Kamis, 30 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Video

Video Kerukunan Antarumat Beragama di Pati, Masjid dan Gereja Terhubung Kanopi

Jalan selebar sekira lima meter itu menjadi “penghubung” sekaligus “pembatas” antara masjid dan Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Winong

Tayang:

Komunikasi terjalin, saling pengertian, saling menghargai, sangat terasa sekali. Jadi walaupun kami berhadap-hadapan selama ini tidak ada masalah," kata dia.


"Mudah-mudahan ke depan tetap terus saling menjaga, saling menghargai," tambah Pendeta Didik.


Terjalin baiknya komunikasi antara pengurus gereja dan takmir masjid, terang dia, paling kentara ketika ada jadwal ibadah yang berbenturan.


"Pernah Idulfitri pas hari Minggu. Kami menyadari salat id pasti pagi.

Sementara ibadah Minggu kami juga pagi pukul 7. Akhirnya kami dan takmir masjid bersepakat, ibadah gereja kami undur jadi pukul 9," tutur dia.


Sebaliknya, jemaah masjid juga menyesuaikan kegiatannya apabila gereja punya acara besar.


"Pernah ketika gedung gereja ini dan kami dimandirikan sebagai gereja mandiri. Acara kami bersamaan dengan jam pengajian bapak-bapak masjid.

Saya dengar dari bapak-bapak, pengajian tetap jalan, tapi tidak di masjid, melainkan di rumah jemaah," ujar dia.


Pendeta Didik menegaskan bahwa tidak akan ada masalah yang mengganjal apabila komunikasi antarumat beragama terjalin baik sebagai saudara yang saling menjaga.


Ia menuturkan, bangunan GKMI Winong sendiri juga memiliki ornamen-ornamen yang menyimbolkan kerukunan umat beragama.


Di atas pintu masuk gereja, terdapat aksara Jawa bertuliskan "Nderek Gusti" dan gambar karakter pewayangan Punakawan.


"Nderek Gusti, artinya umat ketika masuk ke tempat ibadah, menyadari diri sebagai pengikut Tuhan yang harus tunduk mendengarkan apa yang disabdakan-Nya.

Kesadaran ini digambarkan dengan Punakawan yang merupakan abdi, hamba," kata dia.


Adapun di dalam gereja, ornamen salib besar diletakkan dengan latar belakang gunungan wayang.


"Ini sebagai simbol bahwa membangun iman umat harus tetap mengakar pada budaya lokal. Jangan sampai keberagamaan kita membuat kita tercabut dari akar budaya kita," tegas Pendeta Didik.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved