Sabtu, 11 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Jepara

Meski Saling Beda Agama, Warga Desa Tempur Jepara Hidup Akur dan Hidupkan Gotong Royong

Satu cara bagaimana hidup rukun di tengah masyarakat yang tidak seragam adalah dengan saling menghargai perbedaan.

Penulis: Muhammad Yunan Setiawan | Editor: moh anhar
TRIBUN JATENG/MUHAMMAD YUNAN SETIAWAN
Masjid Nurul Hikmah dan Gereja Injil Tanah Jawa saling berhadap-hadapan. Keberadaan tempat ibadah dari dua agama ini menunjukkan bagaimana masyarakat Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, bisa hidup akur di tengah perbedaan. 

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Satu cara bagaimana hidup rukun di tengah masyarakat yang tidak seragam adalah dengan saling menghargai perbedaan.

Itulah yang dilakukan masyarakat Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara.

Di desa tersebut, tempat ibadah gereja dan masjid berdekatan.

Gereja Injil Tanah Jawa (GITJ) dan Masjid Nurul Hikmah saling berhadap-hadapan.

Hanya terpisahkam sepetak jalan beton berukuran lima meter. Mereka saling menghormati satu sama salin.

Baca juga: Kasus Demam Berdarah Dengue di Karanganyar Meninggi, Pemberantasan Sarang Nyamuk Digencarkan

Baca juga: Potret Ngeteh Sri Mulyani dan Retno Marsudi di Roma Italia Jelang KTT G20

Baca juga: Dituduh Aniaya Mertua Yolanda Hadid, Zayn Malik dan Gigi Hadid Dikabarkan Putus

Kepala Desa Tempur Mariyono mengatakan, hal yang membanggakan di desanya adalah mayoritas tidak mengucilkan minoritas.

Pasalnya, perbedaan adalah rahmat Tuhan. Tidak perlu lagi dipermasalahkan.

Dia menyampaikan, terdapat 1. 285 keluarga di Desa Tempur. 11 di antaranya memeluk agama Kristen.

Keragaman keyakinan di Desa Tempur itu dari dulu hingga kini tidak pernah menimbulkan permasalahan yang merusak kerukunan warga.

Kesadaran saling menghormati keyakinan seseorang, kata Mariyono, sudah dimiliki warga Tempur.

"Dari sisi sosial, keguyuban warga bisa terlihat saat ada saudara beda keyakinan ada acara di masjid, warga Tempur tidak keberatan sisi bangunan gereja ditempati jamaah saat ruangan masjid tidak muat lagi menampung. Begitu juga saat ada acara gereja, warga muslim ikut menjaga," ujarnya.

Menurutnya, masyarakat sudah puluhan tahun hidup di kawasan di mana tempat ibadah mereka berdekatan.

Pada 1980-an gereja lebih dulu berdiri.

Selang beberapa tahun kemudian, warga gotong rotong membangun masjid yang ada di depan gereja.

Saat proses pembangunan masjid itu juga, kata dia, warga Kristen juga ikut gotong royong. Semua saling dukung demi kelancaran acara agama masing-masing.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved