Sabtu, 23 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

OPINI

OPINI Achmad Sultoni : Meraga dan Menjiwai Bahasa Indonesia

BAHASA Indonesia memiliki posisi penting bagi perjalanan bangsa Indonesia. Namun, kita belum sepenuhnya mampu memaknai arti penting bahasa Indonesia

Tayang:
Intisari
BAHASA INDONESIA 

Achmad Sultoni

Dosen di Institut Teknologi Telkom Purwokerto

BAHASA Indonesia memiliki posisi penting bagi perjalanan bangsa Indonesia. Namun, kita belum sepenuhnya mampu memaknai arti penting bahasa Indonesia bagi bangsa Indonesia. Tidak sedikit orang menganggap mempelajari penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah pekerjaan sia-sia.

Tidak sedikit pula generasi muda menganggap bahasa asing lebih kontekstual dalam menjalin pergumulan di era global. Padahal, bahasa dan bangsa Indonesia sejatinya sulit dipisahkan. Bahasa Indonesia menjadi penyokong besar dalam merawat rasa persatuan dan kesatuan, serta menumbuhkembangkan sebuah bangsa besar bernama Indonesia.

Kini kita berada di bulan yang penuh sukacita bagi bahasa Indonesia. Bulan Oktober yang filosofis, kita memperingatinya sebagai bulan bahasa. Hal ini bermula dari fakta sejarah pada 93 tahun yang lalu. Tepatnya pada 28 Oktober 1928 para pemuda bangsa Indonesia berikrar untuk bersetia“Menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia”. 

Peristiwa itu kita kenang sebagai Sumpah Pemuda. Kendatipun melimpahnya bahasa daerah yang kita miliki, tetapi para pemuda kita amat jernih memikirkan arah masa depan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia diyakini mampu menyatukan sebuah bangsa yang multikultural. Akhirnya, di tengah keberagaman bahasa yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, dipilihlah bahasa Indonesia sebagai napas komunikasi dan kebudayaan nasional.

Bisa dibayangkan, sebuah bangsa yang dikenal dengan aneka bahasanya itu bertahun-tahun dapat disatukan oleh sebuah bahasa. Masing-masing bahasa daerah tidak perlu memperebutkan bahasa mana yang akan dipakai untuk alat komunikasi antarbangsa yang beragam itu.

Hal yang paling menarik adalah para pemuda kita di butir ketiga Sumpah Pemuda tidak dikatakan “menjunjung bahasa yang satu bahasa Indonesia”. Kesadaran bahwa bahasa daerah adalah aset besar di dalam upaya memajukan peradaban sebuah bangsa. Bahasa daerah harus dilestarikan dan harus terus hidup. Oleh karena itu, di butir ketiga Sumpah Pemuda secara tegas dikatakan “menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia”.

Tantangan kini

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan,dan tahun-tahun kemerdekaan telah kita lalui. Bahasa Indonesia berperan penting dalam mendampingi perjalanan panjang bangsa Indonesia. Namun perlu kita renungi, sudahkah kita menjiwai bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa kita?

Di tengah situasi masifnya penggunaan bahasa Inggris oleh masyarakat kita di era yang makin mengglobal ini. Di tengah krisisnya rasa percaya diri untuk bangga akan bahasanya sendiri. Mungkin kita sendiri bisa saja menjawab bahwasanya bahasa Indonesia sudah tergusur oleh bahasa Inggris.

Seorang linguis Ajip Rosidi yang baru berpulang tahun lalu pernah mengutarakan kegelisahannya tentang hal yang sama. Kegelisahan itu ia tuangkan dalam buku berjudul Bahasa Indonesia Bahasa Kita Apakah Diganti dengan Bahasa Inggris (Pustaka Jaya, 2009).

Satu pokok masalah menarik yang ia soroti ialah tentang gemarnya masyarakat kita, khususnya dari kalangan akademis dan tokoh, menampilkan kegenitannya menggunakan bahasa gado-gado. Berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa Inggris.

Bahkan lebih dominasi bahasa Inggrisnya. Menurutnya, kebiasaan itu bukan karena bahasa Indonesia tidak cukup istilah buat menyampaikan perasaan dan pikirannya. Melainkan karena khawatir tidak dianggap tidak pandai, tidak intelek, dan tidak modern. Ada pula anggapan lain yang lebih parah yakni memandang bahasa Indonesia lebih rendah dibanding bahasa Inggris.

Apa yang dikhawatirkan oleh Ajip Rosidi sejauh ini masih relevan kita renungkan. Ketika kita dengan mudahnya menemukan pampangan bahasa Inggris di baliho-baliho iklan di pinggir jalan, di plang-plang nama jalan, nama-nama perumahan, dan tempat-tempat umum lainnya. Kadang mungkin banyak orang bertanya-tanya, itu iklan ditujukan untuk siapa?

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved