Semarang
Dari Barang Bekas hingga Ikon Kota, Pasar Maling Semarang Kini Bangkit Lewat New PM
Bagi warga Semarang generasi 1980-an hingga awal 2000-an, Pasar Maling atau yang akrab disebut PM bukan sekadar tempat jual beli.
Penulis: budi susanto | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Bagi warga Semarang generasi 1980-an hingga awal 2000-an, Pasar Maling atau yang akrab disebut PM bukan sekadar tempat jual beli.
Kawasan yang berada di kompleks Pasar Johar itu pernah menjadi magnet perdagangan rakyat yang nyaris tak pernah sepi.
Di tempat itulah masyarakat berburu barang-barang unik yang sulit ditemukan di toko biasa. Mulai dari onderdil kendaraan, radio lawas, kamera analog, jam tangan bekas, elektronik second, hingga barang antik yang memiliki nilai sejarah.
Meski namanya "Pasar Maling", banyak warga mengenangnya sebagai ruang ekonomi rakyat yang hidup dan penuh cerita.
Baca juga: BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan Pekalongan Ikut Diperiksa KPK Kasus Dugaan Korupsi Fadia Arafiq
Baca juga: Pesan WhatsApp Misterius Ungkap Nasib Perempuan yang Hilang 3 Tahun, Ditemukan Mengenaskan
Salah seorang warga Semarang, Sutrisno (62), mengaku masih mengingat suasana PM saat masa keemasannya.
"Kalau dulu hari Minggu itu penuh sekali. Orang dari Kendal, Demak, Grobogan sampai Kudus datang ke PM. Banyak yang cari onderdil motor, radio bekas, sampai barang antik. Rasanya kalau belum muter PM ya belum lengkap ke Johar," terangnya kepada Tribun Jateng, Rabu (17/6/2026).
Menurutnya, Pasar Maling memiliki daya tarik tersendiri karena selalu ada barang-barang unik yang tidak ditemukan di tempat lain.
"Yang dicari bukan hanya barang murah, tapi sensasi berburu barang. Kadang datang cari satu barang, pulangnya bawa tiga karena menemukan barang langka," ujarnya sambil tertawa.
Cerita serupa disampaikan Nanik (55), warga Pedurungan. Ia mengenang PM sebagai salah satu pusat ekonomi rakyat yang sangat ramai sebelum era belanja daring berkembang.
"Dulu PM itu terkenal sekali. Kalau cari pakaian murah, elektronik bekas, sampai peralatan rumah tangga pasti ke sana. Pedagangnya banyak, pembelinya juga ramai. Rasanya hidup sekali," katanya.
Namun seiring perkembangan zaman, kejayaan PM perlahan memudar. Perubahan pola belanja masyarakat, munculnya pusat perbelanjaan modern, hingga maraknya perdagangan online membuat aktivitas pasar tidak lagi seramai dahulu.
Kondisi semakin berat setelah kebakaran besar yang melanda kawasan Pasar Johar pada 2015. Banyak pedagang kehilangan tempat usaha dan denyut perdagangan yang selama puluhan tahun menjadi ciri khas kawasan tersebut ikut terdampak.
Kini, Pemerintah Kota Semarang berupaya menghidupkan kembali memori kolektif itu melalui pembukaan New PM (New Pasar Maling) di kompleks Pasar Johar.
Beberapa waktu lalu Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan kehadiran New PM diharapkan mampu menambah aktivitas ekonomi sekaligus mengembalikan keramaian kawasan Pasar Johar.
"Ya mudah-mudahan menjadi tambahan pedagang dan keramaian. Saya ingin Pasar Johar ramai dengan berbagai macam kegiatan yang tidak hanya berjualan, tetapi juga ada kegiatan seni, olahraga, dan lain-lain," ujarnya saat meninjau lokasi.
| Agustina: Kerukunan Jadi Modal Terbesar Semarang, Perbedaan Harus Dirawat Jadi Kekuatan |
|
|---|
| Kasus Kekerasan di Semarang Tembus 100 Laporan, Pelajar Jadi Korban Terbanyak |
|
|---|
| Liga Askot 2026 Jadi Ajang Pembinaan dan Pencarian Bibit Pesepak Bola Muda Semarang |
|
|---|
| PMKRI Semarang Pertanyakan Konsistensi Budiman Sudjatmiko, Sampaikan Lima Aspirasi untuk Pemerintah |
|
|---|
| Meski Ekonomi Lesu Pola Belanja Rekreasi Keluarga di Semarang Tetap Terjaga |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/BERDIALOG-Wali-Kota-Semarang-Agustina.jpg)