Berita Video
Video Nelayan di Pesisir Semarang Cemas Gelombang Tinggi Datang pada Desember Hingga Januari
Bulan Desember menjadi momok menakutkan bagi para nelayan di pesisir utara Kota Semarang.
Penulis: budi susanto | Editor: abduh imanulhaq
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Berikut ini video nelayan di pesisir Semarang cemas gelombang tinggi datang pada Desember hingga Januari.
Bulan Desember menjadi momok menakutkan bagi para nelayan di pesisir utara Kota Semarang.
Hal itu lantaran pada Desember hingga Januari, menjadi musim gelombang tinggi.
Di tambah lagi adanya informasi siklon tropis yaitu badai La Nina yang akan melanda Indonesia.
Kondisi tersebut membuat para nelayan was-was serta khawatir, mengingat tahun lalu ratusan kapal milik nelayan di pesisir utara Kota Semarang rusak karena gelombang tinggi.
Untuk itu sejumlah nelayan mempersiapkan diri, sebelum menghadapi musim gelombang tinggi.
Miyoto, nelayan dari Tambak Lorok, Tanjung Emas, Semarang Utara, satu di antaranya. Ia menerangkan, Desember menjadi bulan menakutkan bagi nelayan.
“Tahun lalu saja banyak kapal rusak, bahkan hancur karena gelombang tinggi. Untuk itu kami melakukan persiapan, baik memperbaiki kapal, maupun berjaga di sekitar dermaga,” jelasnya saat ditemui Tribunjateng.com di dermaga Tambak Lorok, Senin (20/12/2021).
Dilanjutkannya, para nelayan bergantian menjaga kapal di dermaga, untuk mengawasi jika gelombang tinggi datang dan kapal ada yang berdekatan.
“Kalau ada yang berdekatan saat bersandar saat gelombang datang, kapal yang bersandar pasti akan bertabrakan. Maka dari itu kami berjaga di sini, tak jarang kami tidur di sini,” paparnya.
Menurutnya, tidak ada cara lain yang bisa dilakukan, untuk itu nelayan berharap pemerintah segera membangun pemecah gelombang.
“Kami hanya bisa pasrah, karena harapan satu-satunya adalah pembangunan pemecah gelombang. Kami sangat berharap pemerintah segera membangun pemecah gelombang tersebut,” katanya.
Sementara itu, Slamet Ari Nugroho, Ketua Kesatuan Nelayan Tradisonal Indonesia (KNTI) Semarang mengatakan, hingga kini tidak ada bantuan yang mengkover kerusakan kapal nelayan.
“Sampai sekarang memang belum ada bantuan terkait perbaikan kapal, dan nelayan melakukan perbaikan secara mandiri,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan, dari 2020 hingga tahun akhir 2021, tercatat 228 kapal mengalami kerusakan karena gelombang tinggi.