Berita Salatiga
Perajin Tahu Tempe Gagal Mogok Produksi, Ini Alasannya
Pada minggu kemarin, Puskopti (Pusat Koperasi Tahu Tempe Indonesia) memberi surat edaran terkait para perajin tahu tempe untuk mogok produksi
Penulis: Hanes Walda Mufti U | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUNJATENG.COM, Salatiga - Pada minggu kemarin, Puskopti (Pusat Koperasi Tahu Tempe Indonesia) memberi surat edaran terkait para perajin tahu tempe untuk mogok produksi sebagai upaya protes naiknya harga kedelai pada tanggal 21-23 Februari 2022, Selasa (22/2/2022).
Upaya mogok produksi tersebut batal karena pihak pemerintah telah memenuhi tuntutan para perajin tahu tempe.
Menurut Ketua Puskopti Sutrisno Supriantoro, pihaknya menghimbau perajin tahu tempe tidak mogok produksi karena sudah ada kesepakatan dengan pemerintah terkait harga kedelai.
“Sebelumnya memang ada imbauan agar melakukan mogok produksi, namun Gakoptindo (Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe) sudah bertemu dengan Menteri Perdagangan membahas soal kedelai pada hari minggu kemarin,” kata Sutrisno.
Ia menjelaskan, ada beberapa hal yang menjadi kesepakatan terkait para perajin tidak perlu mogok produksi sebagai upaya protes.
Salah satunya per Maret bulan depan, harga kedelai akan disubsidi seribu rupiah perkilogram.
“Pemerintah diminta memastikan stok kedelai aman sampai tiga bulan kedepan dan tidak terjadi fluktuasi harga kedelai,” tambahnya.
Pihaknya juga meminta pemerintah untuk mengumumkan kenaikan harga tahu dan tempe ke masyarakat.
“Selama ini para perajin tidak bisa menaikkan harga produknya, sehingga dampaknya adalah mengecilkan ukuran tahu tempe,” ujarnya.
Sementara itu Tuminem perajin tahu di Kota Salatiga menjelaskan ia tidak ikut mogok produksi dalam tiga hari kedepan.
“Kita tidak ikut mogok produksi,” kata Tuminem.
Menurutnya, tidak ada yang memberitahu kalau ada surat edaran untuk mogok produksi.
“Ya karena kita tidak ada yang memberitahu untuk mogok produksi dan kita disini masih produksi semua,” tambahnya.
Ia mengaku selain terkena dampak dari naiknya harga kedelai, ia juga terkena dampak dari kelangkaan minyak goreng.
Tuminem juga mengeluh karena pendapatanya hanya sedikit apalagi kedelai sekarang tambah tinggi harganya.