Minggu, 24 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

OPINI

OPINI Achmad Sultoni : Meraga dan Menjiwai Bahasa Indonesia

BAHASA Indonesia memiliki posisi penting bagi perjalanan bangsa Indonesia. Namun, kita belum sepenuhnya mampu memaknai arti penting bahasa Indonesia

Tayang:
Intisari
BAHASA INDONESIA 

Sementara para pembacanya hampir bisa dipastikan adalah orang Indonesia. Sebuah masyarakat penutur asli bahasa Indonesia, sebuah bahasa yang jumlah penuturnya terbesar keempat di dunia. Di lingkungan kampus, baik kalangan mahasiswa maupun dosennya sama saja. Saya tidak susah buat menemukan percakapan demi percakapan yang cita rasa gado-gado seperti disinggung Ajip Rosidi.

Lain hal tapi dalam konteks yang sama. Di masa pandemi ini, virus korona menjalar ke mana-mana memporak-porandakan tatanan kehidupan. Tak terkecuali merasuk ke tubuh bahasa Indonesia. Secara cepat kita dipaksa bertemu dengan istilah-istilah asing.

Istilah-istilah tersebut antara lain social distancing, work from home, work from office, stay home, suspect, lockdown, dan lain-lain. Istilah-istilah tersebut nyaris setiap hari kita dengar dan baca di awal-awal masa wabah korona. Untunglah tidak berlangsung lama. Para pakar bahasa dan didukung oleh media massa berhasil mencari padanan katanya. Walhasil lahir istilah seperti pembatasan sosial, di rumah saja, bekerja dari rumah, bekerja dari kantor, kini mulai akrab dan lebih banyak digunakan oleh khalayak umum.

Roh Berbangsa

Satu-satunya ramuan mujarab buat memupuk rasa bangga anak-anak bangsa terhadap bahasa Indonesia tidak lain yakni meraga dan menjiwai bahasa Indonesia itu sendiri. Meraga berarti kita harus bisa ‘menguasai, mengomunikasikan, dan mengenalkan’ bahasa Indonesia.

Kita menguasai, tanpa bosan mempelajari seluk beluk atau segala sesuatu tentang bahasa Indonesia. Bahasa teramat dinamis. Terdapat pembaruan dari masa ke masa, umpamanya dari segi kosakata. Kita mesti dapat mengikuti dengan baik dinamika di dalam bahasa Indonesia sebab itu adalah bahasa bangsa dan negara kita.

Mengkomunikasikan, itu artinya kita harus bangga menggunakan bahasa Indonesia. Tentu tidak mudah di tengah pergaulan global yang makin terpengaruh oleh bahasa Inggris.

Meski pelan-pelan, setidaknya banyak orang konsisten untuk bangga menggunakan bahasa Indonesia akan sangat berarti. Hal baik pasti akan memiliki kekuatan untuk ditularkan pada orang lain. Demikianlah kata bijak. Dan memang begitu, bahwa keteladanan amat penting dan makin kita butuhkan sekarang ini.

Mengenalkan, sejatinya aspek ketiga ini turut serta dalam aspek mengkomunikasikan. Bila seseorang menggunakan bahasa Indonesia di tengah orang-orang penutur bahasa asing, itu artinya ia sedang mencoba mengenalkan bahasanya. Semua berawal dari rasa bangga terhadap bahasa Indonesia. Ia tidak merasa inferior dengan bahasanya sendiri.

Para pengajar bahasa Indonesia untuk penutur asing (BIPA) di seluruh penjuru dunia patut kita apresiasi. Mereka adalah para diplomat bagi bahasa Indonesia di kancah internasional untuk mengenalkan bahasa Indonesia. Berbagai negara pun berlomba mempelajari bahasa Indonesia melalui kursus-kursus, membuka jurusan bahasa Indonesia, memasukkan mata pelajaran bahasa Indonesia ke dalam kurikulum, dan lain-lain.

Tak kalah penting dari meragai—menguasai, mengkomunikasikan, dan mengenalkan—adalah menjiwai. Kita mesti belajar memasukkan bahasa Indonesia dalam jiwa kita masing-masing diri anak-anak bangsa. Kita memartabatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang harus dijunjung tinggi dengan mengutamakannya dalam hal komunikasi. Fenomena sikap keminggris adalah berbahaya.

Lambat laun kebiasaan demikian akan menjadikan kita merasa bahwa bahasa Indonesia tidak penting, kuno, kurang modern, kurang intelek dan seterusnya. Dari itulah mari kita tempatkan bahasa Indonesia sebagai laku hidup, sebab konon bahasa menunjukkan bangsa. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved