Breaking News:

IT Telkom Purwokerto

Metode Belajar Anti Korupsi Mahasiswa Teknik Industri yang Menyenangkan

Dunia pendidikan memiliki peran yang sangat vital dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi.

Editor: abduh imanulhaq
IST
Achmad Zaki Yamani ST MT, Dosen Program Studi Teknik Industri Institut Teknologi Telkom Purwokerto 

Oleh: Achmad Zaki Yamani ST MT, Dosen Teknik Industri Institut Teknologi Telkom Purwokerto

DUNIA pendidikan memiliki peran yang sangat vital dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi. Kegagalan dalam pencegahan atau pemberantasan korupsi dianggap sebagai kegagalan dunia pendidikan, utamanya adalah pendidikan tinggi.

Ironisnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum lama ini merilis suatu informasi menarik bahwa kurang lebih 86% koruptor adalah mereka yang berpendidikan tinggi. Oleh karenanya berangkat dari suatu keprihatinan yang mendalam, perlu beragam upaya untuk melawan perilaku korupsi dalam setiap lini kehidupan, pendek kata setiap masing-masing kita harus mulai mengambil peran untuk bersama membentengi diri dari perilaku-perilaku yang koruptif. Negara hari ini menunggu aksi-aksi nyata dari semua lini untuk bersama melawan korupsi, tidak terkecuali dari dunia pendidikan yang menjadi garda depan dalam mendidik calon generasi emas Indonesia suatu saat nanti.

Lembaga pendidikan, pegiat pendidikan, pengamat pendidikan dan seluruh elemen yang peduli terhadap pendidikan, baik formal maupun informal sudah semestinya berkolaborasi lebih intens dengan menggandeng sektor maupun stakeholder yang terkait guna membangun ekosistem anti korupsi dalam dunia pendidikan menuju zona pendidikan berintegritas disemua tingkatan (jenjang) pendidikan yang ada saat ini. Giat dalam memberikan pemahaman dan pencegahan korupsi perlu lebih massif dan dengan cara yang unik agar bisa lebih diterima peserta didik. Frekuensi pembelajaran korupsi perlu mendapat ruang lebih sehingga resonansinya bisa menggema dan budaya-budaya anti korupsi bisa termanifestasikan kepada peserta didik sedini mungkin.

Sehubungan dengan isu pendidikan anti korupsi tersebut, salah satu dosen Teknik Industri Institut Teknologi Telkom Purwokerto Achmad Zaki Yamani dan beberapa mahasiswa berinisiatif merancang suatu metode belajar tentang anti korupsi menggunakan media permainan kartu. Karena ini menjadi bagian dari suatu metode belajar, maka dilengkapi juga dengan proses penilaian (assessment) kepada para pemain dalam permainan kartu ini, baik penilaian secara individual maupun kelompok.

Metode belajar anti korupsi menggunakan permainan kartu rencananya akan dimasukkan dalam muatan pembelajaran Mata Kuliah Kepemimpinan Ketrampilan Komunikasi (K3) di lingkungan S1 Teknik Industri sebagai bagian tidak terpisahkan dalam pembangunan karakter (character building) mahasiswa Teknik Industri. Adapun instrument penilaian dalam metode belajar ini menggunakan pendekatan penguasaan proses pembelajaran, atau lebih umum disebut dengan taksonomi bloom.

Urutan penilaian menurut taksonomi bloom di kontekstualkan dengan kebutuhan metode belajar anti korupsi, yaitu ditetapkan dalam 3 tahapan berjenjang, Pertama adalah pemahaman, Kedua adalah analisis dan Ketiga adalah evaluasi.

Penjelasan mengenai ketiga taksonomi bloom di atas bisa diuraikan sebagai berikut bahwa pemahaman dimaksudkan untuk memberikan wawasan perihal korupsi, suap, gratifikasi dan upaya-upaya pencegahan dan melawan korupsi. Analisis dimaksudkan untuk pendalaman dan mempertajam akan pemahaman anti korupsi dan evaluasi dimaksudkan untuk memberikan stimulus tentang arti keberanian melakukan deteksi dini terhadap sesuatu yang menyimpang dan identik dengan perilaku korupsi di lingkungan sekitar.

Metode belajar anti korupsi menggunakan permainan kartu sendiri terbagi menjadi 3 level permainan. Level 1 dideskripsikan oleh permainan dengan cara pilihan ganda (multiple choice). Level 2 dideskripsikan oleh permainan dengan cara memilih benar atau salah (True or False). Level 3 dideskripsikan oleh permainan dengan cara berdiskusi untuk menyelesaikan pertanyaan isian (essay) yang sudah disiapkan untuk pendalaman dan melihat sejauh mana indikator evaluasi bisa dinilai dengan baik.

Semoga hadirnya metode belajar anti korupsi dengan media permainan kartu bernama SULED (Super Leader) ini bermanfaat sebagai bagian dalam ekosistem pembangunan karakter peserta didik yang berintegritas sekaligus upaya jihad kita bersama dalam pencegahan perilaku maupun budaya koruptif. (*) 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved