Jumat, 12 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Liputan Khusus

Liputan Khusus: Cari Alternatif Produsen Kedelai

NEGARA produsen kedelai terbesar di dunia yakni Brasil. Kemudian disusul Amerika Serikat, Argentina, China, dan India. Namun sebagian besar impor Indo

Tayang:
Penulis: faisal affan | Editor: m nur huda
tribunjateng/cetak
News Analisis oleh Wahyu Widodo Ekonom Undip 

Analysis Pakar Ekonomi Undip: Wahyu Widodo

TRIBUNJATENG.COM - NEGARA produsen kedelai terbesar di dunia yakni Brasil. Kemudian disusul Amerika Serikat, Argentina, China, dan India. Namun sebagian besar impor Indonesia berasal dari Amerika Serikat.

Sejak tahun 90-an atau setelah mengalami krisis ekonomi tahun 1998, Indonesia mulai bergantung pada impor kedelai Amerika Serikat. Hampir setiap tahun ada kenaikan kedelai, tidak terlepas dari pengaruh negara produsennya itu sendiri.

Penyebab utama naiknya harga kedelai tahun ini dikarenakan ada gangguan cuaca di Amerika Serikat. Itu yang menyebabkan produksi kedelai tidak sebanyak sebelumnya. Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi yakni terganggunya rantai pasokan akibat pandemi covid-19.

Baca juga: Liputan Khusus: Strategi UMKM Tempe Tahu Jateng Hadapi Mahalnya Kedelai

Pandemi mempengaruhi distribusi komoditi di seluruh dunia. Termasuk kedelai juga terkena imbasnya. Maka untuk menyelesaikan masalah kurangnya pasokan dari negara pengimpor, pemerintah Indonesia harus segera melakukan langkah cepat.

Langkah cepat yang harus diambil yakni mencari negara produsen kedelai lainnya untuk memenuhi kebutuhan nasional. Namun, dengan catatan harus memiliki kualitas yang sama dengan kedelai Amerika Serikat.

Sebab, masyarakat Indonesia sangat stereotipe terhadap sesuatu. Produsen tahu tempe selama ini sudah terbiasa menggunakan kedelai putih. Mungkin jika diberi jenis kedelai lain akan sulit diterima.

Alasan pemerintah yang mengatakan jika kenaikan harga akibat dari negara China yang borong kedelai sebenarnya tidak tepat. Produksi kedelai Amerika Serikat, Brasil, dan Argentina cukup besar. Mau China borong berapapun harusnya tidak ada pengaruh. Termasuk perang Rusia - Ukraina juga tidak mempengaruhi pasokan kedelai Indonesia.

Dibandingkan dengan kedelai impor, kedelai domestik kualitasnya tidak kalah jauh. Namun ketika panen harganya tidak bisa bersaing dengan kedelai impor. Sehingga membuat petani enggan untuk menanam kedelai.

Selain itu, harga kedelai domestik tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan petani. Apalagi menanam kedelai tidak semudah menanam jagung atau padi. Butuh treatment khusus supaya bisa menghasilkan kedelai yang berkualitas.

Untuk bisa menaikkan produksi kedelai domestik perlu campur tangan pemerintah supaya masalah ini bisa selesai. Meskipun tidak menghentikan impor kedelai, tapi setidaknya ada pasokan kedelai lain yang bisa memenuhi kebutuhan nasional.

Masyarakat juga perlu diberikan pemahaman tidak selalu protein berasal dari kedelai. Supaya ketika tidak ada kedelai seolah-olah tidak bisa makan. Meskipun memang itu yang dianggap paling murah saat ini. (afn)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved