Berita Semarang
Bedah Buku Bermula Kembara Bermuara Kendara Karya Setia Naka Andrian, Memungut Ide dari Hal Sepele
Pengalaman adalah guru terbaik, begitu ungkapan kata-kata bijak. Pada kenyataannya memang begitu, pengalaman memberi manusia banyak pelajaran.
Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: moh anhar
TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Pengalaman adalah guru terbaik, begitu ungkapan kata-kata bijak. Pada kenyataannya memang begitu, pengalaman memberi manusia banyak pelajaran, ide, serta gagasan.
Dari perjumpaaan bertemu seseorang atau berkunjung ke suatu tempat yang jauh, serta peristiwa-peristiwa yang berkesan, semua itu mengayakan pengalaman batin manusia.
Hal itulah di antaranya yang menjadi sumber dari penciptaan puisi bagi penyair dan dosen Universitas PGRI Semarang, Setia Naka Andrian.
Baca juga: Pemkab Kendal Genjot Tumbuhnya UMKM Pesantren, Tiap Pondok Punya Satu Produk Unggulan
Baca juga: Dosen Teknik Elektro USM Pasang Lampu Taman Biopori, Bisa Mengurangi Biaya Listrik
Baca juga: Polres Karanganyar Dirikan Gerai Vaksinasi Presisi, Layani Pemohon SIM, SKCK dan Masyarakat Umum
"Pertemuan dengan orang-orang serta perjalanan yang saya alami, memantik saya untuk menuliskannya dalam bait-bait puisi. Bahkan di jalan pun seringkali saya mendapat ide menulis puisi," kata Setia saat bedah buku 'Bermula Kembara Bermuara Kendara' karya Setia Naka Andrian di UPT Perpustakaan Universitas PGRI Semarang, Kamis (21/10/2021).
Dalam keterangan tertulis, penyair dan pegiat Komunitas Lereng Medini, Heri CS, yang didaulat sebagai pengupas, melihat kepekaan Setia dalam mencatat peristiwa keseharian begitu besar.
"Bahkan pertemuan dengan seorang kawan bisa menjadi bahan untuk menulis puisi. Ini menunjukkan betapa peka Setia Naka ini memungut ide dari hal-hal sepele," ucapnya.
Ia juga menilai, Setia Naka mampu mengombinasikan pengalaman itu ke dalam puisi dengan tegangan antara yang liris dan prosaistik.
Sementara itu, Kepala UPT Perpustakaan, Endah Rita Sulistya Dewi menuturkan, pemaparan dari penulis buku dan pembahasnya memberi pemahaman yang sederhana terkait bagaimana sebuah puisi ditulis.
"Apa yang disampaikan Mas Setia Naka ini membuat kita tahu, bahwa menulis puisi berasal dari pengalaman sehari-hari. Tinggal kita yang seharusnya peka melihat keadaan," jelasnya.
Baca juga: Hari Santri Nasional, Gubernur Ganjar dan Anggota DPRD Jateng Kompak Sarungan saat Sidang Paripurna
Baca juga: Pinjol yang Bikin Ibu di Wonogiri Gantung Diri Ditangkap, Terungkap Cara Mereka Meneror Siang Malam
Baca juga: Jadwal Bola Liga Inggris, Big Match Manchester United Vs Liverpool dan Chelsea Vs Norwich City
Endah menambahkan bahwa program bedah buku akan rutin digelar tiap tahun guna memberi informasi tambahan terkait buku-buku baru.
Serta untuk turut mengajak mahasiswa lebih sering berkunjung ke perpustakaan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/komunitas-lereng-medini-heri-cs.jpg)