Breaking News:

IT Telkom Purwokerto

Inkubator Bisnis Perguruan Tinggi, Membangun Negeri Sejuta Potensi

Revolusi industri 4.0 berdampak pada hilangnya 23 juta pekerjaan disebabkan adanya otomatisasi.

Editor: abduh imanulhaq
Inkubator Bisnis Perguruan Tinggi, Membangun Negeri Sejuta Potensi
IST
Dr Tenia Wahyuningrum SKom MT, Wakil Rektor I Institut Teknologi Telkom Purwokerto

Oleh: Dr Tenia Wahyuningrum SKom MT, Wakil Rektor I Institut Teknologi Telkom Purwokerto

REVOLUSI industri 4.0 berdampak pada hilangnya 23 juta pekerjaan disebabkan adanya otomatisasi, akan tetapi, sebagai gantinya 27-46 juta pekerjaan baru lahir. Meskipun ada kekhawatiran yang dapat dimengerti tentang apakah akan ada cukup pekerjaan bagi pekerja dengan adanya otomatisasi potensial, sejarah menunjukkan bahwa ketakutan tersebut mungkin tidak berdasar: seiring waktu, pasar tenaga kerja menyesuaikan dengan perubahan permintaan pekerja dari gangguan teknologi. Dengan pertumbuhan ekonomi, inovasi, dan investasi yang memadai, terdapat cukup banyak penciptaan lapangan kerja baru secara global untuk mengimbangi dampak otomatisasi. Namun, tantangan yang lebih besar adalah memastikan bahwa pekerja memiliki keterampilan dan dukungan yang diperlukan untuk transisi ke pekerjaan baru. Tugas dan tanggung jawab perguruan tinggi adalah menyiapkan skill dan kompetensi baru, dan setiap perguruan tinggi harus dapat berlari kencang sebelum kehilangan momentum, pada Indonesia emas 2045.

Peranan perguruan tinggi sebagai jembatan antara dunia industri dan akademisi, mutlak diperlukan. Hal ini terlihat dari potensi industri digital di Indonesia yang meningkat cukup pesat, ditandai dengan bertambahnya jumlah pengguna internet. Data di bulan Januari 2021, sebanyak 73,7 persen penduduk Indonesia telah terhubung dengan internet, yaitu sekitar 202,6 juta orang. Kondisi tersebut merupakan modal bagi Indonesia dalam mengembangkan e-commerce dan bisnis berbasis teknologi digital di tanah air. Lima dari 10 unicorns di ASEAN lahir dan besar di Indonesia, diantaranya Gojek, Tokopedia, Traveloka, Bukalapak dan OVO. Ribuan startup digital lahir tiap tahun dari kampus, sehingga penguatan kewirausahaan dan ekosistem kewirausahaan perlu di tingkatkan di kalangan muda.

Memulai bisnis startup bagi pemula tentu bukan hal yang mudah, diperlukan beberapa hal yang perlu diperhatikan di antaranya ketrampilan softskill (kesiapan mental, keinginan yang kuat, tangguh, jujur) dan hardskill (dapat membuat rencana bisnis, terampil dalam teknologi, dapat memilih produk, mengetahui cara mendapatkan dana, dan menguasai pasar). Keterampilan tersebut menjadi dasar seorang founder untuk dapat bertahan di masa kritis sebagai wirausaha baru, sehingga mengurangi kecenderungan untuk tidak melanjutkan usahanya. Beberapa potensi kegagalan pengusaha pemula dalam berwirausaha, antara lain pendapatan yang tidak menentu, kerugian akibat hilangnya modal investasi, dan kualitas kehidupan yang tetap rendah meskipun usahanya mantap. Hubeis dalam Lupiyoadi (2004) menjelaskan bahwa hampir 80 persen perusahaan rintisan di Indonesia gagal pada tahun pertama. Pendapat serupa juga dinyatakan oleh Wirasasmita (1998) bahwa tingkat kegagalan usaha kecil di Indonesia mencapai 78 persen. Hal ini menunjukkan tingginya tingkat kegagalan bagi usaha baru, oleh karena itu, perguruan tinggi harus ikut ambil peran dalam meningkatkan keterampilan-keterampilan tersebut.

Peranan inkubator bisnis di perguruan tinggi menjadi penting untuk meminimalkan resiko kegagalan bagi wirausaha baru di tahap awal. Hal ini karena kampus merupakan terminal utama generasi muda terdidik dalam memasuki pasar kerja, kampus sebagai tempat terbaik untuk pembangunan sumber daya manusia, dan kampus memiliki sumber daya manusia pendidik yang memiliki komitmen dalam mengembangkan potensi generasi muda.

Inkubator bisnis di Perguruan Tinggi adalah langkah awal yang penting untuk mencapai tujuan tersebut karena membantu founder dalam mengembangkan inovasi dan menggali potensi. Inkubator bisnis yang lahir dari kampus akan memberikan manfaat terhadap pertumbuhan ekonomi lokal, contohnya berperan dalam peningkatan kinerja UKM pangan, dimana terjadi peningkatan omzet, peningkatan jumlah tenaga kerja, peningkatan jumlah legalitas usaha, peningkatan akses ke sumber permodalan. Konsep inkubator bisnis di kampus, sinergi dengan kegiatan tri darma perguruan tinggi yaitu penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, sehingga dapat mengubah penemuan menjadi inovasi yang memiliki nilai. Proses tersebut diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam komersialisasi teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Banyumas Digital Valey sebagai inkubator bisnis milik Institut Teknologi Telkom Purwokerto mendorong setiap penggiat usaha startup khususnya di daerah Banyumas dan sekitarnya untuk begabung dan bekerja sama sebagai penggerak hilirisasi produk inovasi dalam menumbuhkan inovasi berbasis teknologi digital di Indonesia pada umumnya. Kunjungi website https://banyumasdigitalvalley.id/ untuk mendapatkan program pendampingan usaha pemula oleh para ahlinya. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved