Jumat, 10 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

OPINI

OPINI DR Arri Handayani : Fenomena Manusia Silver, Bagaimana Kondisi Psikologinya

FENOMENA manusia silver saat ini sedang marak diperbincangkan. Mereka adalah orang-orang yang mengecat seluruh tubuh bahkan mukanya

Bram/Tribun Jateng
Dr Arri Handayani, SPsi,MSi 

Oleh DR. Arri Handayani, SPsi, Msi
Kepala Pusat Kependudukan Perempuan dan Perlindungan Anak LPPM UPGRIS

FENOMENA manusia silver saat ini sedang marak diperbincangkan. Mereka adalah orang-orang yang mengecat seluruh tubuh bahkan mukanya dengan menggunakan cat berwarna silver.

Kondisi demikian, tidak hanya muncul di Semarang, tetapi juga tampak di berbagai kota di Indonesia. Situasi ini memprihatinkan, karena pelaku ternyata bervariasi baik laki-laki maupun perempuan, mulai dari anak-anak, dewasa hingga usia lanjut.

Mereka yang berusia lanjut yang seharusnya dapat beristirahat di rumah, tetapi masih harus turun ke jalanan demi menopang hidup keluarga.

Bahkan mirisnya lagi, ada seorang bayi berusia 10 bulan yang diajak ke jalanan yang juga wajah dan bajunya dilumuri cat berwarna silver.

Kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena di samping kondisi kulit tubuh yang nantinya akan bermasalah, apalagi kulit bayi yang masih sangat rentan, juga terkait tumbuh kembang anak ketika berada di jalanan.

Penyebab banyaknya manusia silver saat ini salah satu diantaranya karena situasi pandemi yang melanda, bahkan belum tahu kapan akan berakhir.

Dampaknya, banyak orang terkena PHK, juga sulitnya mencari pekerjaan, sehingga kondisi ekonomi terpuruk. Di sisi lain, kebutuhan hidup kian merangkak, dan menuntut untuk terus dipenuhi.

Masalah ini seakan terpecahkan ketika melihat suatu “peluang” ketika mengamati orang lain menjadi manusia silver dan mendapatkan penghasilan.

Dengan demikian, munculnya manusia silver ini karena mengamati dan gethok tular. Mendengar cerita bahwa menjadi manusia silver “lebih” memungkinkan mendapatkan penghasilan daripada berpakaian apa adanya.

Untuk mereka yang masih berusia anak, menjadi manusia silver dilakukan, karena biasanya mereka adalah anak-anak yang drop out dari sekolah dan lingkungan yang tidak mendukung. Semua itu juga dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Penyebab ke jalanan

Banyak ditemuinya anak-anak bercat silver di jalanan, selain karena anak putus sekolah, juga karena faktor orang tua.

Dalam hal ini orang tua membiarkan bahkan mendorong anak untuk bekerja di jalanan demi menopang ekonomi keluarga. Anak-anak ini mengalami eksploitasi secara ekonomi. Kondisi lain karena situasi keluarga yang sering konflik ataupun terjadi kekerasan.

Dampaknya anak menghindari situasi tersebut dan lebih memilih berada di jalanan bersama teman-teman yang senasib. Kondisi yang memprihatinkan saat ini, mereka kehilangan figur orang tua, sehingga harus turun ke jalan untuk melanjutkan kehidupannya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved