Berita Kabupaten Tegal
Manfaatkan Daun dalam Proses Produksi, Shanum Ecoprint Diminati Pasar Perancis hingga Bupati Tegal
Siapa sangka? produknya tersebut banyak diminati, bahkan pengiriman sendiri sudah sampai Prancis dan diminati juga oleh Bupati Tegal Umi Azizah
Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Sekarang ini tren fashion semakin berkembang dan bervariasi, bahkan tak jarang ada yang terkesan unik atau beda dari lainnya karena menggunakan bahan dasar (teknik) anti mainstream.
Di tangan Fica Ariyanti, ia berhasil menciptakan beberapa produk unik mulai dari pakaian, tas jinjing, tas ransel, sepatu, topi, jaket, syal, kaos, outer menggunakan bahan dasar kain yang dipadukan dengan daun atau lebih dikenal teknik Ecoprint.
Siapa sangka? produknya tersebut banyak diminati, bahkan pengiriman sendiri sudah sampai Prancis dan diminati juga oleh Bupati Tegal Umi Azizah.
Dijelaskan, latar belakang dari Fica sendiri memang bergelut di dunia Ecoprint bahkan ia menjadi ketua asosiasi ecoprint Jateng, sehingga tidak heran sejak 2018 lalu ia membuka bisnis bernama Shanum Ecoprint dan bertahan sampai sekarang bahkan semakin eksis.
Tidak sendiri, dalam proses produksi Fica dibantu oleh dua orang karyawan (dua pengrajin) dengan tugas masing-masing.
Ditemui saat sedang mengikuti pameran kewirausahaan pemuda di halaman Gedung Dadali Pemkab Tegal, owner diwakili pengrajin Shanum Ecoprint Inayah Wulandari mengungkapkan, jenis daun yang biasanya digunakan yaitu daun jati, daun lanang, daun lencana, daun kenikir, dan lain-lain.
Dari sekian banyak jenis daun yang digunakan, menurut Wulan yang paling menonjol yaitu daun jati, karena untuk daun satu ini jika ditempel pada kain apa saja warna tetap menyala.
"Harga yang kami tawarkan yaitu kisaran Rp 100 ribuan sampai jutaan per produk.
Contohnya untuk tas jinjing harga Rp 350 ribu, tas ransel Rp 450 ribu, topi Rp 125 ribu, sepatu Rp 500 ribu.
Pakaian harga kisaran Rp 155 ribu, jaket Rp 450 ribu, dan yang paling mahal Rp 1,7 jutaan karena bahannya dari kain sutra," jelas Wulan, pada Tribunjateng.com, Selasa (7/12/2021).
Selain memanfaatkan sosial media whatsapp, instagram, facebook, dan lain-lain untuk promosi, bagi yang ingin melihat proses produksi atau melihat koleksi produk di Shanum Ecoprint secara langsung, bisa datang ke Perum Pesona Abadi, Blok E1, nomor 13, Slawi Kulon, Kabupaten Tegal.
Proses produksi membutuhkan waktu yang lumayan lama bahkan bisa sampai sebulan.
Faktor cuaca juga sangat berpengaruh, sedangkan yang paling lama yaitu produk tas ransel.
"Kalau yang paling banyak diminati apalagi misal kami sedang pameran seperti sekarang ini yaitu produk outer (pakaian luaran), biasanya selalu habis karena harga juga cukup terjangkau yaitu Rp 175 ribu per pcs," katanya.
Membahas pemasaran, tidak hanya di wilayah Kabupaten Tegal dan sekitarnya saja, tapi juga sudah merambah ke luar pulau seperti Maluku, dan yang paling jauh yaitu ke luar negeri tepatnya Prancis, dan saat itu memesan tas ransel.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Foto-dua-peggulan-yang-tersedia-7122021.jpg)