Selasa, 9 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Pekalongan

Air Sumur di Simbangkulon Tercemar Limbah, PMI Pekalongan Suplai Air Bersih

Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Pekalongan mendistribusikan bantuan air bersih ke warga Kelurahan Simbangkulon, Kecamatan Buaran, Pekalongan

Tayang:
Penulis: Indra Dwi Purnomo | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG/INDRA DWI PURNOMO
Relawan PMI Kabupaten Pekalongan suplai air bersih di Kelurahan Simbangkulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Minggu (6/3/2022) sore. 

TRIBUNJATENG.COM, KAJEN - Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Pekalongan mendistribusikan bantuan air bersih ke warga Kelurahan Simbangkulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Minggu (6/3/2022) sore.

Pendistribusian air bersih ini dilakukan karena, air sumur rumah mereka berwarna. Diduga, air sumur tersebut tercemar limbah batik karena imbas proyek saluran air yang belum selesai.

Kintoko Yuda relawan PMI Kabupaten Pekalongan mengatakan, penyaluran air bersih ini dikarenakan adanya permintaan air bersih oleh warga di wilayah Kelurahan Simbangkulon, Kecamatan Buaran.

"Terkait adanya laporan dari warga, masalah air sumur yang tercemar limbah sehingga PMI menyuplai air bersih di kelurahan ini," kata Kintoko Yuda relawan PMI Kabupaten Pekalongan.

Ia mengungkapkan, ada 9.000 liter yang disuplai di Kelurahan Simbangkulon, Kecamatan Buaran.

"Ada dua titik yang disuplai air bersih. BPBD membawa menyuplai 4.000 liter air bersih di titik pertama.

Sedangkan PMI distribusikan 5.000 liter di titik kedua," ungkapnya.

Rencananya, suplai air bersih untuk kebutuhan sehari-hari akan dilakukan seminggu dua kali.

"Ini suplai air bersih yang pertama kali. Saat ini masih sesuai kebutuhan warga.

Apabila, permintaan meningkat warga akan dijatah untuk air bersihnya," imbuhnya.

Sementara itu, Misbahudin (40) warga RT 15 RW 5, Simbangkulon mengatakan, adanya suplai air bersih ini sangat membantu sekali untuk warga.

Terutama kebutuhan untuk rumah tangga seperti minum dan untuk memasak.

"Semoga saja PMI rutin memberikan bantuan air bersih ini, untuk warga yang terdampak air limbah yang tercemar," katanya.

Misbah mengungkapkan, air sumurnya mulai terkena limbah sejak adanya proyek pembangunan saluran air.

"Kurang lebih 3 bulan air sumur miliknya, berubah menjadi warna merah kehitaman," ungkapnya.

Sebelum adanya bantuan, ia memenuhi kebutuhan air sehari-hari seperti mencuci, minum, dan memasak harus membeli air isi ulang galon.

Isi ulang air per galon itu Rp 5 ribu, sedangkan yang dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari itu 4 galon.

"Bantuan air bersih ini akan digunakan untuk minum dan memasak. Sedangkan air untuk mandi, saya masih pakai air sumur yang tercemar limbah. Caranya, air sumur saya tampung dulu di ember.

Lalu, didiamkan beberapa saat biar warnanya mengendap. Lalu saya ambil dengan hati-hati yang atas," imbuhnya.

Diberitakan sebelumnya, warga Kelurahan Simbangkulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, resah karena sumur mereka tercemar air limbah.

Misbahudin (40) warga RT 15 RW 5, Simbangkulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan mengatakan, air sumurnya mulai terkena limbah sejak adanya proyek pembangunan saluran air.

"Kurang lebih 3 bulan air sumur miliknya, berubah menjadi warna merah kehitaman," kata Misbahudin (40) warga RT 15 RW 5, Jum'at (4/3/2022).

Misbahudin mengungkapkan, penyebab dari hal itu karena adanya proyek saluran air yang ada di desa tersebut.

"Semenjak ada proyek pembangunan di desa, limbah batik masuk ke sumur. Sebelumnya, tidak pernah terjadi air sumur berubah menjadi berwarna," ungkapnya.

Kemudian, saat disingung apakah tidak gatal mandi menggunakan air tercemar limbah, ia mengaku badannya sudah gatal-gatal sehabis mandi air hitam tersebut.

"Kalau masalah gatal, habis mandi menggunakan air keruh ya memang terasa gatal, tapi bagaimana lagi karena adanya air seperti itu," imbuhnya.

Ia mengaku sudah melaporkan ke staf kelurahan terkait, dampak sumur yang kena dampak pembangunan proyek tersebut.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Saifuddin (47) warga RT 15 RW 5, Simbangkulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, bahwa ia harus mengungsi mandi di rumah mertua atau kerabatnya semenjak airnya sumurnya berubah menjadi warna hitam.

"Saya sama kayak pak Misbah 3 bulan merasakan hal yang serupa. Minum dan masak kami pakai air galon, kalau mandi saya dan istri ngungsi di mertua atau kerabat," kata Saifuddin (47) warga RT 15 RW 5,

Mereka menduga, penyebab kasus ini karena adanya proyek pembangunan saluran air di Simbang Kulon. Proyek yang tak kunjung rampung membuat saluran-saluran air tak lancar.

"Perubahan yang paling besar yang yaitu air, air sumur yang merupakan sumber kehidupan saya itu kondisinya kini menghitam. Jadi, untuk mandi dan mencuci tidak bisa," ucapnya.

Menurutnya, sumur milik warga itu tercemar sejak ada proyek saluran air. Sebelum ada proyek, tidak pernah terjadi.

"Dulunya walaupun ada produksi batik airnya lancar ndak masalah. Semenjak salurannya mampet, airnya tergenang, akhirnya masuk ke sumur-sumur warga yang di sebelah selokan itu," ujarnya.

Lalu, saat disinggung apakah tidak menggunakan sumber air dari Pamsimas pihaknya menjelaskan, Pamsimas yang ada di kelurahan sudah macet dan tidak tahu kenapa air Pamsimas macet.

"Selama ini saya bingung meh mengadu kemana? Kebetulan, ada teman yang saya tunjukkan rumah saya airnya berwarna hitam dan kok dibuat lagu jadi ramai di grup WA."

"Terus ditambah, teman-teman wartawan datang ke sini saya kaget dan saya tidak berani lapor kemana karena tidak tahu lapor dimana," imbuhnya.

Kasus hal yang sama juga terjadi di RT 20 RW 7. Ketua RT 20 Ali Syukron (42) mengatakan, belakangan beberapa warganya mengadu karena air di rumah-rumah mereka jadi berwarna.

"Satu-dua orang yang mengadu ke saya. Tapi tidak tahu yang lain merasakan juga atau tidak."

"Saya sebagai ketua RT, merasa terpanggil karena yang terdampak adalah warga saya. Saya sudah antisipasi untuk cari solusinya agar tak terdampak.

Saluran-saluran yang masih tanah, kalau kena air limbah itu kan meresap. Saya sudah usahakan untuk tutup dengan dicor," katanya

Ali mengungkapkan, bahwa proyek itu adalah proyek saluran air atau skala kawasan.

Menurutnya, pada rapat proyek tersebut targetnya 11 bulan.

Harusnya Februari akhir sudah jadi, tapi ini belum jadi. Imbas proyek ini limbah batik masuk sumur warga.

"Saya pernah mengikuti rapat terkait proyek saluran air di Simbang Kulon atau tepatnya di gang 1,2,3, dan 4.

Proyek ini, yakni membuat dan memisahkan saluran limbah dan selokan rumah tangga," ungkapnya.

Menurutnya, di RT 20 diperkirakan ada belasan warga yang sumurnya terdampak. Namun, tidak semua warga terdampak lapor ke dirinya.

"Warga kan tidak tahu juga, mau lapor ke mana.

Warga ya pasrah mas, Namanya juga sama-sama butuh. Saya sudah lapor ke kelurahan. Diminta untuk sabar karena proyek masih berjalan," ujarnya.

Terpisah Sekda Kabupaten Pekalongan, Yulian Akbar mengatakan, proyek itu adalah program Kotaku dari pemerintah pusat. Sehingga persoalan yang muncul adalah tanggung jawab bersama pemerintah pusat dan daerah yang harus dipecahkan.

"Harus kita pecahkan permasalahan ini. Kita akan undang satkernya, Balai Prasarana Pemukiman Wilayah di PU Jateng, pelaksananya PT Haka, serta konsultan teknisnya. Kita akan undang," katanya.

Pihaknya menjelaskan, proyek itu selesai hingga bulan Maret 2022. Namun, untuk kewenangan perpanjangan proyek ada di pusat. Kemungkinan akan diperpanjang sampai April atau Mei 2022.

"Untuk penanganan darurat warga yang kesulitan air bersih akibat sumurnya tercemar, Sekda menegaskan hari itu juga akan koordinasi dengan BPBD dan PDAM untuk membantu dropping air bersih di wilayah terdampak," tambahnya. (Dro)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved