Fokus
Fokus : Gelombang ke Tiga
KEKHAWATIRAN munculnya gelombang ketiga Covid-19, utamanya pasca libur Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 (Nataru)
Penulis: deni setiawan | Editor: Catur waskito Edy
oleh Deni Setiawan
Wartawan Tribun Jateng
KEKHAWATIRAN munculnya gelombang ketiga Covid-19, utamanya pasca libur Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 (Nataru), akankah menjadi nyata?
Apakah itu semata-mata akibat tingginya mobilitas manusia yang masih abai terhadap protokol kesehatan?
Seperti diketahui, dalam sepekan terakhir kabar mengejutkan dari sepak bola Tanah Air. Tak sedikit pemain Liga 1 yang dinyatakan positif Covid-19.
Bahkan, laga Madura United Vs Persipura Jayapura yang semestinya digelar pada Selasa (1/2) terpaksa ditunda.
Kebijakan menunda laga tersebut akibat mayoritas pemain Madura United dinyatakan positif Covid-19 jelang laga, sehingga pihak penyelenggara memutuskan untuk menjadwalkan ulang laga pada putaran kedua Liga 1 itu.
Bila menengok catatan PT LBI, tak hanya Madura United yang harus kehilangan pemain akibat harus menjalani masa karantina. Ada Arema FC, Persib Bandung, Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, hingga PSM Makassar.
Kabar terbaru pada Rabu (2/2), Kantor DPR RI terpaksa dilockdownuntuk sementara waktu. Seluruh kegiatan parlemen pun dibatalkan. Penyebabnya karena 9 anggota dewan dan sekira 80 pegawainya terkonfirmasi positif Covid-19.
Mengacu data Kemenkes, setidaknya ada penambahan 10.185 kasus terkonfirmasi per Rabu (2/2) sore atau menjadi 4.353.370 kasus secara kumulatif dan kini ada 68.596 kasus aktif.
Meskipun banyak catatan kasus di awal tahun ini, pemerintah belum mau menyebut Indonesia memasuki gelombang ketiga pandemi Covid-19. Namun lebih kepada masa kesiapsiagaan.
Seperti yang diutarakan Direktur P2PML Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi. Menurutnya, sudah atau belumnya Indonesia masuk gelombang ketiga tak semata-mata dilihat dari jumlah penambahan kasus dalam 10 hari.
“Masih perlu dilihat lebih dalam lagi. Tak sebatas hanya acuan penambahan kasus yang terjadi saat ini. Apalagi hanya 10 hari,” kata Siti Nadia.
Menurutnya, penambahan kasus tersebut ada pengaruh dari aktivitas testing dan tracing yang sedang terus digenjot pemerintah di seluruh wilayah. Sehingga konsekuensinya, angkapositivity ratemengalami kenaikan.
Berdasar data per akhir Januari 2022, jumlah orang yang telah dites adalah 5,75 per 1.000 penduduk per minggu. Angka tersebut diklaim jauh di angka anjuran WHO yakni 1 per 1.000 penduduk per minggu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/deni-setiawan-wartawan-tribun-jateng.jpg)