Berita Banjarnegara
Melihat Seni Ngelik, Sholawatan dengan Nada Tinggi seperti Ngeroks yang Hampir Punah
Ngelik adalah seni melantunkan salawat diiringi rebana dengan nada yang sangat tinggi laiknya penyanyi rock.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: m nur huda
TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Banyaknya budaya, tradisi dan sejarah di Kabupaten Banjarnegara bisa saja suatu saat punah jika tidak dilestarikan.
Ini yang melatarbelakangi Program Organisasi Penggerak (POP) Yayasan Sahabat Muda Indonesia (YSMI) untuk menggerakkan 20 sekolah sasaran mendokumenterkan itu dalam media audio visual.
Di antaranya tradisi seni yang hampir punah adalah Ngelik. Tradisi yang nyaris punah ini punya kekhasan tersendiri.
Ngelik adalah seni melantunkan selawat diiringi rebana dengan nada yang sangat tinggi laiknya penyanyi rock.
Instruktur POP YSMI Aziz Arifianto mengatakan, pihknya berusaha mendokumentasikan kesenian itu agar tidak punah.
Terlebih narasumber atau pelestari seni itu sudah banyak yang ditelan usia. Di Kecamatan Karangkobar misalnya, ia menyebut sekarang hanya ada 5 orang anggota kelompok seni Ngelik yang usianya sudah senja.
Beruntung, meski sudah sepuh, semangat mereka untuk melestarikan Ngelik tak pernah hilang.
Meski sudah tak pernah mementaskan kesenian itu, mereka masih sering memainkan kesenian itu di sela waktu luang mereka.
"Kalau tidak didokumentasikan, bisa hilang tradisi ini," jelas Aziz, Sabtu (13/11/2021).
Aziz mengatakan, kesenian ini memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi.
Anggota harus melantunkan nada-nada tinggi diiringi alat musik berupa terbang dan kendang yang menjadi karakteristik Ngelik.
"Alunan nadanya memang unik dan sulit. Mungkin hal itu yang menyebabkan hampir tidak ada generasi muda yang tertarik untuk melestarikan Ngelik," katanya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/sejumlah-warga-di-kecamatan-karangkobar-banjarnegara-memainkan-seni-ngelik.jpg)