Berita Semarang
Menwa Sempat Jadi Sorotan, Alumni Minta Hal Ini Agar Kasus Serupa Tak Terjadi
Resimen Mahasiswa atau Menwa sempat menjadi sorotan beberapa waktu lalu karena kasus dugaan kekerasan pada saat pelatihan dan pendidikan di Solo.
Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: m nur huda
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Resimen Mahasiswa atau Menwa sempat menjadi sorotan beberapa waktu lalu karena kasus dugaan kekerasan pada saat pelatihan dan pendidikan di Solo.
Citra Menwa pun menjadi buruk di mata masyarakat. Bahkan, ada yang lantang untuk membubarkan Menwa.
Alumni Menwa yang tergabung dalam Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa Indonesia (IARMI) meminta satuan Menwa untuk melaksanakan semua kegiatan sesuai prosedur agar tidak terulang lagi insiden serupa.
"Semua kegiatan ada juklak dan juknis (petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis). Pada kasus pelaksanaan pra-diksar tersebut, para senior menyiapkannya secara berlebihan dengan porsi latihan seperti diksar," kata Ketua Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) IARMI Jateng, Chrisno Haribowo, saat melantik Dewan Pimpinan Kota (DPK) IARMI Semarang di halaman Politeknik Bumi Akpelni, Sabtu (11/12/2021).
Pada pelaksanaan pra-diksar, alumni tidak dilibatkan. Oleh karena itu, ia meminta pada saat Menwa mengadakan kegiatan harus melibatkan alumni.
Menurutnya, para alumni Menwa banyak yang memiliki sertifikasi pendidikan dan pelatihan serta sudah profesional.
"Para alumni sebaiknya dilibatkan. Kami punya ahli menyelam, menembak, yang sudah bersertifikasi. Kami dapatkan melalui pelatihan. Sehingga, meskipun pra-diksar, tetap mengundang pelatih profesional. Kalau ada pelatih yang memiliki sertifikasi, latihan terukur," jelasnya.
Ia mengakui setelah insiden tersebut, citra Menwa jadi sedikit jelek. Karena itu, para alumni selalu berusaha untuk melaksanakan kegiatan yang bisa mengangkat kepercayaan terhadap Menwa kembali.
Antara lain mengadakan bakti sosial, pembagian sembako, pembagian masker dan sebagainya. Ia juga mengajak kepada anggota Menwa di semua perguruan tinggi di Jateng untuk melakukan hal serupa.
Bertepatan dengan momen Hari Bela Negara, pihaknya juga mengadakan serangkaian acara. Antara lain, seminar nasional, tabur benih ikan serentak di seluruh kabupaten dan kota, serta mengajak masyarakat untuk makan ikan bersama-sama.
Terkait prosesi pelantikan pengurus Kota Semarang, terpilih sebagai Ketua DPK IARMI Kota Semarang yakni Dr Nur Rochaeti yang merupakan dosen Program Doktor (S-3) Hukum Universitas Diponegoro (Undip) dan Akademi Kepolisian (Akpol). Sedangkan Wakil Ketua DPK IARMI yakni Capt Cahya Fajar Budi Hartanto yang merupakan Direktur Politeknik Bumi Akpelni (PBA) Semarang.
Capt Cahya Fajar Budi Hartanto menyatakan, Menwa sedang diuji, banyak kejadian yang terjadi di luar kontrol.
"Sebetulnya kegiatan Menwa pada prinsipnya kegiatan baik, karena membangun sifat cinta tanah air, wawasan kebangsaan, bela negara, menjaga NKRI di lingkup mahasiswa. Seperti diketahui, kegiatan radikalisme dan unsur politik lain disusupi melalui kegiatan mahasiswa," jelasnya.
Saat melakukan kegiatan, personel Menwa harus taat prosedur. Hal tersebut menjadi penting. Prosedur yang ada di antaranya terkait kesehatan semua memulai kegiatan. Jangan memaksakan anggota yang sedang tidak sehat untuk mengikuti kegiatan.
Kemudian, lanjutnya, harus ada koordinasi dengan lembaga, misalnya perguruan tinggi tempat satuan Menwa berada. Jika institusi tidak mengizinkan, lebih bijak Menwa tidak melaksanakan kegiatan sembunyi-sembunyi.
"Jangan sampai, setelah ada kejadian, institusi kaget 'loh ada kegiatan toh?' loh ada korban toh?' Menwa jangan nekat kalau tidak ada izin. Jika ada izin kan biasanya ada pendampingan dari pimpinan institusi, entah itu berbentuk dana untuk kegiatan atau langsung hadir melihat kegiatan. Prosedur yang ada harus diikuti," tegasnya.
Ketua DPK IARMI Semrang, Dr Nur Rochaeti menandaskan kegiatan yang diadakan Menwa bukan lah kegiatan yang negatif atau tidak ada manfaatnya. Ia meminta agar masyarakat melihat kasus secara case by case, tidak men-general-isasi.
"Ketika berbicara Menwa, kita mempunyai etika yang tidak terlepas dari membela NKRI. Itu poin yang utama, dalam nilai kebangsaan, bela negara, menangkal radikalisme, terutama dalam perguruan tinggi. Kegiatan menwa tidak terlepas tridarma perguruan tinggi, yakni pendidikan, pengabdian, penelitian. Masih banyak nilai positif yang berkaitan dengan menwa," ucapnya.
Seperti diketahui, jumlah satuan menwa di perguruan tinggi di Semarang, kata dia, sangat banyak. Oleh karena itu, ia berharap kasus serupa tidak terjadi di Semarang.
Ia pun meminta agar lembaga atau institusi untuk membuat mekanisme ketat terkait kegiatan yang diadakan Menwa. Apakah sudah sesuai prosedur atau tidak. Menurutnya, pengawasan dari institusi perguruan tinggi juga dibutuhkan.
"Sebagai pembina Menwa di Undip, saya termasuk ketat. Saya tidak selalu menyetujui kegiatan yang diadakan. Ada pembatasan, apalagi pada saat masih pandemi ini. Jika sekiranya pada kegiatan tidak bisa melakukan protokol kesehatan dan kegiatan aman, saya tidak merekomendasikan," katanya.(mam)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Ketua-IARMI-Jateng-Chrisno-Haribowo-kiri-menyalami-Ketua-IARMI-Kota-Semarang-terpilih.jpg)