Guru Berkarya
Belajar Memahami Unggah-Ungguh Bahasa Jawa melalui Metode Role Playing
Ragam Unggah-ungguh dalam Bahasa Jawa Masyarakat Jawa memiliki tingkatan sosial yang kompleks.
Oleh: Sri Monto SPd, Guru SMPN 2 Sragi Kab Pekalongan
RAGAM unggah-ungguh dalam Bahasa Jawa Masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah yang berkiblat pada keraton Jogjakarta dan Surakarta memiliki tingkatan sosial yang kompleks. Tingkatan sosial tersebut menimbulkan adanya variasi pemakaian bahasa secara bertingkat-tingkat yang disebut unggah-ungguh. Kompleks dan banyaknya tingkatan sosial dalam masyarakat Jawa, maka bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa juga beraneka ragam. Pemilihan ragam tingkat tutur didasarkan pada sikap santun yang ada pada penutur dan mitra tutur. Tingkat tutur ngoko sebagai tanda tingkat kesopanan yang rendah, tingkat tutur madya sebagai tanda rasa kesopanan yang sedang, sedangkan tingkat tutur krama (alus, inggil) sebagai tanda rasa hormat dan sopan yang halus serta tinggi.
Unggah – ungguh Bahasa Jawa dibedakan menjadi empat ragam. Ragam Krama dibagi menjadi dua, yakni karma lugu (karma andhap) dan krama alus (krama inggil). Sedangkan ragam ngoko juga dibagi lagi menjadi dua, yakni ngoko lugu dan ngoko alus. Pendapat tersebut senada dengan Sasangka (2009: 92) yang membagi unggah- ungguh basa menjadi empat, yakni ngono lugu, ngoko alus, krama lugu, dan krama inggil. Perbedaan keempat unggah-ungguh tersebut mempunyai fungsi penggunaan yang berbeda yang disesuaikan dengan usia. Raharjo (2008: 44) juga menyatakan bahwa sejatinya unggah-ungguh bahasa itu hanya ada dua, yakni ngoko dan krama, kemudian ngoko dipecah lagi menjadi dua yakni ngoko lugu dan ngoko alus. Sedangkan, krama juga dipecah lagi menjadi dua yakni krama alus dan karma inggil dengan demikian unggah-ungguh basa ada empat.
Dengan adanya tingkatan – tingkatan yang terdapat dalam ragam bahasa Jawa seperti itu, menjadikan salah satu penyebab peserta didik di SMP N 2 Sragi Kabupaten Pekalongan mengalami kesulitan dalam mempelajari materi unggah – ungguh basa Jawa.
Untuk membantu peserta didik belajar memahami materi unggah –ungguh basa Jawa terutama ragam krama, penulis menggunakan metode Pembelajaran Role Playing.
Metode Pembelajaran Role Playing merupakan metode simulasi bermain peran secara berkelompok untuk melatih peserta didik berkomunikasi. Langkah awal sebagai stimulasi adalah mengajak peserta didik mendemonstrasikan teks bacaan yang memuat unggah-ungguh basa. Kemudian guru memberi penjelasan tentang unggah-ungguh basa. Langkah selanjutnya guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok membuat percakapan yang menggunakan ragam krama. Percakapan tersebut bisa antara orang tua dengan anak, guru dengan siswa, atasan dengan bawahan, dan lain-lain. Setelah percakapan dibuat, peserta didik mempraktikan percakapan tersebut di depan kelas.
Kelompok lain mengamati, mengoreksi dan memberi tanggapan. Hal yang diamati dan dikoreksi terutama adalah pemilihan kosakata. Apakah kosa kata yang digunakan sudah sesuai unggah-ungguh basa atau belum. Kemudian guru bersama peserta didik membuat simpulan pelajaran yang telah dilaksanakan.
Dari hasil pengamatan ternyata menerapkan metode Pembelajaran Role Playing dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berbahasa Jawa. Peserta didik lebih mudah memahami arti dari kalimat yang diucapkannya. Sehingga peserta didik dapat berbicara dengan benar sesuai dengan peran yang dimainkan. Selain itu dengan mengajak peserta didik mengoreksi bersama-sama juga dapat meningkatkan pengetahuan berbahasa Jawa. Dengan meningkatnya pengetahuan dapat meningkatkan pula keterampilan berbicara peserta didik. Demikian salah satu cara dalam meningkatkan kompetensi peserta didik dalam berbahasa Jawa. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk para guru bahasa Jawa. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Sri-Monto-SPd-Guru-SMPN-2-Sragi-Kab-Pekalongan.jpg)