Berita Grobogan
Sebarkan Virus Gemar Membaca sampai Tulang-Tulang Retak: Kisah Yulianto dan Boneka Pustaka Bergerak
Kondisi tubuh yang melemah akibat sakit, ditambah kecelakaan lalu-lintas yang dialami, menjadikan 2019 sebagai tahun yang berat bagi Yulianto (31).
Penulis: Mazka Hauzan Naufal | Editor: moh anhar
TRIBUNJATENG.COM, GROBOGAN - Kondisi tubuh yang melemah akibat sakit, ditambah kecelakaan lalu-lintas yang dialami, menjadikan 2019 sebagai tahun yang berat bagi Yulianto (31), pegiat literasi di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
Pemuda yang telah malang-melintang berjuang meningkatkan minat baca masyarakat ini mengaku sempat depresi karenanya.
Ia ibarat jatuh terempas ke bumi setelah dilambungkan ke langit.
Baru saja pada 2018 perjuangan Yulianto mendapat “sorotan lebih”. Ia diajak bergabung dengan Pustaka Bergerak Indonesia.
Kemudian bertemu dengan Najwa Shihab, pesohor yang saat itu menyandang titel Duta Baca Indonesia.
Baca juga: Banyak yang Langgar Rambu Larangan Parkir di Jalan Pandanaran, Pengguna Jalan Teriak Pelanggar Buta
Baca juga: Menhub Minta Gerbang Tol Kalikangkung Menjadi Perhatian Saat Arus Balik di Jateng
Belum lama mendapat suntikan semangat baru dari capaian tersebut, pada Juli 2019 Yulianto mendapat kabar yang menyentak.
Dia divonis mengidap suatu virus yang menyerang kekebalan tubuh.
Tak cukup sampai di situ, beberapa bulan setelahnya dia mengalami kecelakaan lalu-lintas tunggal yang membuat tempurung lutut dan tulang lengannya retak.
Namun, pada akhirnya niat baik dan keteguhan hati Yulianto mampu membuatnya mengatasi cobaan berat. Dia tetap teguh menapaki jalan perjuangan di dunia literasi.
Keteguhan hati Yulianto berbuah manis.
Pada Oktober 2021 ini, dia mendapat apresiasi Satu Indonesia Awards Tingkat Provinsi Jawa Tengah bidang Pendidikan oleh PT Astra International.
Berikut kisah lengkapnya.
Seluk-Beluk Rumah Baca Bintang dan Boneka Pustaka Bergerak
Azam, Pandu, Bintang, Keisya, Fera, dan Shiva tampak melangkah ceria memasuki sebuah rumah yang berada di Dusun Jajar RT 3 RW 3, Desa Sumberjosari, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, Rabu (29/12/2021) siang.
Di bagian depan bangunan sederhana bercat hijau pudar tersebut, terdapat spanduk bertuliskan “Rumah Baca Bintang”.
Anak-anak usia sekolah dasar tersebut kemudian duduk di lantai berkarpet yang dikelilingi rak-rak berisi ribuan buku.
Duduk mengelilingi meja, mereka asyik mendengarkan Yulianto dan “temannya” yang bernama Mumun membacakan buku berjudul “Aku Kuat”.
Buku anak tentang alat-alat konstruksi itu berjenis pop-up. Setiap lembarannya dibuka, akan muncul ilustrasi alat berat tiga dimensi.
Adapun Mumun adalah nama boneka tangan muppet.
Boneka berkebaya kuning itu biasa digunakan Yulianto untuk mendongeng dan membacakan buku di depan anak-anak.
Selain Mumun ada juga boneka tangan muppet bernama Nana, yang diambil dari nama panggilan Najwa Shihab.
Selain itu, ada juga puluhan boneka dan mainan aneka karakter di Rumah Baca Bintang. Boneka-boneka itu boleh dimainkan semua anak yang datang.
Tapi dengan satu syarat: harus baca buku dahulu.
“Saya sering ke sini. Senang karena banyak buku. Terus boleh mainan setelah baca. Suka juga didongengi sama Om Yuli,” kata Azam, siswa kelas 2 SD.
Yulianto mengatakan, dia memang sengaja menyediakan boneka dan mainan agar anak-anak tidak jenuh usai membaca.
“Bahkan tahun lalu ratusan boneka dan koleksi buku saya berikan secara cuma-cuma pada mereka. Sebab pandemi Covid-19 membuat mereka tidak bisa leluasa datang untuk membaca di sini. Saya beri mereka buku dan boneka supaya bisa untuk belajar di rumah,” jelas alumnus jurusan Ilmu Perpustakaan Universitas Terbuka Purwodadi ini.
Yulianto memang identik dengan boneka. Bahkan gerakan literasinya dikenal dengan nama Boneka Pustaka Bergerak.
Dalam keterbatasan, dia mendirikan Rumah Baca Bintang pada 2011. Saat itu ia hanya sebatas menata buku-buku koleksi pribadinya agar bisa dibaca umum.
Kondisinya belum sebagus sekarang. Saat itu bahkan ia menggunakan kotak telur sebagai rak buku.
Baca juga: Pengerjaan Proyek Islamic Center Batang Molor, Bupati Wihaji: Ketertinggalan Harus Dikejar
Baca juga: Tak Ada Penyekatan saat Tahun Baru 2022 di Demak, Warga yang Melintas di Perbatasan Dipantau
Ketika itu ia belum dikenal sebagai pencetus boneka pustaka. Dia hanya seorang pemuda yang merasa terpanggil untuk memajukan budaya literasi di negeri ini.
“Orang bilang minat baca warga Indonesia rendah. Tapi saya yakin permasalahannya adalah karena kurang meratanya distribusi buku dan kurangnya pembinaan minat baca,” ujar dia.
Berbekal keyakinan tersebut, Yulianto yang mengaku bersifat pemalu ini memutar otak. Dia lalu terpikir menggunakan boneka untuk mendongengkan buku cerita di depan anak-anak.
“Saya dulu pustakawan di sebuah SMP swasta. Awal 2018 saya berhenti dari pekerjaan. Lalu belajar mendongeng di Sanggar Cergam Kak Kempho Semarang. Setelah itu saya berkeliling ke pelosok-pelosok Grobogan membawa buku dan boneka,” kisah Yulianto.
Sejak saat itu, mengendarai sepeda motor matic-nya, Yuli menggendong buku-buku dan boneka ke pelosok-pelosok daerah.
Menerjang banjir, menerobos hutan, dan melintasi jalan setapak, dia bercerita dan membacakan buku di hadapan anak-anak.
Dari sekolah ke sekolah, dari TPQ ke TPQ.
Sepeda motornya sampai berkali-kali masuk bengkel karena kerap melalui medan ekstrem.
“Waktu itu belum ada Nana dan Mumun. Saya masih pakai boneka biasa yang saya beri nama Kam-Kam. Pakai boneka ini justru membantu saya mengatasi sifat saya yang pemalu. Jadi lebih mudah membuat anak tertarik dengan buku,” jelas dia.
Gerakan literasi Yulianto ini akhirnya dilirik oleh Nirwan Ahmad Arsuka, pendiri Pustaka Bergerak Indonesia.
Dia lalu diminta membuat boneka khusus sebagai ikon. Akhirnya lahirlah Nana, yang membawanya bertemu dengan Najwa Shihab.
Lalu belakangan lahir pula Mumun yang lebih berorientasi tradisional.
Cobaan Berat Tak Jadi Halangan
Setelah bergabung dengan Pustaka Bergerak Indonesia, aktivitas literasi Yulianto memiliki jangkauan lebih luas. Hal itu membuatnya lebih bersemangat.
Bersama rekan-rekan satu pergerakan, ia pernah mendapat donasi sepeda motor dan buku senilai puluhan juta rupiah dari Deutsche Bank.
Pada saat yang sama, pertengahan 2018, terjadi gempa besar di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Akhirnya donasi tersebut dikirimkan ke sana.
Di sisi lain, Yulianto juga semakin giat dengan Boneka Pustaka Bergerak-nya.
Dia rutin menggelar lapak-lapak baca di tiap penjuru Grobogan.
Sampai suatu hari di pertengahan 2019, dia menerima kabar buruk.
Ia dinyatakan mengidap suatu penyakit yang membuat daya tahan tubuhnya melemah.
“Ketahuan waktu donor darah. Saya memang rutin donor. Sudah berjalan 12 tahun. Kabar itu membuat saya depresi,” ungkap Yulianto.
Sempat dirundung kesedihan luar biasa.
Niat baik dan optimisme Yulianto menjadi penyelamat.
Dia ikhlas menerima nasibnya harus menjalani pengobatan seumur hidup.
“Saya menerima harus minum obat seumur hidup, yang penting bisa bermanfaat bagi banyak orang. Saya lanjutkan kegiatan saya,” tutur dia.
Saat semangatnya mulai bangkit kembali itulah, justru cobaan berat berikutnya menimpa Yulianto.
Dalam perjalanan menuju lokasi lapak baca, dia mengalami kecelakaan lalu-lintas.
Dia berupaya menghindari bus yang mengerem mendadak sampai sepeda motor yang ia kendarai terjatuh. Tulang lengan dan tempurung lututnya retak.
Selama dua bulan ia tidak bisa beraktivitas normal.
Namun, sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang. Meski tulang-tulangnya retak dan ia tak bisa menggerakkan kaki, Yulianto tetap mencari cara agar aktivitas literasi tetap “bergerak”.
Sambil tetap membuka lebar pintu Rumah Baca Bintang, Yulianto lalu menginisiasi empat simpul pustaka lainnya. Keempatnya ialah Rumah Baca Mulya Utama di Desa Dempel Kecamatan Karangrayung, Taman Baca Lurung Ceria di Desa Welahan Kecamatan Karangrayung, Padepokan Ayom Ayem di Desa Godan Kecamatan Tawangharjo, dan Teras Baca Rejosari di Desa Rejosari Kecamatan Grobogan.
Kelima simpul pustaka yang diinisiasi Yulianto itu memiliki penanggung jawab masing-masing dan terbuka bagi siapa saja.
Mendekatkan buku bacaan pada siapa pun yang haus ilmu pengetahuan, tanpa membedakan latar belakangnya.
“Selama pintunya terbuka, siapa pun boleh datang dan membaca secara gratis. Di Rumah Baca Bintang yang juga tempat tinggal saya ini bahkan orang boleh pinjam dan bawa pulang buku sebanyak-banyaknya,” tutur dia.
Baca juga: Menhub Minta Gerbang Tol Kalikangkung Menjadi Perhatian Saat Arus Balik di Jateng
Baca juga: Ratusan Warga Binaan Rutan Salatiga Ikuti Kegiatan Belajar Menghafal Alquran
Kepala Desa Sumberjosari, Sumondo, mengapresiasi Yulianto dan gerakan literasinya. Menurut dia, apa yang dilakukan Yulianto bisa memajukan desa.
“Sebab desa bisa maju dimulai dari gemar membaca, terutama bagi anak. Anak harus dibiasakan membaca sejak dini. Seperti di Jepang yang budaya membacanya bagus,” ujar dia.
Sumondo yakin, seperti halnya Yulianto yang yakin bahwa semua anak bisa menjadi “bintang” dengan gemar membaca. Keyakinan itu jugalah yang melatarbelakanginya memilih nama Rumah Baca Bintang. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Boneka-Pustaka-Bergerak-30-12-2021-1.jpg)