OJK Kaji Larangan Debt Collector Tagih Utang Pinjol

penagihan utang pinjol melalui jasa debt collector kerap meresahkan masyarakat. Cara-cara penagihan yang tidak etis kerap dirasakan debitur pinjol.

Editor: Vito
shutterstock.com
ilustrasi - Fintech 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah fokus melakukan perbaikan industri financial technology (fintech) peer to peer (P2P) lending atau pinjaman online (pinjol).

Satu aspek yang disoroti OJK ialah praktik penagihan utang pinjaman debitur platform yang biasa disebut pinjaman online itu.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso mengatakan, pihaknya tengah melakukan kajian terhadap praktik penagihan utang pinjol yang menggunakan jasa debt collector.

Sebagaimana diketahui, penagihan utang pinjol melalui jasa debt collector kerap meresahkan masyarakat. Cara-cara penagihan yang tidak etis kerap dirasakan debitur pinjol.

Dengan kondisi itu, menurut dia, OJK berpotensi melarang penyelenggara pinjol menggunakan jasa debt collector dalam proses penagihan utang debitur.

"Kami juga berpikir, penagihan dengan debt collector ini akan kami uji ulang. Bisa-bisa akan kami larang," ujarnya, dalam diskusi virtual, Jumat (11/2).

Wimboh menuturkan, penagihan utang kepada debitur seharusnya dilakukan oleh pihak penyelenggara pinjol, bukan debt collector, yang sifatnya outsource atau menggunakan jasa pihak ketiga. "Yang kadang-kadang ini sulit bagi kami untuk melacak," katanya.

Ia memastikan, OJK akan terus melakukan perbaikan terhadap regulasi serta pengawasan terhadap penyelenggara fintech P2P lending, guna menciptakan ekosistem pembiayaan yang lebih baik ke depan.

"Kami akan terus melakukan perbaikan-perbaikan dan juga berbagai regulasi, pengawasan, dan penegakan hukum akan terus kami lakukan," tuturnya.

Meskipun fintech P2P lending sempat disorot banyak pihak akibat praktik pinjol yang merugikan, industri itu dinilai masih memiliki peranan penting untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan masyarakat.

Data OJK mencatat, akumulasi penyaluran pinjaman fintech P2P lending terus mengalami pertumbuhan signifikan.

Hingga akhir 2021, akumulasi penyaluran pinjaman fintech P2P lending telah mencapai Rp 295,85 trililun, tumbuh 89,77 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Dari total pinjaman tersebut, OJK mencatat, outstanding pinjaman P2P lending sampai dengan Desember tahun lalu mencapai Rp 29,88 triliun, melesat 95,05 persen secara yoy.

"Artinya secara akumulasi Rp 295,8 triliun, tapi sebagian sudah lunas, dan yang masih outstanding Rp 29,9 triliun," terang Wimboh. (Kompas.com/Rully R Ramli)

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved