Senin, 18 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

OPINI

OPINI Udi Utomo : Tengkes dan Pangan Lokal

KASUS tengkes (stunting) di Indonesia tergolong masih tinggi. Menurut data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan menunjukkan balita

Tayang:
Bram
Udi Utomo 

Oleh Udi Utomo SS, MPd

Guru di SMPN 5 Pati

KASUS tengkes (stunting) di Indonesia tergolong masih tinggi. Menurut data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan menunjukkan balita yang mengalami tengkes di Indonesia tahun 2021 sebesar 24,4 persen (Kompas, 4/2/2022).

Kasus tengkes tidak hanya terjadi di daerah perdesaan tetapi juga di perkotaan. Misalnya di Semarang ada sebanyak 1.367 balita mengalami tengkes (27/1/2022).

Meskipun angka tengkes terus mengalami penurunan. Tetapi angka tengkes di Indonesia masih di atas standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu sebesar 20 persen. Oleh karenanya, Pemerintah menargetkan untuk menurunkan angka tengkes sebesar 14 persen pada tahun 2024.

Persoalan tengkes timbul tidak saja terkait kemampuan ekonomi tetapi juga karena masyarakat belum memiliki literasi gizi.

Akibatnya pola konsumsi masyarakat terbiasa dengan memakan makanan yang tidak sehat. Misalnya anak-anak sekolah biasa mengkonsumi makanan instan dan jajanan di pinggir jalan seperti cilok, telur gulung, sosis, pentol, mi lidi dll.

Makanan tersebut merupakan jenis makanan yang tidak sehat karena mengandung bahan pengawet, pemanis buatan, penguat rasa dan pewarna sintetik yang tinggi kandungan GGL-nya (gula, garam, dan lemak).

Padahal pola konsumsi anak sekolah yang tidak sehat tersebut akan mempengaruhi pada tumbuh kembang dan kecerdasan. Selain itu, bila dikonsumsi terus menerus dalam jangka lama akan meningkatkan risiko kegemukan (obesitas) serta penyakit seperti diabetes, hipertensi, kolesterol, jantung koroner, dan stroke.

Keanekaragaman Pangan

Perlu adanya upaya memberi pilihan makanan alternatif yang lebih sehat pada anak-anak sekolah. Salah satu alternatif makanan yang bisa menjadi pilihan adalah pangan lokal. Pangan lokal merupakan jenis makanan sehat karena memiliki kandungan rendah karbohidrat dan rendah gula.

Menurut UU No. 18/2012 tentang Pangan mendefinisikan pangan lokal sebagai makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat yang selaras dengan potensi dan kearifan lokal.

Definisi lain sebagaimana dikemukakan Juslan yang mengutip pendapat Sastroamidjojo (Supriatna, 2016) mengartikan pangan lokal adalah pangan yang diproduksi setempat (suatu wilayah/daerah) untuk tujuan ekonomi atau dikonsumsi yang berupa bahan pangan baik komoditas primer atau sekunder.

Negara kita memiliki potensi pangan lokal yang besar. Menurut data, Indonesia merupakan negara yang memiliki keragaman sumber pangan tertinggi di dunia setelah Brasil. Indonesia memiliki 77 jenis tanaman sumber karbohidrat, 75 jenis sumber minyak atau lemak, 25 jenis kacang-kacangan, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, dan 110 jenis rempah dan bumbu (Departemen Gizi Masyarakat IPB, 2019).

Pangan lokal tersedia banyak di sekitar kita seperti sukun, jagung, singkong, gembili, talas, ubi jalar, pisang, sagu, ganyong, labu kuning, sorgum dan lain-lain.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved