Berita Pendidikan

Pakar Pendidikan: Kurikulum Baru atau Prototipe dari Mendikbud Ristek Merupakan Kurikulum Senyap

Kebijakan Mendikbud Ristek, Nadiem A Makarim atas terciptanya kurikulum baru atau disebut kurikulum prototipe mendapatkan kritikan dari pakar.

Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: moh anhar
DOKUMENTASI PRIBADI
Pakar pendidikan dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), Edi Subkhan 

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG- Kebijakan Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Nadiem A Makarim atas terciptanya kurikulum baru atau disebut kurikulum prototipe mendapatkan kritikan dari pakar.

Pakar pendidikan dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), Edi Subkhan menuturkan, gagasan dasar kurikulum prototipe sangat bagus sebagaimana informasi yang ia terima.

"Gagasan dasarnya bagus. Lebih sederhana jadi tidak overload materi, hanya dipilih esensial. Bagi siswa di SMA misalnya, menjadi lebih 'merdeka' karena bisa memilih mata pelajaran yang disukai," kata Edi, Selasa (18/1/2022).

Dalam kurikulum prototipe, di jenjang pendidikan SMA tidak ada lagi penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa. Tetapi untuk mengembangkan diri dan memenuhi kebutuhan belajar, dibebaskan memilih mata pelajaran sesuai minat, meskipun ada sejumlah mata pelajaran yang wajib.

Menurutnya, kurikulum baru ini dirancang lebih fokus dan fleksibel. Wujudnya, target kurikulum dalam rentang tahun, bukan mingguan seperti kurikulum sebelumnya, Kurikulum 2013.

Namun demikian, ia mengkritik cara pemerintah dalam mempublikasikan dan menginformasikan kurikulum prototipe ini. Kurikulum ini disebut juga sebagai senyap karena dilakukan diam-dam di Sekolah Penggerak.

"Sebenarnya ada problem juga terkait keterbukaan dan keterlibatan publik. Beberapa mengatakan ini kurikulum senyap.  Pemerintah tidak pernah mengumumkannya. Hanya pengumuman dan peluncuran Sekolah Penggerak yang di dalamnya menggunakan kurikulum prototipe," jelasnya.

Dosen jurusan kurikulum dan teknologi pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Unnes ini menyatakan, karena tidak ada keterbukaan dan minimnya keterlibatan publik membuat Kemendikbudristek diserang berbagai tuduhan.

Edi mengatakan tuduhan yang dilayangkan lebih bersifat emosional dan politis karena tidak disertai uraian tertulis yang ilmiah dan sistematis.

Selain itu, naskah akademik sebagai acuan teoritis pengembangan kurikulum tidak ada. Padahal, membutuhkan dasar teoritis yang kuat. Naskah terkait evaluasi kurikulum sebelumnya juga tidak ada sehingga sejumlah pihak menyerang dengan asal kritik.

Naskah akademik seharusnya dipublikasikan agar bisa ditelaah bersama-sama, terutama untuk para akademisi. Dengan begitu, tidak ada pengkritik yang asal kritik.

Ia menuturkan penyusunan kurikulum yang menyangkut anak bangsa ini bisa melibatkan banyak pihak. Dari organisasi profesi, pelaku pendidikan, akademisi atau pakar pendidikan.

"Banyak pihak yang bisa dilibatkan untuk ikut mengkaji dan menelaah. Dengan begitu, juga banyak pihak yang bisa mendapatkan informasi terkait kurikulum baru tersebut," ucapnya.

Sedikitnya keterlibatan publik, kata dia, juga berdampak pada misinformasi ketika muncul isu hilangnya mata pelajaran Sejarah di jenjang SMA. Sempat menjadi kontroversi hingga Kemendikbudristek memberikan klarifikasi bahwa tidak dihilangkan tetapi berubah menjadi mata pelajaran pilihan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved