Produsen Tempe Banyumas Ciutkan Ukuran Tempe: dikecilin ukurannya pembeli protes

Kenaikan harga kedelai dikeluhkan produsen tempe di Desa Pliken, Kecamatan Kembaran, Banyumas.

Penulis: Imah Masitoh | Editor: Daniel Ari Purnomo
Tribun Jateng/ Imah Masitoh
Produsen tempe di Desa Pliken, Kecamatan Kembaran keluhkan harga kedelai yang tinggi, Senin (21/2/2022).  

TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS - Kenaikan harga kedelai dikeluhkan produsen tempe di Desa Pliken, Kecamatan Kembaran, Banyumas.

Menjadi pusat produksi tempe di Banyumas sedari dulu, adanya kenaikan kedelai sangat dirasakan produsen tempe di sini. 

Kenaikan sudah mulai dirasakan produsen tempe sejak awal tahun baru, hingga kedelai melambung tinggi sampai saat ini mencapai Rp. 11.000 per kilogramnya yang sebelumnya hanya Rp. 8.000 per kilogram. 

Untuk menyiasatinya produsen tempe mengecilkan ukuran tempe agar tidak terlalu jomplang dengan biaya produksi.

Meski demikian banyak pembeli yang protes akan hal itu. 

"Harga tempe susah naik, dikecilin ukurannya pembeli protes," ujar Iim produsen tempe di Desa Pliken. 

Harga tempe yang dijual berbeda-beda tergantung jenisnya.

Untuk tempe kepok dijual dengan harga Rp. 500 per bungkus, tempe lontrong seharga Rp. 5.000.

Menurut Jono (50) produsen tempe, dirinya mengurangi produksi hingga 10 kilogram.

Sebelumnya dirinya dapat memproduksi hingga 50 kilogram per hari, sekarang hanya 40 kilogram saja.

Hal ini dilakukan untuk menghindari kelebihan tempe yang tidak laku terjual.

"Saya mulai berjualan pukul 05.00 pagi sampai mentok 12.00 siang," jelasnya. 

Terlebih saat musim kemarau tiba penjualan tempe akan menurun.

Hal ini kaitannya dengan cuaca yang panas tidak banyak orang yang membuat tempe mendoan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved