Berita Ekslusif
Liputan Khusus: Kedelai Lokal Cocok untuk Pembuatan Tahu
Kecilnya angka produksi kedelai lokal disebabkan oleh beberapa faktor. Satu di antaranya dari petani yang enggan menanam kedelai karena harganya jatuh
Penulis: faisal affan | Editor: m nur huda
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sekitar 86 persen kebutuhan kedelai dalam negeri masih dipasok dari impor.
Padahal, ketika terjadi sesuatu dari negara pemasok, Indonesia akan merasakan dampak yang cukup signifikan.
Contohnya seperti saat ini harga kedelai melambung tinggi hingga Rp 12 ribu per kilogram.
Produksi kedelai dalam negeri hanya mampu memenuhi 14 persen dari total kebutuhan di Indonesia.
Kecilnya angka produksi kedelai lokal disebabkan oleh beberapa faktor. Satu di antaranya dari petani yang enggan menanam kedelai karena harganya jatuh saat panen.
Baca juga: Liputan Khusus: Strategi UMKM Tempe Tahu Jateng Hadapi Mahalnya Kedelai
Baca juga: Liputan Khusus: Cari Alternatif Produsen Kedelai
Kabid Tanaman Pangan Distanbun Jateng, Edi Darmanto, mengatakan para petani di Indonesia enggan menanam kedelai karena harganya yang cukup kompetitif dengan komoditas kacang hijau. Selain itu, harga kedelai impor juga lebih terjangkau dibandingkan dengan kedelai lokal.
"Biaya yang dikeluarkan oleh petani untuk menanam kedelai tidak sebanding dengan harga jualnya. Maka kedelai kurang diminati petani di Indonesia. Padahal jika dari sisi kualitas tidak jauh berbeda dengan kedelai impor," terangnya.
Selain itu, menurut beberapa pengrajin tahu tempe, kedelai lokal cenderung basah dan tidak bisa lama disimpan. Sehingga ketika masuk ke gudang harus segera habis untuk diproduksi jadi tahu maupun tempe.
Tak hanya itu saja, kedelai lokal juga cenderung cocok dijadikan tahu dibandingkan dengan tempe. Sebab, kedelai lokal menghasilkan sari pati yang lembut dan padat.
"Sedangkan tempe lebih membutuhkan kedelai yang berukuran besar, karena lebih babar. Tapi pengrajin tempe jika menggunakan kedelai impor biasa dicampur dengan kedelai lokal. Supaya warna tempe yang dihasilkan bisa kuning cerah," bebernya.
"Untuk varietas Grobogan dan Biosoy ukurannya cenderung lebih besar dibandingkan varietas lain. Bobotnya per 100 biji mencapai 22 gram. Tidak seragamnya biji kedelai biasanya ada di tingkat pengepul. Karena kedelai kecil dioplos dengan kedelai besar supaya laku. Padahal permintaan produsen tahu tempe di Indonesia paling banyak menggunakan ukuran kedelai yang besar," paparnya.
Ada beberapa daerah di Jawa Tengah yang saat ini petaninya masih menanam kedelai, meskipun hanya satu tahun sekali. Di antaranya, Kabupaten Grobogan, Wonogiri, Sragen, Blora, Boyolali, Pati, Brebes, Cilacap, Klaten, Sukoharjo, Purworejo, Kebumen, Rembang dan Kendal.
"Kedelai cocok hidup di tanah yang subur, gembur dan kaya akan humus atau bahan organik. Sedangkan musim tanam yang cocok untuk tanaman kedelai jika di lahan sawah umumnya pada musim kemarau setelah tanam padi, untuk lahan kering (tegalan) umumnya pada musim penghujan," tambahnya.
Umumnya kedelai lokal akan panen dalam jangka waktu 70 hingga 90 hari. Di Jawa Tengah sendiri berdasarkan data yang disampaikan Edi, per tahun bisa produksi hingga 84.320 ton.
Menurut Edi, kedelai lokal sebenarnya lebih menyehatkan karena bukan berasal dari benih transgenik.
Sebenarnya Indonesia bisa saja tidak bergantung pada kedelai impor untuk kebutuhan nasional. Namun itu perlu kerja keras yang cukup sistematis dari hulu hingga hilir dan campur tangan semua pihak.
"Indonesia bisa swasembada kedelai asal petani mau tanam. Pemerintah dan petani serta stakeholders harus ada komitmen untuk itu," terangnya. (afn-bersambung)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/produsen-tahu-menjerit1.jpg)