Berita Semarang

Di Tangan Pemuda Asal Bambankerep Kota Semarang Ini, Burung Emprit Bisa Bernilai Rp 10 Juta

Burung dengan nama ilmiah Esteildidae yang dulunya hanya dibiarkan terbang begitu saja, kini jadi koleksi dan dibudidayakan Agus Robert.

Penulis: budi susanto | Editor: moh anhar

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Mengoleksi dan beternak burung gereja atau emprit kini jadi hobi baru pecinta burung.

Namun yang dikoleksi dan diternak bukanlah burung emprit biasa.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Agus Robert, pemuda 31 tahun asal Bambankerep Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang.

Burung dengan nama ilmiah Esteildidae yang dulunya hanya dibiarkan terbang begitu saja, bahkan dianggap hama oleh petani, kini jadi koleksi dan dibudidaya oleh Agus.

Baca juga: Terima Hadiah 2 Kapal Cepat dan Pakai Seragam Baru, Jadi Kejutan Ditpolairud Polda Jateng HUT ke 71

Baca juga: Ammar Zoni, Ricky Harun, dan Richard Kyle Ajak Masyarakat Berpartisipasi Menyukseskan DBON

Bahkan burung-burung tersebut memiliki nilai fantastis, karena bisa mencapai Rp 10 juta untuk satu pasang jantan dan betina.

Tak hanya emprit Jawa, Agus juga mengoleksi dan beternak emprit jenis black head asal Papua, emprit Jepang, serta gold amadin asal Australia.

Pria 31 tahun tersebut memilih mengoleksi dan beternak burung emprit lantaran perawatan yang sangat mudah, dan memiliki harga tinggi.

“Kalau perawatan sangat mudah, pakan hanya biji-bijian, ditambah protein dari sayur dan kalsium sesuai pakan alami burung emprit,” katanya, Rabu (1/12/2021).

Menyoal harga, Agus mengaku paling mahal bisa mencapai Rp 10 juta untuk satu pasang jantan dan betina.

“Sebenarnya yang paling berpengaruh adalah warna, kalau warnanya pekat pasti harganya tinggi. Namun sampai sekarang paling mahal jenis gold amadin, dengan harga Rp 3,5 juta sampai Rp 10 juta untuk satu pasang,” ujarnya.

Hampir tiga tahun terakhir Agus mencoba beternak burung emprit, terkiat pasar, ia mengaku permintaan terus meroket.

“Dulu sepasang gold amadis hanya Rp 1,5 juta, sekarang harganya menggila. Apalagi jika warnanya kuning keemasan dipadu warna merah dan beberapa warna mencolok lainya,” paparnya.

Melihat peluang tersebut, pemuda pecinta binatang itu mencoba melakukan perkawinan antar jenis burung emprit.

“Saya mencoba melakukan perkawinan untuk menciptakan warna baru pada burung emprit, istilahnya ya bermain genetika. Alhamdulilah beberapa sudah bertelur dan menetas dengan perpaduan warna beragam,” kata Agus yang sudah menjual ratusan pasang burung emprit berbagai jenis tersebut.

Karena telah menciptakan burung emprit dengan warna baru, Agus juga mematenkannya dengan membenamkan gelang pada kaki burung dengan kode VBF.

“VBF sebenarnya singkatan dari Vano Bird Fram, Vank itu nama anak saya. Ya supaya tahu genetika dari burung yang saya ternak, jadi keturunan berapa dan indukan jenis apa saja, sebagai patokan agar jelas dan runtut silsilahnya,” ucapnya.

Burung emprit yang diternak oleh Agus juga sudah dipasarkan di beberapa provinsi di Pulau Jawa, seperti Jawa Timur, Jawa Barat, DIY, Jawa Tengah dan lokal Semarang.

Baca juga: Toyota Vios Terbakar di Tol Kaliwungu Kendal, 4 Orang Penumpang Selamat

Baca juga: Dishub Semarang Rencanakan Siapkan Lima Posko Terpadu saat Nataru Mendatang

Ia juga menambahkan, beternak burung emprit tergolong susah terutama untuk mendapatkan anakan dengan warna baru serta berjenis kelamin betina.

“Kalau dibilang beternak burung emprit mudah, menurut saya sedikit sulit karena butuh ketelatenan. Dan yang paling penting memahami kebiasaan burung, misalnya ada yang tidak suka kandang terlalu terang saat berkembang biak. Apalagi untuk mendapatkan anakan dengan jenis betina lumayan sulit, prosentasenya dari 10 pasang, anakan dengan jenis kelamin betina hanya 30 persen,” tambahnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved