Sejarah Mbah Kalibening Banyumas, Musafir Sakti Sebelum Wali Songo, Wariskan Sumur Pasucen

Makam Mbah Kalibening menjadi wisata religi yang sering dikunjungi oleh Peziarah baik dari wilayah Banyumas maupun luar kota.

Penulis: Imah Masitoh | Editor: Daniel Ari Purnomo
Tribun Jateng/ Imah Masitoh
Makam Mbah Kalibening di Desa Dawuhan, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas tampak dari dalam pintu gerbang menuju keluar, Selasa (8/3/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS – Makam Mbah Kalibening menjadi wisata religi yang sering dikunjungi oleh Peziarah baik dari wilayah Banyumas maupun luar kota. 

Berada di Desa Dawuhan, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas berjarak sekitar 5 kilometer dari pusat Banyumas lama. 

Makam Mbah Kalibening berada di perbukitan sebelah selatan dari Sungai Serayu.

Letaknya di depan pertigaan jalan dengan gerbang bertuliskan Makam Mbah Kalibening. 

Untuk sampai pada area makam Mbah Kalibening ini harus berjalan menanjaki tangga yang lumayan tinggi dari gerbang masuk makam. 

Suasana begitu sunyi di perbukitan yang masih rimbun pepohonan.

Hanya ada beberapa rumah penduduk yang berada di area makam Mbah Kalibening

Informasi yang Tribunjateng.com dapatkan dari Juru Kuncen, Mbah Kalibening sendiri merupakan seorang musafir yang datang dari Persia sekitar tahun 1270 sampai 1300-an, bernama asli Syekh Maulana Rumaini. 

Beliau menjadi tokoh yang mensyiarkan agama Islam sebelum zaman Walisongo atau era zaman antara Singasari ke Majapahit.

Di sekitar area makam Mbah Kalibening itu sendiri terdapat sebuah sumur yang disebut Sumur Pasucen. 

Dalam ceritanya sumur itu terbentuk dari tongkat Mbah Kalibening yang di tanjabkan pada bebatuan ketika Mbah Kalibening sampai di daerah Dawuhan pada waktu sore menjelang Ashar. 

Pada saat itu sedang terjadi kemarau di daerah ini sementara Mbah Kalibening akan berwudhu untuk melaksanakan salat. 

Dari tongkat yang ditanjabkannya itulah  keluar mata air dari bebatuan yang disebut air Pasucen.

Sumur Kalibening pernah dilakukan penggalian oleh Juru Kuncen yang pertama yakni Mbah Ali Besari hingga kedalaman 5 meter dengan lebar 3 meter sehingga berbentuk lingkaran seperi sumur-sumur pada umumnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved