Tribun Jateng Hari Ini
Pemangkasan Kuota Impor Picu Lonjakan Harga Daging Sapi
Tahun ini pemerintah memangkas kuota impor daging sapi bagi swasta dari 297.000 ton pada 2025 menjadi hanya 30.000 ton.
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Protein Hewani Indonesia (APPHI) menilai kebijakan pemerintah menerapkan kuota impor daging sapi membuat daya tarik pasar Indonesia melemah.
Seperti diketahui, tahun ini pemerintah memangkas kuota impor daging sapi bagi swasta dari 297.000 ton pada 2025 menjadi hanya 30.000 ton.
Direktur Eksekutif APPHI, Marina Ratna mengatakan, sistem kuota impor menyebabkan Indonesia tak lagi menjadi pasar yang diperhitungkan pemasok. Di sisi lain, konflik Timur Tengah juga disebut turut memengaruhi biaya logistik bagi importir.
Namun secara umum, menurut dia, kenaikan harga daging saat ini, baik dari Australia maupun Selandia Baru, sudah terjadi sejak akhir 2025 lalu.
“Kenaikan ini didorong oleh tingginya permintaan dari negara lain seperti China, Korea, Jepang, dan Amerika Serikat (AS),” katanya, kepada Kontan, Jumat (10/4).
Marina menuturkan, pengalihan izin impor kepada BUMN juga menjadi kendala. Sebab, meski BUMN mendapat kuota, dalam praktiknya kuota tersebut tetap diberikan kembali kepada pihak swasta.
“Hal ini memicu praktik monopoli yang berpotensi menjaga harga tetap tinggi,” ucapnya.
Ia menyebut, masyarakat sebenarnya dapat memperoleh daging dengan harga yang lebih terjangkau jika skema kebijakan diubah dan lebih terbuka.
APPHI berharap pemerintah dapat memberikan ruang bagi mekanisme pasar agar berjalan secara adil. “Harga seharusnya ditentukan oleh keseimbangan antara permintaan dan penawaran,” ujarnya.
Jika skema kebijakan diubah, Mariana menyatakan, masyarakat dapat memperoleh daging dengan harga yang lebih terjangkau.
Sebelumnya, Ketua Jaringan Pemotong dan Pedagang Daging Indonesia (JAPPDI) Asnawi mengatakan, pada September-Oktober 2025, harga sapi hidup di feedlot masih sekitar Rp 47.000/kg. Namun, mulai Desember 2025 hingga Februari-Maret 2026, terjadi kenaikan bertahap.
Harga sapi hidup yang tadinya naik menjadi Rp 53.000/kg, lalu kembali mendaki ke Rp 55.000-56.000/kg. Kenaikan harga pun sudah tercatat sekitar 20 persen sejak akhir 2025 lalu.
Ketua JAPPDI Asnawi mengatakan, di tingkat pedagang eceran harga daging yang sebelumnya Rp 120.000/kg, kini rata-rata menyentuh Rp 140.000/kg. Bahkan, harga bisa sampai Rp 160.000/kg di beberapa pasar.
Ia berujar, hal itu juga berdampak terhadap daya beli masyarakat. Meskipun konsumsi tetap ada karena kebutuhan, tetapi pola konsumsi berubah.
“Yang biasanya beli satu kilogram, sekarang beli setengah kilogram. Yang biasanya makan daging dua kali seminggu, sekarang hanya sekali. Jadi daya beli melemah, bukan hilang,” bebernya. (Kontan/Chelsea Anastasia)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/daging-sapi-6-juni-2022.jpg)