendahkan.
Ada pula cibiran, yang sampai membawa-bawa kedua orang tuanya.
Parahnya sikap meremehkan itu tidak hanya datang dari tetangga, melainkan pula kerabat bahkan sejumlah saudara.
Akan tetapi Chusnul memilih menanggapinya dengan diam.
Ia, terus meyakinkan diri untuk meraih cita-cita, jika pun nantinya gagal bisa sekolah sampai perguruan tinggi akan mengganti dengan bekerja di luar negeri.
Dengan harapan, apabila ambisinya menjadi seorang sarjana kandas minimal ia memiliki uang dan kekayaan yang dapat dibanggakan.
Selama sekolah, Chusnul masih berjualan sejumlah aksesoris.
Sepulang sekolah, untuk menambah pendapatan dari berjualan, dia menjadi guru les komputer bagi karyawan pabrik di daerahnya.
Dari hasil menjadi guru les untuk karyawan pabrik yang ingin belajar MS Excel dan MS Word, per bulan Chusnul mendapatkan hasil yang cukup lumayan, rata-rata Rp 1,5 juta.
Baca juga: Dedikasi Penanganan Covid-19, Puluhan Anggota Polresta Solo Dapat Penghargaan
Baca juga: Bupati Jepara Lepas 4 Atlet ke Pekan Paralimpik Papua 2021, Janjikan Bonus ke Peraih Medali
Uang tersebut, digunakan untuk membeli sejumlah kebutuhan sekolah maupun biaya lain manakala ada ujian praktik.
“Kebetulan sewaktu SMK saya ambil Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak. Jadi dari ilmu yang saya dapat di sekolah, saya manfaatkan membuka les-lesan. Kebetulan ada karyawan pabrik, yang dituntut untuk bisa mengoperasikan Microsof Excel dan Word. Jadi lumayan, buat nambah-nambah pendapatan,” ungkapnya. (*)
BIODATA Chusnul Chotimah
Tempat dan tanggal lahir : Wonosobo, 30 April 1996
Hobi: bermusik dan menulis
Profesi : staf pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/chusnul-chotimah-18102021.jpg)