Rabu, 13 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Pati

Pemkab Belum Beri Izin Manggung, Pekerja Seni di Pati Banting Setir Jadi Pengrajin Layang-Layang

Menjadi pengrajin layang-layang jadi pilihan Jumadi, yang semula berprofesi sebagai pranatacara.

Tayang:
Penulis: Mazka Hauzan Naufal | Editor: moh anhar

TRIBUNJATENG.COM, PATI - Hingga kini, Pemerintah Kabupaten Pati belum mengizinkan pementasan kesenian di tempat terbuka.

Hal ini lantaran di Pati masih ada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3.

Kegiatan yang berpotensi menimbulkan kerumunan belum diperbolehkan oleh otoritas setempat.

Kebijakan ini tentu berdampak pada terpuruknya perekonomian para pekerja seni pertunjukan di Pati akibat tidak adanya jadwal manggung.

Baca juga: Polda Jateng Tetapkan Tersangka Perempuan Debt Collector Pinjol, Modus Teror dan Tebar Pornografi

Baca juga: Debt Collector Pinjol Ngotot Tagih Nasabah hingga Sebar Teror, Ternyata Sebesar Ini Komisi Didapat

Hal tersebut juga dialami Jumadi (48), warga Dukuh Terbaos, Desa Rejoagung, Kecamatan Trangkil.

Sebelum pandemi Covid-19 melanda, dia bekerja sebagai pembawa acara atau pranotocoro di panggung-panggung hiburan.

Setelah pandemi menerjang, pekerjaannya di dunia pertunjukan terpaksa berhenti sementara dan dia harus memutar otak untuk mencari sumber pendapatan lain.

Kini ia mengumpulkan pundi-pundi rupiah dengan menjadi pengrajin layang-layang.

"Saya dapat ide untuk membuat layang-layang saat sedang berjemur. Karena saat pandemi ini kita dianjurkan untuk berjemur. Saat itu saya berpikir kok enggak ada kegiatan. Akhirnya saya buat layang-layang sambil berjemur," ujar Jumadi saat ditemui di kediamannya, Senin (18/10/2021).

Setelah jadi satu buah layang-layang, dia memajangnya di teras rumah. Tak disangka, ada orang lewat yang tertarik pada layangan buatan Jumadi. Orang tersebut kemudian membelinya.

"Setelah itu ada pesanan terus, orang minta dibuatkan layang-layang berbagai bentuk. Akhirnya malah jadi sumber penghasilan," ungkap dia.

Sejak mulai menekuni aktivitas ini sekira akhir 2020 lalu, hingga kini Jumadi mencatat telah menjual 107 buah layang-layang.

Dia mematok harga mulai puluhan ribu, ratusan ribu, hingga jutaan rupiah per buah layang-layang. Bergantung ukuran dan tingkat kerumitan pembuatannya.

"Ada yang sampai Rp 1,5 juta, yaitu layangan naga. Tapi paling banyak saya buat yang murah, kisaran 50 ribu atau 70 ribu," ujar dia.

"Jenis layangan kan banyak. Ada badolan, gapangan, merakan, ram-raman, kepala barong, pesawat, helikopter. Itu juga menentukan harga. Yang simpel seperti gapangan paling saya jual Rp 50 ribu. Burung hantu, elang saya jual Rp 75 ribu," tambah Jumadi.

Baca juga: Dinsos Pemkab Semarang Bagikan Paket Sembako ke Warga Terdampak Covid-19

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved