Cerita Mahasiswi Semarang Ditipu Joki Tugas Kuliah Promo Twitter
Cerita mahasiswi sebuah universitas di Semarang yang ditipu oleh joki tugas kuliah.
Penulis: amanda rizqyana | Editor: Daniel Ari Purnomo
Ia pun ingin membuat orang tuanya bangga dengan menyandang gelar mahasiswa cumlaude.
Sementara itu, Ahmad Khairudin selaku Dosen Luar Biasa Jurusan Antropologi Universitas Diponegoro (Undip) dan Direktur Hysteria mengatakan kemajuan dan perubahan dari peradaban atau kebudayaan manusia tidak ada jaminan mereka menjadi lebih baik atau tidak.
Dalam hal ini dikaitkan dengan perkembangan teknologi, ditambah politik, dan sosial.
Menurutnya, perkembangan dalam kebudayaan manusia dalam hal apapun memiliki potensi tergelincir dalam kehancuran terbuka lebar.
"Apalagi bila berbicara tentang tugas dan kualitas pendidikan saat ini di mana susah mencari anak-anak di bawah B karena rerata B dan A. Padahal dulu dapat C kadang untuk mata kuliah tertentu setengah mati," urainya.
Khairudin menambahkan, sementara saat ini hampir nilai dari tugas yang diberikan dosen bila diperhatikan berada di angka A dan B terus-menerus padahal di sisi lain tidak dapat mengetahui kualitas sebenarnya dari mahasiswa.
Hal ini juga yang terpengaruh faktor Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Ia menambahkan, peserta didik ini lulus kuliah juga tidak dapat mengembangkan kemampuan atau keterampilan, bahkan tidak dapat melebarkan jaringan karena keterbatasan aktivitas dan interaksi.
"Sedangkan dalam pekerjaan tentu tidak bisa berpegang lagi pada Indeks Prestasi (IP) sehingga para pemberi kerja tidak percaya-percaya amat dengan IPK-IPK seperti ini, makanya dalam rekrutmen karyawan baru ada masa orientasi dan magang dan masa percobaan, untuk melihat apakah mereka cocok dengan beban dan iklim kerja yang sudah dibangun," terangnya.
Dari proses prakerja inilah untuk membuktikan kelayakan seseorang masuk ke dalam struktur inti atau pegawai di perusahaan tersebut.
Perusahaan tidak ingin menginvestasikan waktu dan tenaga untuk mengajari individu yang hanya menang angka di atas kertas, melainkan juga memiliki kesanggupan secara mental dengan iklim dunia kerja.
Ia sendiri merasa pemberian nilai yang baik harus A maupun minimal B merupakan target akreditasi perguruan tinggi yang harus dipenuhi.
Meski baginya, hal tersebut menjadi salah kaprah karena justru akan membuat mahasiswa hanya berorientasi pada nilai.
"Tetapi perusahaan juga tidak senaif itu untuk menerima lulusan sebagai tenaga kerja baru berdasarkan IPK," tandasnya.
(arh)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-pusing-kepala-hadapi-masalah_20161020_122805.jpg)