Kementerian BUMN: Sudah Saatnya Harga Pertamax Dihitung Ulang
harga keekonomian Pertamax saat ini sudah mencapai Rp 14.500/liter. Tapi, Pertamina masih menjualnya Rp 9.000 per liter.
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Tren harga minyak mentah dunia yang berada di atas level 110 dollar AS/barel dan harga minyak mentah Indonesia atau ICP sebesar 114 dollar AS/barel berdampak pada harga produk BBM.
Kementerian ESDM menyebut, melambungnya harga minyak mentah membuat harga keekonomian BBM non-subsidi dengan kadar oktan (RON) 92 atau Pertamax mencapai sekitar Rp 14.500/liter, sementara harganya saat ini masih di kisaran Rp 9.000/liter.
Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga, berdasarkan informasi Kementerian ESDM, harga keekonomian Pertamax saat ini sudah mencapai Rp 14.500/liter. Tapi, Pertamina masih menjualnya Rp 9.000 per liter.
Dengan harga jual saat ini, secara tidak langsung Pertamina memberi subsidi Pertamax. Ini jelas artinya, Pertamina juga menyubsidi pemilik mobil mewah yang memakai Pertamax.
"Sudah saatnya dihitung ulang, berapa sebenarnya harga yang layak diberikan Pertamina untuk Pertamax yang dikonsumsi mobil-mobil mewah," ujarnya, kepada awak media, Selasa (22/3).
Arya menyatakan, kenaikan harga Pertamax juga sebagai upaya menciptakan keadilan bagi semua pihak. Selain itu, saat ini harga jual BBM sekelas Pertamax di Asia Tenggara juga mengalami kenaikan.
"Jadi saat ini, cukuplah, harusnya kita mulai menghitung ulang, jangan sampai Pertamina menyubsidi juga mobil-mobil mewah yang memanfaatkan Pertamax," imbuhnya.
Mengutip Globalpetrolprices 14 Maret 2022, harga BBM nonsubsidi di Indonesia paling murah di Asia Tenggara. Di Singapura misalnya, harga BBM nonsubsidi dengan kadar oktan tinggi sebesar Rp 30.800/liter, Thailand Rp 20.300/liter, Laos Rp 23.300/liter, Filipina Rp 18.900/liter, Vietnam Rp 19.000/liter, Kamboja Rp 16.600/liter, dan Myanmar Rp 16.600/liter.
Adapun, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sempat memberikan sinyal kenaikan harga Pertamax, menyusul lonjakan harga minyak mentah dunia.
"Pertamax bisa saja terkena imbas kenaikan harga minyak dunia, karena termasuk BBM nonsubsidi, dan dikonsumsi masyarakat golongan atas," tuturnya, dalam diskusi virtual, Selasa (22/3).
Sebelumnya, Pjs Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Irto Ginting menyebutkan, pihaknya masih terus mengkaji perubahan harga Pertamax. "Masih kami review dan koordinasi dengan stakeholder," tukasnya, Senin (21/3). (Tribunnews)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/pertamax-plusss_20150514_113555.jpg)