Berita Semarang

Semarang Bakal Punya Tempat Krematorium untuk Umat Hindu, Dibangun pada 2022

Pemerintah Kota Semarang bersama Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Semarang bakal membangun krematorium pada 2022 mendatang.

Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: moh anhar
TRIBUN JATENG/EKA YULIANTI FAJLIN
Ketua PHDI Kota Semarang, Nengah Wirta Dharmayana 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kota Semarang bakal memiliki tempat krematoriun tersendiri.

Rencananya, Pemerintah Kota Semarang bersama Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Semarang bakal membangun krematorium pada 2022 mendatang.

Ketua PHDI Kota Semarang, Nengah Wirta Dharmayana mengatakan, selama ini belum ada tempat kremasi umat hindu di Kota Semarang.

Jika ada umat hindu yang meninggal dunia dibawa ke Bali untuk dikremasi. Padahal, jumlah umat Hindu di Semarang ada 10.537 jiwa. 

Baca juga: Citra Kirana Nangis Nonton Adegan Suami Cium Jessica Mila di Web Series Tersanjung

Baca juga: Mantan Kapolsek Tantang Kapolri dan Kapolda Masalah Nama Baiknya

"Pada 2019, kami sempat sampaikan rencana pembangunan krematorium ke Pak Wali. Beliau pun menyambut baik," katanya, Selasa (21/12/2021). 

Dia meminta lahan krematorium disediakan oleh Pemkot Semarang.

Kemudian, Pemkot memberikan lahan di area TPU Kedungmundu 3, tepatnya di belakang krematorium yang ada saat ini. Pembangunan rencananya akan mulai pada 2022. 

Pihaknya telah bertemu dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang, Bagian Hukum Pemerintah Kota Semarang, Dinas Penataan Ruang (Distaru) Kota Semarang, dan Inspektorat terkait pembangunan krematorium. 

"Kami bangun tentunya secara bertahap dari bantuan umat Hindu. Kalau selesai dibangun, bangunannya semua selesai akan dihibahkan ke Pemkot Semarang dan dikelola bersama," katanya.  

Menurutnya, estimasi anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan krematorium sebesar Rp 2,5 - 3 miliar.

Pembangunan meliputi ruang kremasi, ruang prajipati, balai wantilan atau ruang terbuka, misalnya pendopo. Balai wantilan untuk menyemayamkan jenazah terlebihdahulu sebelum dikremasi. 

"Pendopo itu manfaatnya bagi umat Hindu, ada yang meninggal tidak harus langsung dikreamasi tapi menyiapkan sarana prasarana. Biasanya diberi waktu selama dua sampai tiga hari. Jenazah bisa disemayamkan terlebih dulu di balai wantilan. Kemudian, saat pelaksanaan kremasi para takziyah dapat berteduh disitu," terangnya.  

Sedangkan ruang prajipati, sambung Nengah, digunakan untuk laporan kepada alam semesta untuk melakukan pembakaran jenazah.

Di samping itu, juga disediakan lahan untuk pemakaman. Pasalnya, ada jenazah umat hindu yang tidak dibakar. 

"Misalnya, anak yang belum lepas gigi bayi, seperti disebabkan ada mis kram. Ini tidak bisa dibakar sehingga harus dikubur sementara disana. Sampai dengan waktunya biasanya sebelum upacara ngaben. Luasan 5 x 5 meter persegi," bebernya.   

Dia berharap, area pemakaman umat hindu juga bisa sebagai wahana edukasi upacara ngaben yang nantinya bisa dijadikan objek wisata baru.

Baca juga: Cegah Potensi Kerumunan di Momen Nataru, Dokter Reisa Tak Ingin Lagi Ada Lonjakan Kasus Covid-19

Baca juga: Jelang Nataru, Instruksi Bupati Tegal Resmi Dikeluarkan, Berikut Poin Penting yang Wajib Diketahui

Pihaknya sangat berterima kasih kepada Pemkot Semarang yang telah memperhatikan warga Hindu. 

Sementara itu, Kabid Pertamanan dan Pemakaman Disperkim Kota Semarang, Murni Ediati mengatakan, lahan Pemkot Semarang yang akan digunakan untuk krematorium sekitar 3.800 meter persegi. 

"Alhamdulillah Pemkot Semarang bakal punya krematorium sendiri sekaligus dikonsep menjadi destinasi wisata edukasi," ucap Pipie, sapaannya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved