Berita Solo
Suksesi Pura Mangkunegaran, Pakar Sejarah: Bukan Seperti Keraton Solo
Suksesi di Pura Mangkunegaran dinilai cair, berbeda dengan pecahan Mataram lain.
Penulis: Muhammad Sholekan | Editor: galih permadi
Menurutnya, saat itu pemilihan juga situasional, karena Mangkunegara VI adalah anak Mangkunegaran ke IV.
Pasalnya selain jiwa militer, tetapi dikenal sosok yang sangat mumpuni secara manajerial dan pebisnis hebat kala itu.
"Mangkunegara VI dilantik menduduki jabatan tatkala pada masa Mangkunegara V dilanda krisis ekonomi.
Saat itu Mangkunegara IV merintis industri (sangat maju), seorang kepala pemerintahan dan enterprenuer hebat," ungkapnya.
Syarat Jadi Raja
Sementara itu, Pakar Budaya UNS, Prof Andrik Purwasito menjelaskan suksesi Mangkunegara IX ke X adalah bersatunya keinginan kontekstual dan situasional dengan Wahyu Keprabon.
Adapun suksesi bisa dari berbagai saluran, konvensional dan nonkonvensial.
Andrik mencontohkan, dahulu seorang 'penjudi' Ken Arok dan buka siapa-siapa tiba-tiba ditemukan Logawe sehingga bisa menjadi Raja Singasari.
Ken Arok sebagai raja pertama bergelar Sri Rajasa Bathara Sang Amurwabhumi pada tahun 1222-1227 Masehi.
"Saat itu sosok Logawe melegitimasi seorang penjudi menjadi raja.
Akhirnya Ken Arok jadi Raja beneran. Logawe bilang kamu (Ken Arok, red) sekarang jadi Anak Wisnu.
Kata Logawe begitu, bukan trah keturunan," jelasnya.
"Tidak harus orang dalam, artinya 'rembesing madu'.
Orang yang suka bertapa dan bijaksana.
Saya tidak mengomentari dalam Pura.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/pengamat-sejarah-raden-surojo-kanan-saat-memaparkan-materi.jpg)