Minggu, 12 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Nasional

Mahasiswa ITS Teliti Kualitas Udara di Jawa Saat Pandemi, Ini Hasilnya

Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Moh Faisal meneliti kualitas udara di Pulau Jawa sejak Januari 2020 hingga Juli 2021. Mahasiswa D

Editor: m nur huda
TribunJateng.com/Hermawan Handaka
Pemerintah kembali menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 hingga 9 Agustus 2021 namun sejumlah jalan di Kota Semarangyang semula di tutup sudah dibuka kembali seperti di Jalan Pandanaran Kota Semarang, Rabu (4/8/21). (Tribun Jateng/Hermawan Handaka) 

TRIBUNJATENG.COM - Selama pandemi covid-19, aktivitas warga dilakukan pembatasan untuk menghindari kerumunan guna mencegah penularan virus corona.

Pengurungan mobilitas masyarakat di luar rumah diberlakukan di semua sektor. Termasuk sektor perkantoran, diberlakukan Work From Home (WFH).

Sama halnya dengan kegiatan sekolah dan kuliah pun diganti dengan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Saat kasus Covid-19 melonjak drastis beberapa waktu lalu, pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan perintah dalam Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Tanpa disadari, kebijakan ini juga berdampak pada kualitas udara pada suatu daerah.

Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Moh Faisal meneliti kualitas udara di Pulau Jawa sejak Januari 2020 hingga Juli 2021. Mahasiswa Departemen Teknik Geomatika ITS ini terkejut dengan hasil temuan dari penelitiannya.

Pasalnya, kualitas udara di Indonesia fluktuatif dan tidak terus menurun di masa pandemi Covid-19 saat mobilitas warga dibatasi.

"Pada penelitian ini saya menggunakan indikator gas nitrogen dioksida (NO2) dan karbon monoksida (CO) sebagai hasil pembakaran kendaraan bermotor serta pemantauan terhadap ozon (O3)," kata Faisal seperti dikutip dari laman ITS, Sabtu (6/11/2021).

Grafik yang didapatkan menunjukan mobilitas masyarakat masih tinggi pada periode tertentu, misalnya pada masa liburan.

Hal tersebut membuat Faisal menyimpulkan, penerapan kebijakan pemerintah pada masa pandemi Covid-19 belum maksimal.

Mahasiswa angkatan 2018 ini mendapatkan data berdasarkan hasil penginderaan jauh satelit Sentinel 5P milik Corpenicus.

Selanjutnya, pengolahan data dilakukan dengan menggunakan Google Earth Engine.

"Cara ini dapat mengolah citra satelit secara daring dengan menggunakan bahasa pemrograman JavaScript dan Phyton," terang Faisal.

Menurut Faisal, data diolah dan ditampilkan dalam bentuk grafik pada setiap bulan.

Selanjutnya, data tersebut diolah kembali sesuai kaidah kartografi. Seperti penambahan legenda dan informasi peta.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved