Forum Mahasiswa
OPINI Cahyo Dwi Kartiko : Metaverse Inovasi atau Ancaman?
KENAPA orang bisa menghabiskan waktu berjam jam hanya untuk menatap layar smartphone sambil melihat scrolling social media entah itu Instagram, Tik-to
Oleh Cahyo Dwi Kartiko
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Udinus
KENAPA orang bisa menghabiskan waktu berjam jam hanya untuk menatap layar smartphone sambil melihat scrolling social media entah itu Instagram, Tik-tok, Youtube dan lainnya.
Pernahkah kita itung berapa jam dalam sehari bermain social media di smartphone? Faktanya adalah hidup sebagian orang bergantung pada smartphone.
Bahkan nomophobia – sebutan untuk perasaan khawatir ketika menjalani keseharian tanpa smartphone menjadi salah satu fenomena yang makin meningkat trendnya.
Studi menyebutkan bahwa prevalensi nomophobia di negara maju dan negara berkembang berkisar antara 77 persen hingga 99 persen.
Menariknya, seolah paham konteks ketergantungan itu, perusahaan-perusahaan teknologi justru makin gencar menawarkan inovasi untuk membangun universe yang makin kuat di media sosial.
Salah satunya adalah yang beberapa waktu lalu diluncurkan oleh raksasa teknologi global Facebook lewat Metaverse yang sesungguhnya membuat kita mempertanyakan ulang kebangkitan feodoalisme model baru bertajuk techno feodalism.
Ini dia negeri dongeng interaksi sosial berbasis 3D virtual environment tanpa batas.
Buat yang belum paham, Metaverse adalah sebuah dunia virtual dengan ekosistem sendiri yang mampu berfungsi secara utuh dan menyerupai dunia nyata. Ketika saya mendengar istilah metaverse untuk pertama kalinya, saya langsung mengerti apa yang dimaksud.
Di dunia nyata, kita dapat memiliki alam semesta kita dan alam semesta lain.
Namun di alam realitas virtual, kita dapat mempertimbangkan alam semesta berbeda yang dibuat masing-masing oleh aplikasi, game, atau simulasi tertentu dan semuanya dapat disebut metaverse.
Salah satu hal keren tentang metaverse adalah memungkinkan orang untuk mengalami dunia virtual tanpa akhir, di mana mereka dapat melakukan hal-hal yang hanya mereka impikan menggunakan avatar.
Sebagai contoh, Anda akan dapat membuat tempat bersantai favorit Anda di alam, tetapi alam ini akan menjadi virtual. Anda akan dapat mengubah pemandangan seperti Anda mengubah wallpaper di laptop.
Ini seperti internet pada tingkat yang benar-benar baru, 3D dan sepenuhnya imersif.
Versi konsep metaverse yang lebih sederhana dapat dilihat di game Roblox, sebuah dunia terbuka di mana Anda dapat memilih avatar, bermain game, menghadiri konser, bertemu orang, menambang, menjelajah, dan lain lain.
Banyak hal
Menurut saya metaverse memiliki beberapa kelebihan antara lain menyatukan orang, membuat banyak kesenangan, menawarkan aura misterius dari dunia asing, membuat semuanya lebih menyenangkan dan lebih menarik, meningkatkan pekerjaan di rumah dan sekolah di rumah. Dapat melakukan banyak hal yang tidak bisa kita lakukan di dunia nyata namun hanya bisa kita lakukan di metaverse.
Selain sisi positif dalam perspektif penulis, Metaverse juga memiliki banyak sisi negatif. Sisi buruk dari metaverse adalah pemisahan yang akan terjadi antara manusia dan kenyataan.
Ini adalah perspektif di mana teknologi sepenuhnya menarik perhatian manusia, mengalihkan kita dari dunia nyata sepenuhnya.
Kita akan menjadi kecanduan metaverse pada akhirnya dan anak-anak kita akan tumbuh bersamanya.
Ini adalah arah yang nyaris tak terhindarkan. Teknologi pada akhirnya merupakan perpanjangan dari kita dan teknologi adalah masa depan kita.
Menurut pendapat penulis, metaverse dapat memiliki beberapa kontra antara lain menghasilkan kecanduan, membuat orang lupa waktu, memisahkan orang dari alam nyata dan dunia nyata, merangsang indra secara berlebihan.
Selain itu di dalam Metaverse juga terdapat komponen teknologi internet modern seperti non-fungible token alias NFT dan mata uang kripto tidak hanya akan jadi fitur, tetapi juga akan diperkuat.
Dengan demikian orang-orang bisa membangun jaringan bisnis sendiri di dunia virtual. Mirip-miriplah kayak film-film science fiction atau Game Game RPG.
Nah, meski janji-janji yang disebutkan dalam beberapa artikel berita tentang metaverse terlihat sebagai solusi modern dari berbagai keterbatasan dunia nyata, beberapa pihak, utamanya pemerintah, mulai mengkritisi dan membatasi kekuatan yang dimiliki para perusahaan besar teknologi alias big tech ini.
Kekhawatirannya adalah kapabilitas teknologi big tech yang semakin berkembang dapat mengganggu tatanan sosial, ekonomi, bahkan politik.
Dunia maya
Bukan hal yang aneh sih sebetulnya karena di negara seperti Amerika Serikat saja Facebook dalam beberapa tahun terakhir ini dikenakan kasus pelanggaran data pribadi, hoaks, sampai penyebaran ujaran kebencian.
Ini yang kemudian membuat banyak orang mewaspadai kemunculan Metaverse dalam konteks perubahan masif secara sosial, politik dan ekonomi masyarakat global.
Apalagi campur tangan big tech dalam politik, khususnya Facebook yang sekarang namanya berganti jadi Meta, terkenal memiliki reputasi yang buruk.
Kemudian, dengan fakta bahwa banyak big tech telah masuk ke jajaran perusahaan paling kaya di dunia hanya dalam waktu dua dekade, tidak aneh jika banyak orang yang kemudian khawatir kekuatan ekonomi dan politik mereka dapat mengganggu tatanan negara. Apalagi, sampai saat ini negara msih kesulitan mengatur gerak-gerik para big tech.
Terkait hal ini, filsuf ekonomi asal Yunani, Yanis Varoufakis dalam video Capitalism has Become Techno-Feudalism mengenalkan konsep techno-feudalism untuk memperingatkan bagaimana perkembangan teknologi internet yang semakin tidak terpantau.
Tidak hanya mengancam perlindungan data pribadi, tetapi juga sistem ekonomi dan politik secara keseluruhan.
Ia melihat bahwa saat ini big tech semakin menunjukkan potensinya sebagai aktor monopoli ekonomi modern.
Yanis menilai, kemampuan teknologi luar biasa yang dimiliki para big tech tidak hanya membuat mereka menjadi aktor yang paling berkuasa di dunia maya, tetapi kekuatan tersebut juga bisa kapan saja dikapitalisasi menjadi sesuatu yang bisa menggoyahkan legitimasi negara sebagai entitas politik tertinggi.
Bagaimana tidak, mereka adalah garda terdepan dalam pengembangan teknologi siber.
Mereka memantau dan tahu secara langsung bagaimana informasi dapat mengubah atau membuat sebuah opini publik.
Terkait dengan Metaverse serta lingkungan ekonomi virtual, mereka menjadi penyedia “lahan” alias “tuan tanah”, yang tentu “harga” dan situasi kondisinya diatur oleh mereka sendiri.
Inilah modern version of feudalism.
Semua kekuatan yang dimiliki big tech ini sejalan dengan bagaimana feodalisme terjadi pada masa lampau. Dalam feodalisme klasik, para pemilik tanah dapat mempengaruhi kebijakan politik seorang raja.
Sementara dalam techno-feudalism, para elite big tech lah yang menjadi tuan tanah dunia virtual, layaknya sekelompok aristokrat yang mampu merundingkan, mengatur, dan bernegosiasi dengan otoritas negara.
Berbeda dengan kapitalisme, dalam techno-feudalism pasar didominasi oleh segelintir orang yang jumlahnya sangat sedikit, namun kuat tanpa tandingan.
Segelintir orang tersebut tidak hanya menguasai pasar, tetapi juga dapat menentukan perilaku pasar sesuai keinginan mereka.
Di sisi lain, profesor informasi dan teknologi dari Imperial College London, Jeremy Pitt, dalam tulisannya The BigTech Academia-Parliamentary Complex and Techno-Feudalism, mengatakan kekhawatiran utama dari techno-feudalism sesungguhnya adalah ancamannya kepada nilai kebebasan berpendapat di internet.
Big tech seperti Meta mampu mendistorsi proses agregasi informasi, yang pada akhirnya menggiring publik ke pemahaman yang keliru akan suatu isu.
Terkait hal ini, dalam bukunya yang berjudul Identity: The Demand for Dignity and the Politics of Resentment, Francis Fukuyama mengatakan bahwa sejak awal dikembangkan pada tahun 1990-an, banyak pengamat politik yakin internet akan menjadi kekuatan penting dalam mempromosikan nilai-nilai demokrasi.
Kekuatan
Informasi adalah kekuatan, dan jika internet dapat menjadi gerbang akses bagi orang-orang untuk memperoleh informasi, internet seharusnya menjadi simbol yang kuat bagi masyarakat negara demokrasi.
Namun sayangnya, internet telah menjadi alat untuk memobilisasi opini publik, bahkan identitas politik.
Teori konspirasi dengan bebasnya berseliweran di media sosial dan bahkan mampu mendapatkan penganut yang jumlahnya banyak.
Ini adalah sebuah distorsi terhadap realitas. Perkembangan sosial media menurut Fukuyama juga dapat memfasilitasi upaya untuk menodai dan bahkan merusak lawan politik dari seorang pejabat.
Dan anonimitas yang muncul akibat kemajuan teknologi dapat menghilangkan batasan sejauh apa pejabat tersebut berkeinginan merusak oposisinya.
Pada akhirnya, yang menjadi penguasa mutlak adalah para bos big tech.
Mereka mampu mendikte pemegang kekuasaan karena memiliki kendali penuh atas data yang ada di platform-nya. Mereka juga mampu mendistorsi memori manusia.
Skenario seperti inilah yang diperingatkan oleh filsuf Slovenia, Slavoj Žižek dalam Democracy and Capitalism Are Destined to Split Up.
Ia melihat bahwa bentuk sistem ekonomi yang dianut sekarang semakin tidak membutuhkan demokrasi karena para aktor yang terlibat dalam aktivitas politik dan ekonomi sadar bahwa opini publik akan lebih efisien dan efektif jika dijadikan hanya sebagai modal politik dan ekonomi.
Dari sini, kita bisa melihat bahwa Metaverse dan masa depan internet bukanlah surga bagi demokrasi.
Justru nilai demokrasi akan dimainkan untuk menjadi keuntungan pihak tertentu.
Metaverse akan menjadi salah satu simbol makin kuatnya techno-feudalism penundukan masyarakat pada feodalisme baru dengan para big tech sebagai aktor utamanya.
Jika demikian, apa yang harus kita lakukan. Bukannya kita hidup di dunia yang tak terbendung lagi dari sisi perkembangan teknologi informasinya?
Mark Baca Situasi
Kita lihat ke belakang 2 tahun ini, sudah semakin jarang bertemu dan bersosialisai secara fisik dengan kerabat atau teman teman kita karena adanya pandemic ini.
Bukannya berpikir bagaimana cara kita bisa segera mewujudkan hal tersebut metaverse malah semakin ingin membuat kita semakin menjauhi dari harapan kita tersebut.
Jika memang Mark perduli akan hal tersebut seharusnya dia menghapus facebook dari 10 tahun yang lalu.
Well, kita memang tidak bisa serta merta menyingkirkan keberadaan internet atau sosial media atau Metaverse atau apapun itu.
Mau tidak mau dan suka tidak suka, kita akan menjadi bagian dari gelombang ini. Namun, yang bisa kita lakukan adalah memilah-milah realitas yang akan kita hidupi.
Jangan sampai realitas hidup sehari-hari kita terdistorsi oleh Metaverse dan membuat kita terkungkung dalam ruang-ruang sempit hanya ditemani smartphone atau komputer semata.
Dunia nyata ini sangat indah dan luas untuk dieksplorasi. Karena seperti kata Nassim Nicholas Taleb: “Perbedaan antara teknologi dan perbudakan adalah bahwa para budak sadar sepenuhnya, mereka tidak bebas.
Sementara teknologi sebaliknya kita tidak menyadarinya dan malah menikmati perbudakan dari teknologi”. Gunakanlah teknologi dengan bijak dan jangan sampai kita diperbudak oleh teknologi. (*)
Baca juga: Setelah Dani Alves, Xavi Pulangkan Adama Traore ke Barcelona, Berikutnya Messi?
Baca juga: Hotline Semarang : Benarkah Kejadian Penyuntikan Vaksin Kosong di Kota Semarang?
Baca juga: Lansia Kelahiran Jepang Meninggal Setelah 7 Menit Hubungan Intim di Sarkem Yogyakarta
Baca juga: Fokus : Arisan Online
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/terlihat-di-layar-ceo-facebook-mark-zuckerberg-mengumumkan-nama-baru-mereka.jpg)