Breaking News:

Berita Semarang

Momen Libur Segera Tiba, Dipandang Waktu yang Tepat untuk Mengkhitankan Anak, Apa Sih Manfaatnya?

Sirkumsisi atau yang lebih dikenal dengan istilah sunat di Indonesia, adalah prosedur bedah untuk membuang atau memotong kulup yang menutupi penis.

Penulis: M Nafiul Haris | Editor: moh anhar
DOKUMENTASI PRIBADI
dr Bramantyo Prakoso, M.Si.Med, Sp.B, Dokter Spesialis Bedah Umum RS Columbia Asia Semarang. 

TRIBUNJATENG, SEMARANG - Sirkumsisi atau yang lebih dikenal dengan istilah sunat di Indonesia, adalah prosedur bedah untuk membuang atau memotong kulit (kulup) yang menutupi penis, yang terdiri dari jaringan otot dan pembuluh darah.

 Dokter Bramantyo Prakoso MSiMed SpB, Dokter Spesialis Bedah Umum RS Columbia Asia Semarang, menerangkan, walaupun hanya sedikit bukti yang juga tidak meyakinkan, namun banyak orang meyakini bahwa kulup berperan melindungi dan menjaga kelembaban kepala penis, serta meningkatkan gairah seksual karena jaringan saraf tidak terputus.

Padahal di balik itu terdapat segudang manfaat sunat atau sirkumisi bagi kesehatan.

"Karena tujuan utama sirkumsisi adalah menjaga kebersihan sekitar penis sehingga dapat terhindar dari berbagai penyakit, antara lain fimosis, parafimosis, kandidiasis, serta tumor ganas," paparnya.

Baca juga: Curhatan Novia Widyasari hingga Ungkapan Ingin Mengakhiri Hidup, Ia Tuang Lengkap di Media Sosial

Baca juga: Detik-detik Kecelakaan Karambol di Tulungagung, Mobil Timor Hilang Kendali Tabrak Motor, 1 Meninggal

Ditambahkannya, salah satu alasan utama yang melatarbelakangi sunat adalah agama.

Di berbagai negara, sunat memiliki kombinasi antara dasar kebudayaan dan keagamaan.

Contohnya, prosedur sunat dianggap sebagai tanda seorang anak lelaki memasuki masa pubertas.

Hal ini seakan menjadi penjelasan mengapa di belahan negara lain, sunat dilakukan pada anak lelaki berusia 10 hingga 12 tahun.

Terlepas dari kepercayaan tersebut, terang Dokter Bramantyo, kulup perlu diangkat karena rentan terhadap gangguan kesehatan tertentu.

Kondisi ini meliputi kulup yang tidak mampu untuk menarik kembali karena terlalu ketat (fimosis) dan parafimosis, yang terjadi ketika kulup ditarik ke belakang untuk membuka seluruh bagian kepala penis, namun tidak dapat menutup kembali. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved