OPINI
OPINI Udi Utomo : Tengkes dan Pangan Lokal
KASUS tengkes (stunting) di Indonesia tergolong masih tinggi. Menurut data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan menunjukkan balita
Sayangnya potensi pangan lokal tersebut belum dimanfaatkan dan dikelola untuk memenuhi kebutuhan gizi.
Gerakan mengkonsumsi pangan lokal bisa menjadi altenatif makanan bagi anak sekolah. Internalisasi gerakan ini dapat melalui pendidikan (sekolah) dan orang tua.
Sekolah dan orang tua memiliki peran penting untuk mewujudkan pangan lokal menjadi makanan anak sekolah.
Di sekolah, guru dapat menginternalisasikan gerakan pangan lokal ini melalui pembelajaran. Guru medesain pembelajaran dengan memanfaatkan pangan lokal sebagai sumber dan media belajar.
Dalam hal ini guru mengembangkan kurikulum yang ada. Dari Standar Kompetensi (SK)/Kompetensi Dasar (KD) dengan tema yang sesuai dikembangkan dalam pembelajaran dengan menyelaraskan tujuan yang akan dicapai.
Manfaatkan Pekarangan
Tujuan pembelajaran yang akan dicapai agar siswa memiliki pengetahuan, kesadaran dan mengkonsumi pangan lokal.
Artinya kesadaran siswa dalam mengkonsumsi pangan lokal didasari oleh pengetahun bahwa pangan lokal lebih sehat dan kaya nutrisi. Siswa mengkontruksi pikiran kritisnya dalam memilih makanan yang akan dikonsumsi.
Mereka menjadi pribadi yang otonom dalam memilih antara makanan sehat dan tidak sehat. Siswa memiliki pengetahuan, tindakan dan gaya hidup sebagai konsumen yang mengkonsumsi pangan lokal.
Untuk menguatkan pengenalan pangan lokal. Guru dapat memberi penugasan berupa kecakapan hidup (life skill) dengan meminta siswa untuk memanfaatkan lahan pekarangan sekecil apapun di rumah untuk menanam tanaman lokal baik menggunakan pot maupun teknik hidroponik.
Selain dalam pembelajaran. Penumbuhan literasi pangan lokal dapat melalui budaya sekolah. Pembiasaan baik berikut dapat dipraktikan di sekolah seperti mewajibkan siswa untuk membawa bekal makanan dari rumah dengan menu pangan lokal.
Orang tua untuk ikut mendukung program tersebut dan bersedia menyiapkannya. Program ini juga untuk menghindari anak jajan di luar.
Program lainnya, sekolah dapat bekerjasama dengan instansi kesehatan setempat seperti dinas kesehatan atau puskesmas/rumah sakit yang secara rutin untuk melakukan sosialisasi pada siswa terkait literasi gizi.
Kemudian sekolah dapat memberdayakan kantin sekolah untuk menyediakan makanan lokal dan mengurangi jajanan dan makanan instan.
Kantin sekolah dapat pula berperan dalam mengedukasi siswa terkait makanan sehat yang mereka jual. Kantin sekolah dapat memanfaatkan papan menu dengan menyertakan informasi kandungan GGL semua jenis jajanan yang ditawarkannya. (*)
Baca juga: Februari Diprediksi Jadi Puncak Musim Penghujan, Waspadai Bencana Alam
Baca juga: Lewat Pelatihan DEA, Wabup Harap UMKM Blora Cakap Digital
Baca juga: Bacaan Sholawat Rajabiyah Lengkap dengan Latin dan Artinya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/udi-utomo.jpg)