Tribunjateng Hari ini
Musik Digital Menggempur, Come Store Semarang Setia dengan Kaset, CD, dan Piringan Hitam
Come Store resmi aktif beroperasi pada 2017. Kini, lebih dari 5.000 koleksi musik tersusun rapi di berbagai sudut toko.
Penulis: Moh Anhar | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Ketika lagu-lagu kini bisa didengar hanya lewat sentuhan jari di layar ponsel, ada sebuah rumah yang justru menjadi tempat bagi orang-orang yang ingin menikmati musik dengan cara yang lebih lambat, lebih personal, dan lebih berkesan.
Di Jalan Pamularsih Barat VIII No 4, RT 04 RW 09, Bojongsalaman, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, berdiri Come Store ID, sebuah toko rilisan fisik musik independen yang menjadi salah satu titik temu para pencinta kaset pita, CD, dan piringan hitam.
Di balik layar toko tersebut terdapat nama Brury Prasetyo, kolektor musik sekaligus gitaris band metal Semarang, Octopuz. Kecintaannya terhadap rilisan fisik bermula sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar pada era 1990-an.
Kebiasaan berburu kaset favorit yang awalnya hanya hobi perlahan berubah menjadi jalan hidup.
“Balik lagi dengan namanya hobi. Mau karena tren atau FOMO zaman sekarang, esensinya tetap sama, tinggal momentum yang meng-highlight keseruan bidang hobi tersebut,” kata Brury, Rabu (3/6) malam.
Dari koleksi pribadi yang terus bertambah, Brury kemudian mengubah sebuah studio musik di samping rumahnya menjadi toko rilisan fisik. Proses perombakan dimulai pada 2016 dan Come Store resmi aktif beroperasi pada 2017.
Kini, lebih dari 5.000 koleksi musik tersusun rapi di berbagai sudut toko.
Mulai dari kaset lawas, CD album, vinyl edisi terbatas, hingga merchandise resmi musisi dan band dari dalam maupun luar negeri. Namun bagi dia, Come Store bukan sekadar tempat jual beli musik.
“Sebagai bisnis, toko ini menjadi wadah distribusi dan katalog kebutuhan musik bagi penikmat di Semarang dan sekitarnya. Tapi di sisi lain, kami juga menjadi infoshop, tempat berbagi pengetahuan soal produksi musik, distribusi, sampai hal-hal kreatif lainnya,” imbuh dia.
Fenomena menarik justru muncul ketika generasi muda mulai kembali melirik rilisan fisik. Menurut Brury, banyak penikmat musik yang mulai mencari pengalaman berbeda yang tidak bisa diberikan platform digital.
Terdapat sensasi tersendiri saat seseorang membuka kemasan album, membaca lirik di sleeve note, memperhatikan artwork sampul album, lalu menempatkan kaset atau vinyl ke pemutarnya sebelum musik mulai mengalun.
“Esensinya bagaimana mendengarkan musik dengan experience, ada kalanya pendengar ingin membandingkan versi digital dan analog.
Bahkan tidak semua lagu atau artis tersedia di platform digital, sehingga rilisan fisik menjadi opsi yang paling valid,” jelas dia.
Tren tersebut semakin terlihat setelah pandemi Covid-19. Brury menyebut grafik konsumsi rilisan fisik di Semarang terus meningkat dan merata di berbagai format, baik kaset pita, CD maupun vinyl.
Tidak hanya kolektor lama, generasi muda pun mulai berdatangan. Sebagian datang untuk berburu album favorit, sebagian lain sekadar ingin mengenal budaya musik yang lebih dekat dan personal.
| Mahasiswa Blokade Jalan Pahlawan, Polisi Bubarkan Pakai Raisa |
|
|---|
| Liyana Selalu Bawa Ketupat untuk Suranan di Tepi Jalan Protokol Ungaran |
|
|---|
| Istri Sudewo Baru Bertemu Suami di Ruang Sidang Pengadilan Tipikor |
|
|---|
| Sudewo Tersenyum Lebar Seusai Sidang Perdana di Pengadilan Tipikor Semarang |
|
|---|
| Ikut Geladi Bersih Malam Satu Sura, Tiga Kebo Bule Sulit Dikendalikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Tribun-Jateng-Hari-Ini-Rabu-17-Juni-2026.jpg)