Harga Minyak
Harga Minyak Goreng Curah di Pasar Tradisional Masih Tinggi dan Alami Kelangkaan
Menurutnya, di pasar terutama tokonya belum menerapkan harga minyak goreng curah dengan HET 11.500 per liter sebab harga diperoleh masih tinggi.
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: m nur huda
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pedagang sembako di pasar Kota Semarang mengeluhkan kelangkaan stok minyak goreng. Pasalnya, sudah berhari-hari mereka kesulitan mendapatkan pasokan minyak goreng terutama pada minyak goreng curah.
"Sudah tiga hari ini minyak goreng curah kosong. Kalau kemasan ada, tapi terbatas. Setiap dapat cepat habisnya," kata Warto, satu di antara pedagang di Relokasi Pasar Johar Baru Semarang, Selasa (15/2/2022).
Menurut Warto, selain langka, harga minyak goreng curah juga dinilai masih tinggi. Hal itu terlihat tiga hari lalu, yang menurutnya saat tersedia, harga masih pada kisaran Rp 18.500 per kilogram.
Sementara ia mengatakan, hingga hari ini belum ada tanda-tanda adanya pasokan minyak goreng dengan harga terjangkau.
Menurutnya, pasokan minyak goreng curah baru akan datang pada 17 Februari mendatang.
"Katanya (sales) datang tanggal 17. Belum tahu harganya nanti bagaimana. Mungkin itu minyak goreng curah dengan harga baru," kira Warto.
Di sisi lain, Handoyo yang juga pedagang di Relokasi Pasar Johar Baru Semarang mengaku harga minyak goreng curah masih tinggi hingga hari ini.
Ia yang masih memiliki stok minyak goreng curah tersebut mengatakan, harga minyak goreng curah saat ini dipatok Rp 18.000 per kilogram.
Menurutnya, di pasar terutama tokonya belum menerapkan harga minyak goreng curah dengan HET 11.500 per liter sebab harga diperoleh masih tinggi.
"Saya kulak harga Rp 17 ribu, dijual Rp 18 ribu per kilogram. Harga masih mahal, belum ada harga Rp 11.500," kata Handoyo.
Menurut Handoyo, tingginya harga minyak goreng curah ini membuat banyak pelanggan beralih membeli minyak goreng kemasan sebab harga dinilai lebih terjangkau. Adapun dikatakan, permasalahan lain ditemui yakni minimnya stok minyak goreng kemasan tersebut.
"Mereka (pelanggan) cari yang murah terus, kalau mahal tidak mau," imbuhnya.
Masih tingginya harga minyak goreng curah di pasar tradisional membuat pembeli kebingungan. Hal itu di antaranya diakui Sri, pembeli asal Kaligawe Semarang.
Sri mengatakan, ia berbelanja di pasar untuk mencari berbagai bahan masakan sebab merasakan harga dinilai lebih terjangkau. Namun, masih tingginya harga minyak goreng ini membuatnya terpaksa membeli sebab sudah menjadi kebutuhan pokok. Terlebih pula untuk dagangannya.
"Di rumah saya jual matengan, ada nasi goreng dan gorengan. Pemakaian minyak goreng minimal 2 liter per hari. Kalau tidak ada yang murah ya terpaksa beli Rp 40 ribu (2 liter), sampai mau putus asa jualannya karena harga-harga naik," ungkapnya.