Jumat, 8 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Solo

Sejarawan UGM Prof Suhartono: Paundra dan Bhre sebagai Alternatif Utama Pengganti Mangkunegara IX 

GPH Paundrakarna Jiwa Suryanegara dan GPH Bhre Cakrahutomo Wirasudjiwo disebut sebagai alternatif utama pengganti Mangkunegara IX. 

Tayang:
Penulis: Muhammad Sholekan | Editor: moh anhar
TRIBUN JATENG/MUHAMMAD SHOLEKAN
Sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Suhartono Wiryopranoto saat memaparkan terkait suksesi di Pura Mangkunegaran, Rabu (3/11/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof Suhartono Wiryopranoto sebut sosok Gusti Pangeran Haryo (GPH) Paundrakarna Jiwa Suryanegara dan GPH Bhre Cakrahutomo Wirasudjiwo, sebagai alternatif utama pengganti Mangkunegara IX. 

Hal itu disampaikan Prof Suhartono saat menjadi pembicara kunci dalam Seminar Memetri Nilai-Nilai Mangkunegaran dalam Tantangan Masa Depan, di Fave Hotel Solo, Rabu (3/11/2021) yang digelar Himpunan Pewaris Nilai-Nilai Mangkunegaran (HPNM). 

Pernyataan Prof Suhartono menanggapi fenomena munculnya tiga sosok yang disebut-sebut berpeluang memimpin Pura Mangkunegaran. 

Baca juga: Seng Pembatas Proyek Pembangunan Dibuka, Aktivitas Pasar Johar Semarang Sudah Bisa Terlihat

Baca juga: Gubernur Ganjar Pranowo Pamerkan Motor Listrik Buatan Polytron Kudus Jateng

Baca juga: Mengenang Prosesi Ruwat Pemotongan Rambut Gembel Masa Silam, Ini Pengakuan Kakek 71 Tahun Asnawi

Seperti diketahui selain Paundra dan Bhre ada sosok KRMH Roy Rahajasa Yamin, yang merupakan cucu Mangkunegara VIII sekaligus cucu Moh Yamin. 

Apalagi dalam sejarahnya, sosok penerus tampuk kepemimpinan Pangeran Sambernyawa di Pura Mangkunegaran tak mesti putra mahkota. 

“Ada lagi, KRMH Roy Rahajasa Yamin. Ini alternatif ke tiga. Tentu saja yang diutamakan yang satu dan dua itu dulu,” tuturnya. 

Pendapat Suhartono mendasarkan kultur masyarakat Jawa yang patriarkis. 

Artinya, sosok yang selalu diminta sebagai pengganti kepemimpinan adalah keturunan laki-laki. 

Anak laki-laki itu yakni sosok yang lahir dari istri baik permaisuri atau bukan. 

Menurutnya, bila ada dua anak laki-laki, menurut Suhartono, yang diutamakan merujuk kultur Jawa adalah yang usianya lebih tua. 

Namun, keputusan akhir berada di tangan para pemegang kendali kekuasaan di Pura Mangkunegaran, yakni para pemegang adat. 

“Dari kedua sosok itu yang senior yang Paundra. Tapi sekarang masalahnya bagaimana kalau ada dua calon? Siapa yang menyelesaikan? Tentu saja istilahnya ya para pemegang kendali, siapa? Ya tentu saja para pemegang adat,” ungkapnya. 

Dia mengatakan, di satu sisi ada sosok Paundra yang lebih berusia 42 tahun dan Bhre yang baru berusia 24 tahun. 

Guru Besar Sejarah itu berharap para pemegang adat memegang teguh nilai-nilai utama Pura Mangkunegaran agar tak terjadi perpecahan. 

“Tentu saja jalan yang sangat baik tetap memegang teguh nilai-nilai yang utama, supaya praja Mangkunegaran tidak terjadi yang disebut dengan disintegrasi. Harus musyawarah, katakanlan majelis tinggi Pura Mangkunegaran,” jelasnya. 

Musyawarah tersebut, lanjut Suhartono, untuk mencapai mufakat sebagai solusi yang paling baik bagi Pura Mangkunegaran

Dia ingin Pura Mangkunegaran bisa mempertahankan nilai-nilai positif yang telah bertahan selama puluhan tahun. (*) 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved