Senin, 1 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Solo

Suksesi Pura Mangkunegaran, Pakar Sejarah: Bukan Seperti Keraton Solo

Suksesi di Pura Mangkunegaran dinilai cair, berbeda dengan pecahan Mataram lain.

Tayang:
Penulis: Muhammad Sholekan | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG/MUHAMMAD SHOLEKAN
Pengamat Sejarah, Raden Surojo (kanan) saat memaparkan materi dalam diskusi bertajuk 'Menyoal Suksesi di Pura Mangkunegaran. Wahyu Keprabon untuk Siapa? pada Jumat (26/11/2021). 

Menurutnya, saat itu pemilihan juga situasional, karena Mangkunegara VI adalah anak Mangkunegaran ke IV.

Pasalnya selain jiwa militer, tetapi dikenal sosok yang sangat mumpuni secara manajerial dan pebisnis hebat kala itu.

"Mangkunegara VI dilantik menduduki jabatan tatkala pada masa Mangkunegara V dilanda krisis ekonomi.

Saat itu Mangkunegara IV merintis industri (sangat maju), seorang kepala pemerintahan dan enterprenuer hebat," ungkapnya.

Syarat Jadi Raja

Sementara itu, Pakar Budaya UNS, Prof Andrik Purwasito menjelaskan suksesi Mangkunegara IX ke X adalah bersatunya keinginan kontekstual dan situasional dengan Wahyu Keprabon.

Adapun suksesi bisa dari berbagai saluran, konvensional dan nonkonvensial.

Andrik mencontohkan, dahulu seorang 'penjudi' Ken Arok dan buka siapa-siapa tiba-tiba ditemukan Logawe sehingga bisa menjadi Raja Singasari.

Ken Arok sebagai raja pertama bergelar Sri Rajasa Bathara Sang Amurwabhumi pada tahun 1222-1227 Masehi.

"Saat itu sosok Logawe melegitimasi seorang penjudi menjadi raja.

Akhirnya Ken Arok jadi Raja beneran. Logawe bilang kamu (Ken Arok, red) sekarang jadi Anak Wisnu.

Kata Logawe begitu, bukan trah keturunan," jelasnya.

"Tidak harus orang dalam, artinya 'rembesing madu'.

Orang yang suka bertapa dan bijaksana.

Saya tidak mengomentari dalam Pura.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved