Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kendal

Ahmad Darodji: 10,14 Persen Masyarakat Indonesia Berstatus Miskin

Ketua MUI Jateng Ahmad Darodji sebut 10,14 persen warga Indonesia berstatus miskin.

Penulis: Saiful Ma sum | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Saiful Ma'sum
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah, Ahmad Darodji. 

TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah, Ahmad Darodji menyebut, 10,14 persen atau 27,54 juta warga Indonesia kini berstatus miskin.

Hal itu ia sampaikan mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2021 ini.

Katanya, dari 27,54 juta oran

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah, Ahmad Darodji.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah, Ahmad Darodji. (Tribun Jateng/Saiful Ma'sum)

g itu, 90 persen di antaranya beragama Islam.

Padahal, angka kemiskinan masyarakat Indonesia sebelum pandemi Covid-19 berada di bawah 10 persen.

Tentunya hal ini menjadi perhatian bersama dalam rangka menekan angka kemiskinan melalui berbagai inovasi program.

Satu di antaranya menggencarkan sedekah dan zakat untuk membantu warga yang membutuhkan. 

"Umat Islam, terutama yang mampu, mau menyisihkan rezekinya untuk dizakatkan. Kita harus bertoleransi," terang Darodji usai menghadiri rapat kerja wilayah Lembaga Dakwah Islam Indonesia Jawa Tengah, di Pondok Pesantren Baitul Munir Kendal, Minggu (19/12/2021).

Darodji menambahkan, tingginya angka kemiskinan bisa memicu naiknya angka kejahatan.

Sebab, masyarakat miskin juga membutuhkan makanan dan kebutuhan lainnya setiap hari.

Ia mengimbau kepada organisasi Islam agar menggerakkan ekonomi umat melalui sedekah dan zakat.

Supaya bisa membantu kebutuhan masyarakat kurang mampu, agar tidak terjerat pada pinjamam online akibat terdesak kebutuhan. 

"Masyarakat jangan sampai tergiur dengan dana pinjaman online, karena akan membuatnya semakin kesulitan lantaran bunga pinjaman yang dipatok sangat tinggi," imbau dia. 

Sementara itu, Ketua LDII Jawa Tengah, Singgih Tri Sulistiyono mengatakan, untuk menekan angka kemiskinan sudah dirancang program pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Seperti contoh, program Baitul Maal wat Tamwil (BMT) yang menyasar sektor usaha kecil menengah (UKM), dan peternakan yang melibatkan umat.

Selain itu, akan dibentuk percontohan desa binaan sebagai penggerak ekonomi kerakyatan.

Baik melalui usaha peternakan, maupun usaha-usaha lainnya. 

"Dana zakat dan sedekah nantinya, diharapkan bisa membantu di sisi permodalan usaha. Sehingga angka kemiskinan di Indonesia bisa ditekan bertahap," harapnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved