Kamis, 11 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kesehatan

Ciplukan, Buah Kecil Bermanfaat Untuk Antidiabetes Hingga Penyakit Jantung

Ciplukan merupakan tanaman liar yang banyak dijumpai di pekarangan rumah. Buah ciplukan banyak dikonsumsi karena mempunyai rasa yang manis.

Tayang:
Editor: galih permadi
Budi Santoso/BKSDA Jateng
Ciplukan 

TRIBUNJATENG.COM - Ciplukan merupakan tanaman liar yang banyak dijumpai di pekarangan rumah. Buah ciplukan banyak dikonsumsi karena mempunyai rasa yang manis.

Di balik rasanya yang manis, ternyata ciplukan mempunyai segudang manfaat untuk kesehatan salah satunya sebagai obat penyakit jantung

Manfaat
Seluruh bagian ciplukan dapat dimanfaatkan untuk mengobati cacingan dan sebagai obat penurun panas, obat diabetes, darah tinggi, infeksi saluran pernafasan atau batuk berdahak, kencing nanah, penguat jantung, sakit paru-paru, penyakit kulit, dan rematik (Kartika, 2017).

Selain itu, ciplukan bermanfaat untuk pemurnian darah, pengurangan albumin pada ginjal, rekontruksi dan penguatan saraf otak, serta pengobatan penyakit prostat (Susanti et al., 2019).

Buah ciplukan bermanfaat untuk mengobati gusi berdarah dan mual, sedangkan daunnya bermanfaat sebagai obat penyakit kulit seperti bisul, borok, dan peradangan kulit.

Vitamin A yang terkandung pada buah ciplukan bermanfaat untuk menyehatkan mata, vitamin C bermanfaat untuk memperbaiki metabolisme tubuh, vitamin D bermanfaat untuk mencegah penyakit degeneratif dan baik untuk pertumbuhan tulang dan gigi, serta vitamin K bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan reproduksi.

Kandungan polifenol bermanfaat untuk menetralkan radikal bebas dalam tubuh, sekaligus melindungi tubuh dari berbagai penyakit degeneratif (Tajidan et al., 2020).

Daun ciplukan mempunyai aktivitas anti-hiperglikemi, antibakteri, antivirus, imunostimulan, dan imunosupresan, antiinflamasi, antioksidan, analgesik, sitotoksik, diuretik.

Selain itu, bermanfaat untuk menetralkan racun, meredakan batuk, mengaktifkan fungsi kelenjar-kelenjar, dan antitumor. Kandungan saponin dalam daun ciplukan bermanfaat sebagai antitumor dan menghambat pertumbuhan kanker (Widaryati, 2019).

Manfaat ciplukan sangat beragam.

Di lembah Amazon, ciplukan dimanfaatkan sebagai obat penenang, depuratif (pembersih darah), antirematik, dan untuk meredakan sakit telinga.

Di Taiwan, dimanfaatkan sebagai obat diabetes, hepatitis, asma, dan malaria.

Di Peru, daunnya dimanfaatkan sebagai obat penyakit hati, malaria, dan hepatitis.

Sedangkan di Afrika Barat, ciplukan dimanfaatkan untuk menyembuhkan kanker. Buah ciplukan mempunyai manfaat untuk mengobati beberapa penyakit seperti penyakit jantung, asma, demam, tekanan darah tinggi, kanker payudara, menghilangkan kuning pada bayi yang baru lahir, kencing kotor, menyadarkan orang pingsan, stroke, kencing manis, sakit persendian, menurunkan kolesterol, tambah darah, penawar racun, diabetes, epilepsi, hingga penyakit kulit seperti kurap (Kusumaningsih et al., 2021).

Morfologi
Ciplukan (Physalis angulata) merupakan tanaman perdu yang termasuk kedalam familia Solonaceae. Daun ciplukan mempunyai bentuk bulat telur atau oval, ujungnya meruncing, tepi daun menyirip, pertulangan daun menjari, tekstur permukaan daun licin, berwarna hijau-hijau kekuningan.

Batang ciplukan berbentuk segi tiga (triangularis) pada batang muda dan bulat pada batang tua, permukaannya licin, jenis batang herbaceous, jenis percabangannya monopodial.

Akar ciplukan merupakan akar tunggang dengan bentuk akar serabut.

Buah ciplukan merupakan buah semu yang dilindungi oleh kelopak, berbentuk bulat berwarna hijau, kelopak berwarna keunguan.

Bunga ciplukan terdiri dari benang sari dan putik serta perhiasan bunga. Biji ciplukan berbentuk bulat berwarna putih kekuningan (Andriani et al., 2020).

Buah ciplukan mempunyai bentuk seperti tomat kecil berwarna kuning jingga dengan rasa asam manis (Kusumaningsih et al., 2021).

Kandungan Fitokimia
Tanaman ciplukan mengandung senyawa kimia berupa glikosida, flavonoid, alkaloid, steroid, fisalin, tanin, kriptoxantin, vitamin C, protein, minyak lemak, asam linoleat, asam oleat, asam falmitat, dan asam asetat (Susanti et al., 2019).

Buah ciplukan mengandung antioksidan berupa fenolik yang cukup tinggi. Buah ciplukan juga mengandung vitamin A, vitamin C, vitamin D, dan vitamin K yang tinggi. Selain itu, buah ciplukan juga mengandung senyawa berupa chlorogenik acid, asam sitrum, alaidic acid, fisalin, asam malat, tanin, alkaloid, kriptoxantin, dan gula (Tajidan et al., 2020).

Tunas ciplukan mengandung senyawa berupa saponin dan flavonoid. Daunnya mengandung flavonoid dan chlorogenik acid. Buahnya mengandung polifenol, fisalin, tannin, kriptoxantin, vitamin C, gula, dan withangulation A. Bijinya mengandung asam palmitat dan stearate. Akarnya mengandung alkaloid. Sedangkan batangnya mengandung chlorogenik acid (Kusumaningsih et al., 2021).

Ekologi
Ciplukan merupakan tanaman yang berumur satu musim atau kurang dari 6 bulan (Tajidan et al., 2020).

Ciplukan banyak ditemukan tumbuh liar di area persawahan dan perkebunan.

Ciplukan tumbuh di dataran rendah, biasanya ditemukan dibawah naungan pohon (Kusumaningsih et al., 2021).

Ciplukan ditemukan di daerah dengan iklim tropis dan subtropics yang merupakan gulma di padang rumput, perkebunan, lading, maupun hutan terbuka.

Ciplukan tumbuh di dataran rendah hingga 1650 mdpl. Berdasarkan ketinggian tempat tumbuhnya, terdapat perbedaan morfologi ciplukan.

Ciplukan yang tumbuh di ketinggian 200-400 mdpl tumbuh tegak, sedangkan yang tumbuh di ketinggian 600 mdpl tumbuh rendah dan menjalar (Andriani et al., 2020).

Suhu yang diperlukan untuk pertumbuhan ciplukan berkisar antara 18-350C (Tambunan, 2018).

Benih ciplukan berkecambah dengan baik pada suhu 270 - 300 C, fotoperiodisasi lebih dari 8 jam, dan umur simpan selama 12 bulan (Susanti et al., 2019).

Persebaran
Ciplukan berasal dari Peru, Amerika Latin yang kemudian tersebar ke Amerika, Pasifik, Australia, dan Asia.

Di Indonesia, ciplukan mempunyai beberapa nama lokal seperti cecenet (Sunda), nyornyoran (Madura), keceplokan (Bali), dedes atau leletep (Sumatera), dan leletokan (Minahasa) (Kusumaningsih et al., 2021).

Di Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) Pati Barat Ciplukan dapat ditemukan di semua kawasan, yaitu Cagar Alam (CA) Keling Iabc, CA Keling II/III, CA Kembang dan CA Gunung Celering di Kabupaten Jepara.

Penulis

Budi Santoso
PEH Muda pada BKSDA Jateng
Kepala KPHK Pati Barat (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved